Welcome to the jungle
Hari ini adalah hari keempat paska saya melakukan sidang. Hari keempat saya merasakan kehampaan rasa. Awalnya saya mengira bahwa ini pertama kalinya saya merasa jenis kehampaan ini. Perasaan tanpa tujuan. Hem, ternyata tidak. Saya ingat kemarin bahwa saya pernah merasakannya. Saat saya bertugas di semarang. Tepatnya bulan penuh keajaiban di dunia saya, April 2014.
Izinkan saya menjabarkan keadaan itu.
Perasaan itu dimulai ketika saya sedang totalitas dalam misi, paska kematian papa. Hem, tidak perlu saya jelaskan rasa kehilangan karena itu adalah urusan saya dengan diri saya saja. Mengalihkan perhatian dari berkabung dan kejenuhan membuat saya penggila kerja. Misi tersebut termasuk misi yang mewah dengan pemasukan dana turah-turahan. Anggota tim bekerja di muka publik, dan saya tetap di belakang layar. Tugas saya sudah selesai dibandingkan anggota tim lain. Dalam satu hari karena ada beberapa status tertentu dari ketua tim, saya terpaksa menikmati fasilitas hotel dari dalam kamar. Di detik-detik itulah, saya terjebak dengan kenyamanan dan kondisi tanpa lagi tujuan hidup. Pernah saya menuliskannya dalam blog ini, berjudul AThousand Question #16: 'apakah anda sudah di puncak? Lalu apa?' Sebuah tulisan dari kegelisahan saya memilih sebuah puncak yang salah.
Beruntunglah saya membaca karya Sapardi D.D: pada suatu hari ini
"Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi dalam bait bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri // Pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagu tapi di antara larik larik sajak ini kau tetap kusiasati // Pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi namun di sela sela huruf sajak ini kau takkan letih letihnya kucari". Tulisan yang mengingatkan saya akan kekuatan sebuah tulisan. Saya pun diingatkan dalam tulisan saya sendiri dalam selang 4 bulan.
Dari sinilah, saya merefleksikan diri: saya telah salah memilih puncak. Keadaan memaksa saya ingin menunjuk puncak kelulusan sebagai puncak kecil. Tetapi saya terlalu lemah untuk hanya fokus dengan puncak tersebut. Saat inu, modal saya hanyalah sebuah rasa tidak puas dan saya belum menemukan sebuah peta jalur di ujung puncak. Seperti diperizinkan bernafas sesaat dari perjalanan panjang.
Memang sih, setelah hari ini berakhir saya masih harus mengurus banyak hal. Revisi, penjilidan, surat bebas lab, surat bebas referensi, surat bebas perpus manapun, dan adminitrasi lainnya. Tetapi sesungguhnya saya seakan berhenti dipangkal sabana luas. Hanya kedamaian, ketenangan, dan keindahan yang didapat mata dan otot.
Ketahuilah, saya telah telat dari targetan waktu saya. 3 bulan yang mengartikan tahunan.
Saya telah menyisihkan kesibukan saya perlahan-lahan demi mencapai puncak hampa ini. Itulah kesalahan terbesar saya. Saya membiarkan nafsu saya berfikir seperti analogi dalam postigan A Thousand Question #15: 'ketika harus memilih iman dan logika, mana pilihanmu?'.
Astagfirullah, Tuhan berkatilah, lindungilah, dan bimbinglah diri hamba.
Apakah kehampaan ini akan terus berlanjut tanpa ujung?
Mungkinkah Tuhan dan semesta memberikan saya kesempatan lebih untuk merenungi cinta alam, cinta semesta, dan cinta sosial agar saya dapat bersyukur dan berbagi keindahan dalam bumi Tuhan?
Apapun kuasaMU, Tuhan, saya bersujud dan berikhtiar di atas bumi dan juga di dalam tatanan semesta Tuhan.

No comments:
Post a Comment