Mencintai dalam diam adalah perak; kesempurnaan jiwa
-Hillary Reinhart-
saya mengutip kalimat yang tertulis pada blog seorang yang saya kenal. saya sejujurnya menyukai pemahamannya. Radikal. entahlah. Dia mempunyai perspektif yang selalu berbeda. Batin saya pun sebenarnya agak sejalan dengan tindak-tanduknya tapi respon saya selalu terlihat menyalahinya.
Tulisan ini dibuat bukan untuk memujanya. saya memuja perspektifnya yang radikal dan baru. pemujaan seperti itu akan saya simpan saja untuk saya nikmati. lagipula, dia bukan satu-satunya sosok yang saya puja.
Benang merah antara tulisan pada sesi ini dan Reinhart hanya sebatas kutipan di awal. bercerita mengenai hubungan saya dengan lawan jenis. sebenarnya standar saja; setiap orang punya cerita masing-masing mengenai hubungan lawan jenis.
Saya pun bukan sosok alim yang dapat disimpulkan dengan kerudung yang telah saya gunakan. bahkan jika ada penetapan kerudung haruslah sejalan dengan diri saya; saya pastilah bukan orang yang pantas memakai kerudung. saya sudah seharusnya menanggalkan kerudung itu.
Yup, saya memang pelacur.
Tapi apakah saya tidak dapat kembali kepada fitrah jiwa saya?
jika jiwa saya mengatakan membutuhkan kesejukan. sedikit membantulah peranan kerudung dalam diri saya.
Saya akan diam jika dibilang pelacur; karena kalian bukanlah Tuhan. Diam saya akan mengartikan bahwa saya sudah penuh dengan makian itu. Saya sudah memaki diri saya sendiri sampai-sampai tidak ada lagi ruang untuk lingkungan melakukanya lagi.
Beruntunglah, bagi teman-teman yang menjaga dirinya dengan satu sosok saja.
keberuntungan yang selalu aku dambakan sejak aku memasuki puberitas. keberuntungan yang tidak pernah aku bisa dapatkan.
Yap, kita ga akan tau apa yang akan terjadi di waktu selanjutnya; karena manusia adalah sebuah ikatan berbasis waktu.
Seorang senior saya akan menikah dalam waktu 2 minggu setelah tulisan ini dibuat; tanpa kata; hanya keterkejutan dan bahagia. keterkejutan karena dia sosok yang punya banyak rekan cowok dan tidak satupun terlihat menarik di mata senior saya. Itu masa lalu. tidak menjalin hubungan; kembali pulang sudah dengan surat undangan. Ini masa depannya masa lalu bukan?
Di dalam koran, ada pasangan yang harusnya menikah. karena pertengkaran di pra pernikahan di hari pernikahannya; sang mempelai wanita menghunuskan pisau ke mempelai pria. Tidak ada pernikahan untuk keduanya karena sang mempelai pria meninggal di tempat.
Di dalam keluargaku adalah sebuah contoh nyata yang amat jelas. Ibu dan bapak berpisah setelah menghasilkan kehidupan menyenangkan kepada saya dan kakak saya. Berpisah dan Bersitegang. Silent war. Cinta yang bertahan hanya cinta kepada saya dan kakak saya; tidak menyisakan cinta yang dapat berkembang diantara keduanya. meskipun saya masih melihat ada sebuah kecintaan di masa lalu dalam ingatan mereka. keduanya bungkam; tetapi mata dan darah tidak pernah berbohong. Mereka pun tidak berbohong pada diri mereka bahwa mereka memang saling mencintai dari sisi-sisi kenangan mereka; mereka membuktikannya dengan pemberian cinta kepada saya dan kakak saya. Kami berdua adalah buah cinta mereka; dan mereka menjaga kami; mereka sedang menjaga cinta masa lalu mereka.
Mereka bukan pembohong. saya percaya itu.
Ibu tidak membohongi diri bahwa Ibu memerlukan labuan hati. Beliau menemukannya. Cinta sempurna akhirnya ditemukan dalam pernikahan kedua beliau.
Saya selalu berdoa hal serupa untuk Bapak.
Masih banyak contoh dalam kasus hubungan lawan jenis. Saya yang selalu menjadi pendengar, dan penyaksi banyak pasangan, otomatis akan menjadi pengamat. merefleksikan kedalam diri sendiri. Refleksi tersebut menguatkan bahwa "kita ga akan tahu masa depan. ada banyak kehendak di luar kuasa manusia. tapi selalu ada keadilan dalam aksi-reaksi dalam hukum Tuhan"
Kita bisa memilih siapa yang akan kita nikahi; tetapi tidak bisa memilih siapa yang kita cintai-asad haidar-
setidaknya saya mengenal kutipan itu dari Asad. dia sendiri bersikeras bahwa dirinya akan menikahi orang yang dia cintai. Meski dia sudah mendapat contoh kenyataan dari sejarah pamannya.
Saat saya memasuki masa pubertas, saya selalu berkeinginan cinta pertama saya haruslah cinta terakhir saya. Hal ini yang membuat saya sok jual mahal. padahal penampilan saya selalu lah identik dengan kata 'freak'. karena saya jujur dengan diri saya; maka saya mengikuti kemauan saya. Aku menyukai pada akhirnya dengan seorang senior SMP saya. Hanya dia dan cuma dia sosok yang menjadi fokus saya. Sampai akhirnya hubungan saya memburuk dengan Psy-war yang saya mulai. alasannya? sepele, saya tersinggung bahwa saya menjadi bahan taruhan si senior dari gosipan teman segengnya.
Remaja. penuh api yang tidak terkontrol. Saya menggambarkan diri saya sendiri di masa itu. Entahlah, saya ingin berlaku jahat dengan cowo sejak kejadian itu. Saya melakukannya. Berhasil jika dilihat dalam perspektif seperti itu.
Di penghujung dunia SMP, sebuah jeda yang amat lama yang biasa digunakan para pencari ilmu formal sebagai waktu mencari SMA favorit. Saya berleha menghabiskan waktu, seperti tidak ada keinginan bersekolah di SMA favorit. Saya saat itu sedang menjalin hubungan dengan seorang lelaki di sebuah kelompok kebudayaan. Membantu dia dalam meraih prestasinya; tidak memikirkan prestasi saya sendiri. itulah saya saat itu. Itu adalah hubungan serius pertama saya.
Bagaimana dengan senior SMP saya?
Sampai saya menginjak kuliah di tahun kedua, saya mempunyai 3 hati dan 1 dendam.
Sejujurnya, saya masih mencintai senior SMP saya. saya mencintai dalam diam. melihat dia bertunangan. melihat dia berpelukan dengan wanita baik. menyenangkan tetapi menyakitkan karena saya masih mempunyai kenangan mengenai tanggal jadian, tanggal kencan pertama, tanggal perjalanan, aroma keringat basket, aroma parfum pagi, jejak hobiku yang ia tekuni, tanggal lahir, bola basket, ukuran baju, dan ukuran sepatu.
But, What should I do? nothing, nothing to do.
Saya pun tahu, itu adalah penghianatan bagi pasangan serius saya saat itu. Tapi kami tidak akan serius jika tidak seperti itu. Itulah. Aura aneh yang mengikatkan aku dengannya. Shit. Harusnya aku sudah menjadi Nyonya dari namanya. Semua sudah terencana matang. Semua sudah saling percaya. sebuah kepercayaan buta dan aneh. Saya "berkelana" dan dia menunggu sebari mematangkan segalanya. dan...
kita tidak tahu apa yang akan terjadi di detik setelahnya.
Bahkan tubuhnya pun tidak pernah ditemukan. segala jejak dengan nama belakangnya menghilang.
Okay, aku tidak ingin lagi memposisikan diri sebagai orang paling merana. banyak orang di dunia yang saya pijak memiliki cerita seperti itu.
Pada tahun pertama kuliah saya adalah masa topeng saya. bertopeng karena bingung harus bangkit seperti apa. Saya menemukan seorang lelaki ideal dengan kriteria dewasa saya. Firasat. ya, firasat, saya dapat firasat seperti sudah dekat dengan "the real only one". Saya ternyata bukanlah pengejar pasangan yang baik. Saya tidak mendapatkannya sama sekali; mengharapkan matahari ternyata senter redup yang saya dapatkan. hahahaha.
dari situlah mulai kegagalan dan kegagalan menjadi sesuatu yang terpaksa menjadi sesuatu menyenangkan. timbulnya dendam tunggal pun terjadi pada masa seperti itu. Masa-masa Terhina, Dihina, dan Paling hina. sampai bahkan mata pun sudah membengkak 3 kali ukuran normal; mulut bohong terus berkata "oh iya? aku baik-baik aja kok"; getaran tubuh ditakuti oleh segala permainan bayangan.
kita tidak tahu apa yang akan terjadi di detik setelahnya.
Dulu waktu saya masih SD, saya seperti mendapat inspirasi bahwa saya akan sangat menyukai seorang singa. Singa. Saya menyukai Simba. hahaha. Singa itu seperti sosok pemberani, bijaksana, Anggun, Cerdas, tegas, penyayang, pengasih, dan Lembut. seorang pemimpin ideal. kurasa semua wanita ingin juga memiliki pasangan seperti itu. Sosok lawan jenis yang saya akhiri dengan baik, selalu mempunyai sebagian besar dari singa.
Pada perkuliahan di tahun kedua; saya seperti mendapat jawaban bahwa sang singa sudah di dekat saya. Singa itu di depan saya. Singa itu sudah mendekap saya sejak lama. itulah firasat "the real only one". firasat itu semakin kuat dan semakin dijelaskan dengan banyak hal di tahun kedua perkuliahan. tahun kedua akhir, saya berhasil melepaskan 3 cinta; dan menitipkan 1 dendam.
Ya, aku sudah menemukan singaku. dia benar-benar seorang singa. Dia masih singa kecil. tahu apa bedanya singa kecil dan singa dewasa? Singa dewasa adalah singa yang saya jabarkan; singa kecil adalah singa egois, punya banyak wawasan, tidak terarah, dimandikan dan dijaga keluarga, berenergi lebih, dan pemarah.
tapi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di detik setelahnya.
Segala persiapan, kesamaan visi, kesamaan inner, kesamaan lingkungan tidak akan bisa menjamin sesuatu di detik setelah ini. Jika harus mendapatkan anti materi, itu sebuah pilihan yang harus dikembalikan pertanyaannya kepada diri sendiri dan pencipta.
Pernah mendengar banyak versi dari sejarah Joan of arc?
Banyak versi mengenai biografi Joan of arc. Bagi saya, ada banyak peran dalam kehidupan ini. Ada yang berperan dalam pendukung alam segi ekonomi, birokrasi, kesehatan, pengetahun, aplikasi sumber daya alam, bahkan penjaga irama detak semesta. Ayolah, terbuka dong fikiran kalian. Kalian bukan Tuhan yang punya otoritas pemberi kebenaran, pemberi kesalahan, pencap kekafiran. Kalian yang memahami peran itu, pastilah memahami bahwa segalanya itu dari alam bumi. Satu-satunya penjaga seisi langit dan bumi adalah yang kuasa.
Joan of arc salah seorang yang mendapat anugrah dalam memahami peran kehidupannya. Sufi-sufi dalam islam pun juga mengetahui peran kehidupannya. Budha pun begitu. Orang-orang yang bergerak dan hidup dengan panggilan jiwanya adalah orang-orang yang mengetahui peran kehidupannya. siapapun itu. Karena mereka akan mengembalikan segalanya kepada sesuatu yang tidak ada (saya lebih menyukai pemakaian kalimat : mengembalikan kepada diri sendiri dan pencipta)
Meski saya tidak tahu apa yang akan terjadi di detik setelah ini, saya mempercayai detik setelah ini tidak lah mudah. Kehidupan selalu memberikan keadilan paling mutlak sebagai hasil aksi-reaksi alam.
Jika, kali ketiga ini sang singa bukanlah paruh-kehidupan diberikan kepada saya; saya percaya bahwa pencipta sedang menyiapkan hal besar sebagai peran saya.
"Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujiandi jalan da'wah. Jika ujian yang diberikan oleh Allah hanya yang mudah-mudah saja, tentu kita tidak akan mendapatkan ganjaran yang hebat; di situ lah letak sebuah hikmahnya"-Rahmat Abdullah bin Abdullah. Sang Murabbi-


No comments:
Post a Comment