imanizm mirror reflection #1

Ini sebuah pembukaan. hanya pembukaan karena saya sudah akan selalu menetapkan diri saya, bahwa saya makhluk yang sedang dan akan selalu belajar. makhluk. hey, tidak adakah pilihan kata yang lebih tepat daripada kata makhluk? Yah, kurasa itu sebuah kata padanan tepat yang dapat kudapati selama perjalanan pembelajaranku sampai detik ini.



Karena kuyakini, saat ini aku adalah makhluk bernama manusia. manusia; sebuah jasad golongan terhina dengan di dalamnya adalah sebuah roh teragung. beriring dengan kuasa yang besar, jenis ini akan berubah tetapi akan tetap menjadi sebuah makhluk. entah bagaimana terminating dari perubahannya.

Sekali lagi, saya meyakini bahwa hidup adalah pembelajaran. pembelajaran itu terus berlangsung selama saya didapatkan masih hidup. Imanizm mirror reflection hanya sebuah tulisan mengenai bagaimana satu dari renungan saya lakukan dalam tahap ini.
Satu diantaranya potongan mengenai pemahaman mengenai pemimpin. 

Well, saya bukan tipikal manusia pencari posisi. menjadi pemimpin wanita itu adalah mimpi lama yang sudah saya kubur karena kejenuhan saya sendiri akan putaran-putaran yang harus saya kondisikan untuk circle lingkungan tetap saya buat sejalan dengan circle yang saya buat. secara tidak langsung, di masa seperti itu saya mempelajari mengenai strategi, ragam ideologi, karakter internal-eksternal, dan organisasi yang kesemuanya merupakan point-point dalam perpolitikan.
Kemuakan terjadi, dan pada akhir saya terdisersi atas kemuakan dan kebencian saya sendiri terhadap tubuh dan ambisi saya sendiri. 

Pembukaan atas pengalaman tersebut, yah, anggap saja sebagai pembukaan dalam tulisan ini. Mengapa saya menulis ini? karena saya tidak tahu dimana akan melimpahkan segala yang berkembang dalam otak saya. terlalu exhibitionist yah? biarlah. toh saya juga yakin tidak semua tentang saya akan dapat dimengerti oleh siapapun yang membaca. 

Hujan bergerimis (lagi). ya, setiap kali saya menulis selalu turun hujan. selalu ada kecelakaan kecil. selalu ada sesuatu yang menahan saya untuk tidak menulis dan mengalihkan perhatian besar untuk menulis.

dalam hitungan menit, hujan berubah menjadi badai. dan angin menyeruak masuk melewati jendela di ruang makan keluarga tempat saya menulis ini. terpaan tirai putih tipis, ternyata sedikit melamunkan saya. alunan angin yang menerpa di jalan, jauh dari teras rumah keluarga saya memberikan efek indah pada tirai tipis di dapur. indah.
ya, sangat indah dan elegan.
seperti kandungan.

Kandungan. 
mari kembali ke topik semula. Kandungan identik dengan ibu hamil. Ibu hamil identik dengan Suami. Suami, Istri, dan Anak adalah organisasi kecil; dengan pimpinan jatuh kepada sang Suami (yang juga Ayah). seharusnya.

Organisasi itu harus satu. terutama kerohanian. bagi saya, dan kurasa itu memang benar.
alasan mendasarnya?
karena kita memiliki roh yang sangat agung, dan keagungan roh tersebut pasti akan memberikan hasrat yang harus sepadan di tempatnya.
Roh manusia tersebut hakikatnya diciptakan dengan membawa Nur yang beraneka ragam. Kepemimpinan juga dapat cocok dengan Nur yang berbeda.
Okelah. terlalu rumit.

saya sendiri juga kesulitan bagaimana memulainya. menunjuk sosok besar bukan pilihan saya. karena saya selalu ingin diposisi dimana saya bisa seaman dan senetral mungkin.

Saya mengakui bahwa sebuah Negara itu harus dipimpin dengan 2 jenis tipikal yang berbeda. 1. Pemimpin pemerintahan. 2. Pemimpin kerohanian.
kenapa saya membedakan kedua hal tersebut?
fakta dari pembelajaran yang saya dapat, selalu harus ada kekuatan internal dan eksternal yang memimpin satu organisasi. dimana selalu dibutuhkan manusia yang dapat tampil di depan muka dan mengurus bagaimana kerumah tanggaan, birokrasi antar organisasi, dan lain-lain. 
Lepas dari tanggungan seperti itu, perlu sesuatu yang jauh lebih bersih daripada lingkungan dibawah kepemimpinan seperti itu. kepemimpinan di paragraf atas berupa permainan politik yang--yah menurutku sah sah saja kalau itu bersifat--kotor ataupun bersih. Bersih syukur, Kotor yoo tanggung ndewe toh.
Kepemimpinan jenis pertama dipimpin oleh manusa-manusia dengan kesempurnaan jiwa, pengetahuan luas, dan religinya dapat dicontoh.

eits, bukan berarti yang pemimpin pada bilangan satu itu tidak apa-apa atau apa-apa dengan unsur religinya lho. Mari kita berbicara dengan keglobalan. berbicara mengenai kebaikan umat; bagus-bagus sih bisa penujuan suatu kebenaran.

Kesadaran saya sendiri seperti tamparan, mengapa banyak golongan di dunia? bahkan di satu kaum sendiri terdapat banyak golongan, satu kaum banyak golongan agama, satu golongan agama pun punya banyak golongan sekte. itu memusingkan. itu meruwetkan. itu bahkan bagi saya, itu memuakkan.
Tapi yah, saya tetap saya. rasa muak selalu hanya sejauh batas aura saya yang terpancar. tidak pernah bisa ada daya untuk memperluas jangkauannya.
Saya pun juga mempelajari bahwa memang akan selalu ada banyak golongan di muka bumi. bahkan dalam satu ucapan satu golongan yang lebih besar.
Misalnya saya 'Islam' tapi islam seperti apa kamu? (seperti yang dipertanyakan oleh guru agama di kuliah saya) atau lebih umumnya : saya 'orang indonesia' tapi suku apa kamu? (seperti yang dipertanyakan banyak orang diawal perkenalan) dalam hal ini, sayalah yang harus menyesuaikan keadaan lingkungan dengan tamparan kesadaran saya sendiri dengan cara saya sendiri (saya tetap menjawab "saya Indonesia--dengan menjelaskan keabsurban jati diri suku (padahal secara jelas bahwa saya keturunan orang jawa tengah)" dan saya tetap menjawab "bismillah, Saya Islam" dengan tetap mencari seperti apakah Islam yang akan terus saya pegang dan saya teruskan ke generasi darah saya)

Sepertinya, dari dulu tuh memang selalu ada yang namanya siasat saling menghancurkan demi kepentingan yang dirasa lebih urgent. tapi selalu ada satu yang benar. seketika satu pembuat benar tersebut sirna ada sebuah siklus yang terkalang ulang dan siklus memang akan seperti itu terus. bahkan sepertinya menyisakan banyak peranan kejahatan. Lucunya, kebenaran menyeruak di akhir dan menuju akhir tersebut, makhluk-makhluk yang mendapat peran kebenaran sedang mempersiapkan secara diam-diam dan sadar; sadar bahwa dia sedang mempersiapkan kebenaran dan sadar bahwa dia sedang ditindas.
Tapi ga masalah bagi saya sang penulis post ini. Asalkan mereka punya tujuan dan patokan; mereka yang punya rencana panjang jauh lebih keren, membahayakan, dan amat dirindukan.

Saya pun mempelajari beberapa sosok terkemuka. bahkan ada beberapa orang yang saya sukai dikarenakan kepandaiannya, kecerdasannya, keimanannya, cara berfikirnya, cara mengatur hidupnya, cara memanajemen dirinya, cara merobotkan lingkungannya, derajatnya, keanggunannya, kebaikannya, well, lot of people who can be our role model. Saya disini tetap bersikeras tidak ingin mengambil sebuah nama subjek apapun.

Di sebuah kisah tokoh yang saya panuti kecerdasan, wawasan kebaikan dan kebijaksanaannya. saya mengkritisi sesuatu. sebelumnya saya ingin menceritakan sepenggalan kisah beliau yang saya pelajari.
Beliau merupakan manusia yang dijadikan pemimpin. pemimpin-pemimpin sebelumnya--yang sesudah pemimpin maha agung--selalu berkonsultasi dengan beliau. pemikiran, wawasan, dan sebuah keimanan yang besar seperti memang sudah menjadi baju besarnya. Bagi saya, Beliaulah sebuah kesempurnaan setelah pemimpin-pemimpin maha Agung yang berhasil mempertemukan antara logika dan ruhani. Manusia yang telah cocok dipanggil menjadi sebuah Pelindung Bumi. mendayagunakan Ruh agung yang menjadi hakiki manusia utnuk menjalankan jasad yang  setaraf dengan hewan.
Ya. Saya amat mengaguminya. tetapi belum dan semoga tidak akan pernah mencapai kekaguman dengan Para Pemimpin maha Agung diatasnya, juga tidak mencapai kekaguman dengan Maha Pencipta.

Sosok beliau tersebut ternyata banyak yang membuat orang terpesona seperti saya, yang melayakan bahwa beliaulah yang seharusnya menjadi pemimpin. Dalam mata fikiran saya. Ya, setiap musuh takut kaum besar tersebut dipimpin oleh Beliau. Karena itu, para musuh berencana dan berstrategi. Membuat sebuah perkara dengan mengangkat keagungan Beliau bahkan melebihi Pemimpin yang Maha Agung.
Pemimpin sebelumnya telah menjadi pemimpin. Ya sudah biarlah. toh di belakang layar tetap Beliau yang bergerak. Inilah, bagi saya, zaman saat itu seharusnya sudah dipecahkan kenis kuasa pemimpinan, dimana pemimpin Beliau terdahulu setelah pemimpin sang Agung mengurusi urusan kekuasaan, tetapi masalah kerohanian, pandangan filsuf, pengetahuan ada baiknya dikuasai oleh beliau.
Sesuatu yang berlebihan selalu menjadi bumerang. Percaya atau tidak, mengagumi dan mengkhianati saat itu seperti dibedakan oleh garis tipis pensil.
Banyak orang yang memakai logika dan kehandalan pemikiran mereka untuk sesuatu yang jahat pada masa itu. Adu domba antara umat yang sama darahnya.
Saya melihat betapa cerdasnya Beliau. seperti dapat membaca keadaan dan strategi orang-orang. sudah kubilang dia manusia sempurna pada zaman itu. paduan yang pas antara logika dan rohani.  kalau tidak, saya tidak akan menulis post ini. Bahkan pemikiran kontemporer modern yang dianut musuh lain mengenai dualisme juga sudah dipikirkan oleh Beliau. Beliau tidak terhasut, tetapi umat sudah terhasut beberapa. Di saat seperti ini hanya ada satu harapan kecil dari yang salah. kesetiaan totalitas.
Kesetiaan totalitas yang bodoh tetapi setia. bodoh karena memang benar-benar taat pada sosok yang dianggapnya pantas sebagai pemimpin (yaitu beliau). Beliau pun pasti (saya yakin) mengajarkan dan memberikan ucapan-ucapan yang benar karena Beliau pun setia pada sang Pemimpin maha agung. umatnya yang setia seperti orang bodoh pasti akan menjadi sepintar Beliau pula, karena kesetiaan yang sebenarnya tidak pernah mengkhianati kesetiaan itu sendiri. Mungkin kalau saya berada di zaman itu, saya ingin selalu Beliau ada di mata saya dan mendapatkan banyak syafaat dari sang Pemimpin maha Agung melalui Beliau.

Itu berarti aku Umat golongan A?

sulit mengucapkannya. sekarang Saya hanya bisa menjawab Saya bukan umat Golongan A. Saya adalah 'apa yang Saya anut' meskipun saya mempercayai beberapa ajaran dari umat golongan A karena memang sepertinya itu esensi sebenarnya yang disampaikan Beliau. bukan ada campuran bumbu dari orang-orang tak bertanggung jawab.
Bukan berarti juga saya membenci salah satu keluarga Pemimpin sebelumnya yang mereka anggap musuh. tidak, mereka salah memusuhi orang saya rasa. sosok yang mereka musuhi justru sosok adil dan cerdas. Umat telah diadu-dombakan saat itu dan saat ini. segalanya absurb dan komplex.

Apapun itu, segala hal yang berlebihan sejak lunturnya zaman Sang Pemimpin maha Agung sudah batin saya tidak benarkan. Bagi para pengikut Beliau, bukankah kedamaian umat jauh lebih penting? Beliau berkata seperti itu kan? karena itu Beliau memilih untuk menjadi yang terakhir. bukankah Beliau menendang manusia yang mencium lututnya layaknya bertemu Sang Agung? karena itulah kekhawatiran Beliau.
2 pemimpin adalah hal baik Bagi saya yang mungkin sudah diteruskan.
diantara banyak golongan yang ada di muka bumi, tetap ada satu golongan tetap murni. banyak kitab yang mengatakan demikian kurasa. hanya saja bagaimana para ahli mengaburkan kalimatnya saja hingga tidak tersampaikan.

Perlu energi tinggi untuk melepas binding energi yang telah merekatkan kerumitan ini semua. mari berjalan sesuai peranan hidup masing-masing.
Bukankah katanya Jalan hidup manusia di bumi adalah adegan yang ditulis sendiri oleh manusia sebelum dihempaskan di muka bumi ini? mari jalankan peranan yang telah kita sutradarai sendiri dan telah di acc oleh sang pencipta.


No comments:

Post a Comment