Post ini akan berisi mengenai kritikan terhadap proses yang terjadi dalam hidup. lebih tepat mengenai gejolak perasaan yang terpendam dan berakibat dengan suatu prilaku kelanjutan yang bersifat negatif.
Pada awalnya mungkin ini sesuatu yang biasa, atau predikasi yang akhirnya sering terjadi dan itu dibiasakan dan menjadi kejadian yang biasa bagi orang yang mendengar, bukan orang yang merasakan. boleh saja bilang itu hal biasa oleh sang subjek perasa, tapi coba lihatlah berapa waktu dari bom waktu yang berisi material "predikasi biasa" itu bertahan dengan tidak meledak.
Mungkin pendewasaan diri dalam subjek yang merasa dan dirasa akan sangat dibutuhkan dalam masalah ini. Pendewasaan loh; bukan sekedar memendam yang negatif dan mencoba melupakan (inilah sang bom waktu) atau bertindak pengecut dengan penyerangan massal.
Saat menuliskan tulisan ini, saya teringat akan kejadian di depan mata saya beberapa hari lalu. dimana di suatu minggu sore [20/11/2012; 16:00 waktu lokal] yang tenang, indah, damai, dan dingin karena hujan di kota Jogja yang terkenal adem-ayem, saya dan teman saya sedang menyantap somay telkom. suasana tersebut langsung diporak-porandakan dengan sebuah scene anak-anak SMA bermotor menyerang satu anak SMA cowo memakai co-card di lehernya. manusia-manusia terhormat yang biadap di motor tersebut menyerang satu orang tersebut, helm milik anak SMA pemakai co-card [yg saya lihat habis memesan somay juga] dicopot paksa dan dibuang, kemudian pukulan dengan benda keras seperti stang sepeda, besi, batu, helm, dan kerikil terhujam ke satu orang cowo ber co-card tersebut. terakhir, adegan yang bisa saya lihat dari seberang trotoar jalanan [jarak kira2 4 meter] tempat saya berlesehan, saya melihat ada sebuah logam berwarna putih, tipis, berkilat, agak lebar di badan, dan meruncing diujung [kalaulah itu sebuah pedang, aku sangat yakin bahwa itu sebuah pedang tiruan yang kualitasnya buruk dengan nasib yang buruk untuk diciptakan] diayunkan ke arah kerumunan [saat itu saya tidak lagi melihat sosok anak SMA ber co-card karena sudah ditutupi banyak tubuh anak-anak SMA yang biadap] dan suara teriakan kesakitan. kejadian tersebut berlangsung hanya beberapa saat tidak sampai 5 menit; serangan biadap banyak orang bersenjata terhadap satu orang tidak bersenjata yang habis memesan somay berakhir dengan begitu saja meninggalkan anak SMA ber co-card dengan tangan, celana, baju, pelipis, tulang pipi yang berdarah. tidak hanya itu, darahnya telah menetes di jalanan aspal.
lantas? apa yang kali ini ingin saya komentarin?
saya hanya menceritakan sebuah kejadian nyata yang bergerak di depan raga saya dan tertangkap oleh mata saya dan tersimpan di memori otak saya. tapi bukan itu yang ingin saya ungkapkan dalam post ini. mari asumsikan untaian pengelihatan ini sebagai satu semesta holistic jenis A.
kemudian coba lagi melihat sebuah kejadian dimana ada seorang gadis yang sedang ingin menyebrang ke sisi kanan jalan, dan dia sedang berhenti merapat di garis marka putih yang putus-putus menunggu kendaraan dari sisi kanan kosong. disaat sedang menunggu lama kendaraan tiba-tiba ada ibu paruh baya berpakaian safari coklat dan berplat motor daerah lokal menabrak gadis tersebut. saking kagetnya, yang meminta maaf pertama kalinya adalah sang gadis. sang gadis meminta maaf sampbil menolong motor sang ibu safari lalu motornya. Gadis tersebut lupa bahwa ia telah terseret oleh motor sang Ibu safari dan tangannya telah berdarah.
okay, cerita ini kita akhiri disini. mari kita labelkan untaian kejadian tersebut adalah semesta holistic jenis B.
Ada lagi sebuah cerita yang lebih kecil jenisnya dalam postingan ini, tetapi mempunyai efek yang sama besarnya dengan jenis semesta holistic lainnya. dimana di dalam sebuah perkenalan kelas olahraga, sang guru olahraga memberikan kesan pertama bahwa dirinya adalah 'manusia bertangan dingin', mempunyai banyak aturan. kemudian di dalam kelasnya, ada satu perempuan yang sedang mendengarkan dengan seksama. tetapi dia memang punya bawaan wajah dari lahir sebuah gesture anggun yang dinyatakan oleh beberapa orang yang tidak memahami adalah sebuah kesombongan. di penghujung pemberian aturan oleh sang guru tersebut, guru laki-laki berbadan kekar yang dengan identitasnya sebagai guru olahraga sekaligus pelatih sebuah klub cabang olahraga tiba-tiba saja menampar anak perempuan bergesture anggun tersebut; dengan alibi 'muka anda nyolot'
akhir cerita, kita rangkumkan sebagai untaian kejadian ini adalah semesta holistic jenis C.
Lalu biarkan saya mengutarakan inti dari postingan ini.
Keyword yang ingin saya buat untuk postingan ini adalah Dendam, normalitas, norma, dan dimensi.
dimulai dengan membahas semua jenis semesta holistic yang dituliskan pada paragaf-paragraf di atas. kita hanya tahu informasi sebuah kejadian kecil diwaktu puncak tragedi. tapi kita tidak tahu bagaimana kejadian sub-klimaks dan anti-klimaks ataupun post-klimaksnya. mari coba menerka seperti sebuah pelajaran numerikal mengenai teorema Lax, analisis stabilitas pertubation dengan skenario gangguan. dimana kita berdiri pada multi dimensional yang paralel, detik kemarin adalah sebuah dimensi paralel yang sudah terkunci dan tidak pernah bisa diulangi kembali, dan detik ini membuat dunia paralel selanjutnya yang terkunci dan melahirkan paralel baru selanjutnya.
Pada jenis A, bagaimana kelanjutan si anak SMA ber co-card setelah memohon bantuan? mungkin ada yang menolong (i), mungkin juga tidak (ii). jika ada tidak ada yang menolong; oh kasihan sekali anak itu, padahal ada orang yang disekitarnya; tapi bisa aja, karena orang lain berfikir untuk menyelamatkan keluarganya dari senjata-senjata perusak, lalu anak tersebut? bisa jadi pergi (ii.a) atau tetap diteempat saking sakitnya (ii.b). kemudian, saat dia pergi? bisa jadi gerombolan itu kembali datang (ii.a.a) dan dia bisa kembali ke scene sebelumnya (ii.a) atau di scene lainnya (ii.b). dia memilih untuk diam ditempat, pilihannya hanya ada habis kehabisan darah dan mati (ini sebuah terminasi scene).
kemudian, jika ada orang yang menolong saat itu; dengan apa? motor (i.a) atau mobil (i.b). dengan motor, dia dan penolong akan sampai di rumah sakit (i.a.a), dan area pengeluar darah dirawat oleh tim medis (anggap saja sebuah terminasi scene). dengan motor, dia dan penolong ternyata bertemu kembali dengan manusia-manusia agung yang biadap dan yang terjadi dalam waktu setelahnya ternyata ada 2 korban disana dalam skenario ini (i.a.b) dan harus kembali dari awal lagi. dengan mobil, dia dan penolong sampai di tempat perawatan sebelum darahnya habis (i.b.a) kita terminasikan ini saja sebagai akhir scene. dengan mobil, dia kehabisan darah di jalan (i.b.b) kita terminasikan lagi karena jagoannya mati.
semuanya bisa menjadi sebuah terminasi scene. dengan ending yang kalau tidak mati, pasti hidup dengan syarat. yang entah syaratnya tuh apa. bisa jadi dia tetap mati (m), atau hidup (h). option m ataupun h akan mempunyai potensi yang sama berbahayanya.
m, jika masih punyai orang tersayang, apakah akan bisa baik-baik saja perasaan orang-orang tersayang? adakah jaminan untuk tidak ada pembalasan?
h, jika masih hidup, baik dia cacat ataupun raga bugar, apakah tidak ada kemungkinan untuk tidak ada pembalasan?
Pada jenis B, saya hanya ingin menceritakan sebuah post-klimaks, bahwa setelah kejadian tersebut di punggung tangannya terdapat sebuah bekas jahitan, dan kordinasi tangannya menjadi buruk. sebuah sub-klimaks ternyata dia sedang menunggu hari penting berkenaan dengan kemampuan tangannya. sebuah kemungkinan, adakah pembalasan?
Pada jenis C, adakah pembalasan dari sang murid perempuan terhadap guru olahraga?
Pembalasan dalam imaji saya bisa dikategorikan kepada pembalasan langsung dan tidak langsung.
dimana langsung pada jenis A section h, bisa menuju bibit perpecahan dan perang saudara diatas tangannya sendiri. atau jenis A section m, orang-orang terkasihi membalaskan dengan jalur hukum ataupun jalur kekerasan juga (yang tentunya ada benis perang saudara dan terus pada lingkaran juga). atau jenis B, laporan pihak berwenang menjadi sebuah kasus mengenai perang pernyataan pembenaran. Jenis C, karena ketidakmampuan melawan secara fisik, dia melaporkan kepada orang tua dan orang tua meminta bantuan hukum atas dasar kekerasan dalam pendidikan. Dan semua hal tersebut tidak akan memuaskan segala perasaan sakit, malu, kehilangan yang mendalam.
baik tidak terpuaskan atau menunggu dilupakan; pilihan jenis akhir adalah pembalasan tidak langsung. inilah bom waktu di pembukaan yang saya sebutkan.
disebabkan adanya normalitas dari semua keadaan yang dimulai dengan kalimat "aaahhhh itu mah biasa anak sma. tawuran..." "kecelakaan kecil begitu doang. untung cuma luka di tangan" "anak sma kan nakal-nakal biasa digampar itu mah". sungguh. saya menyarankan agar lebih baik anda diam daripada mengeluarkan kalimat-kalimat normalitas tersebut. itu kalimat termenjijikan yang aku dengar. kalian yang mengeluarkan kalimat normalitas tersebut mungkin tidak berfikir efek psikis dari si korban. terkadang saya berfikir segala normalitas (atau kemakluman tidak beralasan) itu penyebab utama mengapa semakin banyak kemlorotan keberadaban bangsa. dan keadaban bangsa ditopang oleh norma-norma bangsa; norma yang salah digunakan dapat menurunkan keberadaban bangsa juga. dengan kata lain : Bom waktu.
Bom waktu itu banyak material penyusunnya. wajar saja kalau di post-klimaks atau klimaks lainnya ada potongan kisah seperti ini. karena itu, pembalasan tidak langsung atau pembalasan tidak terpuaskan. awalnya bisa saja normalitas yang bisa dianggap syalalalalaaaa.... tanpa tahu apapun kelanjutannya, dan tidak menyadari efek menjijikan yang diakibatkan.
Diujung post ini, mari berfikir bagaimana seharusnya kita bertindak dan berbuat. Anarki tidak dibenarkan dalam kamus kehidupan saya (sebagai pemicu penulisan post ini) tetapi Diam juga tidak memberikan solusi. Hidup tidak hanya digit 1 dan 0 dimana protagonis dan antagonis ada, berada diantaranya juga setitik kehidupan. kehidupan bukan kah diberikan kepada manusia itu sendiri?. sang roh tertinggi dengan raga terendah itu kan manusia? manusia itu menjaga bumi dan isinya. isinya adalah raga terburuk yang sama seperti manusia. lalu bagaimana? carilah, karena itu manusia ada. keagungan bumi ada di tangan manusia. keagungan manusia berada pada roh manusia itu sendiri.

No comments:
Post a Comment