Hello Holiday!
Liburan yang cerah. dan selalu melelahkan. Apa yang dalam pikiran anda dengan liburan? sesuatu yang menyenangkan?
Yap. menyenangkan karena bisa bertemu dengan orang yang ingin ditargetkan liburan. berkumpul dengan orang yang dituju. melihat tempat yang ingin dilihat di saat liburan.
tapi apa yang terjadi jika itu semua sebuah kelelahan?
Liburan ini banyak menyediakan cerita bagi saya.
cerita mengenai betapa baiknya saya dengan jalan yang saya hadapi saat ini. tetapi lagi-lagi betapa terulang-ulang kehilangan moment yang telah saya jalani.
bermulai dari sebuah ungkapan :
"wow. gue ga bisa membayangkan, betapa kesepiannya elu ya mir?"
Ucapan itu tertuju khusus untuk saya setelah sebuah pengungkapan dari saya bahwa saya tidak menyukai kegiatan liburan dan pulang. Pembicaraan itu dimulai dari pembicaraan mengenai cinta. tanpa sengaja saya menganalogikan sebuah perasaan hubungan darah yang tidak akan dapat dihilangkan dengan apapun. lalu dia bercerita seperti rasanya pulang ke rumah. kemudian saya hanya berkata bahwa saya tidak tahu, saya tidak pernah merasa memiliki rumah. dimanapun semua orangtua saya berada di rumahnya, saya tidak dapat menganggapnya sebagai rumah. Rumah yang mereka berikan hanya menyisakan kelelahan fisik, dan pikiran.
Saya menyadari dua hal : Saya tidak memiliki rumah, dan Saya sudah 8 tahun lamanya menjalani kesendirian ini.
"Pengetahuan tanpa gairah (passion) adalah ketidakadaan (nothing) tetapi gairah (passion) tanpa kesediaan (willing) adalah kehampaan (null)"
Saya memahaminya tetapi belum dapat menghikmahinya. hampir 22 tahun saya hidup di dunia ini dan terjebak berkali-kali dengan antinomi makna dari pernyataan diatas. itulah mengapa saya selalu jatuh dengan memahami pegangan kehidupan saya sendiri.
Sama seperti saya masuk dunia ilmu nuklir, Saya dapat masuk mengartikan bahwa pengetahuan saya mampu membawa saya masuk ke dalamnya, tetapi saya tidak bergairah sama sekali meskipun saya bersedia menerima ilmu dan nasib sebagai pengguna ilmu nuklir. Pengetahuan-pengetahuan dalam dunia ini saya cerna, saya simpan tetapi belum mengerti akan saya apakan nantinya dengan pengetahuan-pengetahuan itu. seperti belajar yang tidak belajar bukan?
Ada pula passion mengenai ilmu material lanjut tetapi saya tidak mempunyai basic lanjut mengenai ilmu material lanjut. setidaknya hingga saat ini saya masih memiliki passion dan willing yang secara saya sadari akan saya perjuangkan di akhir kehidupan saya nanti.
Dunia mapala yang saya masuki dengan segala kesediaan dan gairah ingin tahu malah membuat sesuatu yang kosong. hanya dapat secuil makna yang saya bingung harus seperti apa saya tanggapi dan saya fikirkan secara positif. karena pada ujung-ujungnya seperti hanya : oh iya, saya dapat kenalan orang seperti ini dan seperti itu. yang pastingnya ujung seperti itu dapat ditemukan di banyak kondisi nantinya.
Tidak masalah. karena saya masih hidup dan akan masih hidup. detik selanjutnya masih menyimpan banyak misteri yang menarik untuk dikaji.
Sejak SMP hingga SMA saya ingin sekali menjadi dokter bedah. alasannya hanya karena "duitnya banyak" huakakakakak. betapa bodoh dan tamaknya obsesi seorang Sukma yang Ababil. Untung saja saya tidak berjuang lama untuk kebodohan dan benih jenis ketamakan itu.
Jika sekarang saya ditanya, apakan masih ingin menjadi seorang dokter? tentu jawabannya tidak. tetapi saya akan berkenan kalau diberi pendidikan kesehatan untuk korban perang. atau spesialis bedah trauma. ;)
Saya mensyukuri dengan dunia non-kedokteran saya bisa mengenal banyak kebebasan. tentu saja sesungguhnya kebebasan itu justru malah membuat ranting masalah baru sih. bayangkan, jika seorang Saya dengan sosok yang akan menyenangi kebebasan pemikiran, tingkah, dan cara harus mengikuti arus "how to become a doctor". 3,5 tahun menjadi mahasiswa kedokteran; kemudian setengah tahun menjadi ko-ass yang hanya pemerhati dan berada di area abu-abu antara social worker dan doktor umum; kemudian menjadi dokter di daerah terpencil selama setahun; kemudian menjadi dokter umum, kemudian 1 tahun menjadi murid spesialis bedah (intern); 1 tahun kemudian menjadi resident bedah umum; bertahun-tahun kemudian barulah menjadi spesialis bedah trauma.
holy crap. betapa lamanya waktu yang akan saya habiskan untuk mengikuti arus tanpa harus bisa memikirkan kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah dunia saya. Saya akan menjadi "Orang yang hidup di waktu ini"
Ga ada yang salah dengan itu memang. tetapi di blog ini sednag membicarakan saya. Saya bukanlah tipikal seperti itu. sekali tertinggal dalam masalah waktu, kesempatan, finansial; maka pergilah sudah tujuanmu itu. apalagi dalam keadaan atmofser keluarga saya; akan dengan mudahnya saya tertiup ke tong sampah masyarakat. jadi, saya rasa memang saya telah menjalani sesuatu yang baik untuk saya sendiri.
Dengan kesadaran seperti itu, seharusnya saya dapat menghikmahi bahwa jangan sampai kebebasan ini menggrogoti kesadaran akan kebaikan dan langkah pendekatan kebenaran. Saya harus belajar untuk fokus di dalam kebebasan ini. jika sepuluh tahun dihabiskan untuk spesialis bedah trauma, maka sepuluh tahun harusnya saya bisa habiskan menjadi seorang profesor ilmu material kuantum. maka setidaknya saya telah menghabiskan 4,5 tahun tetapi harusnya di tahun keenam saya harus sudah ahli menjadi ahli material. astaghfirullah. betapa banyak waktu yang telah saya sia-siakan selama ini.
Dengan kesadaran seperti itu, seharusnya saya dapat menghikmahi bahwa jangan sampai kebebasan ini menggrogoti kesadaran akan kebaikan dan langkah pendekatan kebenaran. Saya harus belajar untuk fokus di dalam kebebasan ini. jika sepuluh tahun dihabiskan untuk spesialis bedah trauma, maka sepuluh tahun harusnya saya bisa habiskan menjadi seorang profesor ilmu material kuantum. maka setidaknya saya telah menghabiskan 4,5 tahun tetapi harusnya di tahun keenam saya harus sudah ahli menjadi ahli material. astaghfirullah. betapa banyak waktu yang telah saya sia-siakan selama ini.
Oh, tuhan memang selalu tahu apa yang terbaik untuk umatnya. bahkan, betapa saya merutukinya di masa lalu karena saya berada di tempat yang bukan saya inginkan saat itu. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahuakbar.
"wanita itu dimuliakan dengan cara dijaga oleh bapaknya. tetapi setelah wanita itu dinikahkan dengan seorang pria, maka wanita itu dimuliakan oleh suaminya"
arti kata dimuliakan itu bermakna dalam banget lhooo...
tetapi sungguh sebuah ucapan yang saya lontarkan setelah penjabaran mengenai pemuliaan wanita secara islam maupun dunia modern adalah :
"saya belum siap untuk dimuliakan sekarang dengan cara apapun"
yap. serial dalam masalah ini saya belum tahu bagaimana menghikmahinya.
Secara garis besar saja saya belum dapat siap untuk dimuliakan.
Bayangkan! menjadi istri seseorang pria terpilih; dimana suami kamu menjadi the first one; tetapi kamu akan tetap menjadi the other one.
setelah itu menjadi seorang Ibu, anak yang padahal milik sang ibu, tetapi akan banyak hasrat-hasrat campur tangan dari darah lain yang mengacaukan segala hal. padahal anak itu adalah anak keluar dari seorang rahim Ibu yang pastinya hebat, dan cerdas yang memang akan secara minimal seperti ibunya. lalu sang suami karena istrinya adalah the other one, menyarankan untuk menuruti si darah lain untuk sebuah kata "mereka sudah punya anak lebih dulu". hm? senioritas di mata saya dan dalam sejarah hidup saya tidak pernah berefek apapun.
kemudian tugas saya turut membangun sebuah rumah untuk keluarga dan anak-anak saya sendiri. oh, setidaknya saya tidak ingin membesarkan anak yang homeless seperti saya. Saya akan membesarkan banyak anak yang terbang bebas menginspirasi kebaikan orang lain dan cerdas dengan segala kemampuannya di dalam sarang yang akan selalu mereka ingat dan jaga sebagai fondasi cinta pertama, kedua, ketiga mereka. Apakah bisa saya membangunnya dengan sendiri? atau berdua dengan orang-orang yang berbeda?
tanpa saya sadari, Saya telah mencintai kesendirian saya sendiri. betapapun lelah akan kesendirian; tetapi saya tidak akan ragu untuk memilih hidup sendiri dibandingkan harus mengacaukan garis besar kesempurnaan tersebut. lima tahun, tujuh tahun, delapan tahun, sepuluh tahun, tujuh belas tahun, dua puluh dua tahun, dua puluh tiga tahun, tiga puluh tahun sekalipun; saya akan senantiasa berdoa untuk ketegaran dan kekuatan hidup dalam kesendirian.
Apapun itu, liburan ini membuat saya bersyukur dengan apapun yang terjadi dalam hidup saya.
Terimakasih banyak Tuhan.


No comments:
Post a Comment