A Thousand Question #5 #6 #7 #8

#5 Lalu Apa setelah ini?

#6 Mengapa banyak orang yang menaruh harapan pada sesuatu yang mereka pesimiskan?

#7 Bagaimana bisa kamu terbangun dan berjalan menyongsong pagi dengan kebahagiaan, menghabiskan hari dengan rasa marah yang membingungkan, dan menutup hari dengan air mata kesedihan yang aneh? Apakah kamu sakit jiwa?

#8 Bagaimana mengeluarkan amarah secara dewasa di umur seperti ini?



13 November 2013.
Ini adalah 5 hari setelah saya selesai mengikuti sebuah acara sebuah seminar dan workshop nasional. Mungkin ini akan jadi tulisan panjang; karena saya akan bercerita banyak hal. bercerita; karena saya ingin meratapi seusatu yang tidak saya pahami. Yah, Saya mengeluh saat ini. Mungkin ini adalah depresi.

Secara sekilas saja, saya mengikuti sebuah acara seminar dan workshop nasional mengenai hamburan neutron dan difraksi sinar X yang diadakan oleh BATAN. sejujurnya, saya terkesan. saya tersemangati. tetapi saya terdepresi akan banyak hal.

Mundur beberapa bulan sebelum acara ini dimulai; tepatnya sekitar bulan Desember 2012. Ada seorang teman yang mengajak saya melakukan sebuah penelitian bersama. Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan dunia Synroc pada akhir bulan Januari 2013. Kami belajar secara mandiri mengembangkan segala hal bersama. Menghabiskan waktu, tenaga, dan semangat dengan belajar tanpa terarah. Ya, sejujurnya saya memiliki pembimbing penelitian tetapi saya merasa tidak dapat membimbing saya. Saya pun di pertengahan jalan seperti diperalat oleh rekan yang mengajak saya. Okay; sejujurnya saya memang selalu mempunyai kelemahan dalam berucap dan mengungkap opini; dan rekan saya memang mengcovernya. Dan seriusan, saya benci pembunuhan karakter. Dia memakai alasan dengan masalah pribadi saya untuk dapat terikat dengannya. Itu terbukti di akhir bulan Oktober 2013, dia mengatakan 'aku tahu apa rencana [dia, si singa]. dan itu bakalan bikin kamu bahagia banget'; memang sih itu kalimat biasa, tetapi tidak dengan banyak dinamika kehidupan yang aku alami saat itu. Pada detik itu, aku sudah ingin secepatnya pergi menjauh dari rekanku tersebut; tetapi aku telah menghabiskan banyak waktu dalam penelitian dan ide gilanya; apakah aku akan menyerah dengan alasan cemen seperti itu?

Dan saya menjadi bertingkat-tingkat lebih dewasa atas masalah hidup. Sekali lagi, saya berhasil menjadikan apapun lebih baik dalam diri saya. Meski sedikit, saya akan tetap terpicu atas pembunuhan karakter. Dan saya akan sangat sulit untuk memandang [dia, si singa] ataupun siapapun sekali atau hingga seribu kali lagi. Itulah final dari hidup 22 tahun saya. Saya ingin hidup dalam kenangan satu orang saja; dengan itu tidak akan ada lagi orang yang tersakiti karena saya ataupun orang menyakiti kenyamanan saya.

Saya berusaha menikmati segala sisi positif dari segala kejadian. sungguh, setidaknya jika anda tidak dapat melihatnya, saya sedang berusaha. Saya sangat senang memulai dunia material dari penelitian yang ditawarkan oleh rekan saya tersebut. Saya sangat senang mengikuti seminar dan workshop karena saya dapat mendalami dasar fisika inti lebih dalam, membuka titik terang dunia molekular (nano) dalam benak saya, terbantu atas kilasan analisa struktur kristal (atomik, angstrom). 

Namun, Saya tersadarkan pula bahwa Penelitian yang saya geluti secara barbar selama hampir setahun, tidak dapat saya lanjutkan. Hellooooo! Siapa saya yang bisa melakukan penelitian ketika para guru saya belum melakukan penelitian tersebut? Siapa saya yang bisa melakukan sintetis kimiawi CaCO3 untuk dapatkan sebuah komposisi baru dari material luar biasa gila kerennya bernama Synroc? Siapa saya yang bisa berani mengidekan bahwa saya dapat analisis lattice, menghubungkannya ke dunia molekular? oh, Shut up. Saya hanya mahasiswa S1 teknik nuklir. Saya bukan S2, ataupun S3 dari teknik kimia atau kimia analitik atau metalurgi, material, nanoscience, biologi molekular, soft matter, atau hal lainnya. Kemampuan bahasa dan komunikasi saya BURUK. jadi, untuk apa saya bermuluk-muluk lagi seperti detik sebelumnya?
Atas segala ilmu yang pada akhirnya saya dapatkan, kemudian keluarlah pertanyaan :

A Thousand Question #5 : Lalu Apa Setelah Ini?

Pertanyaan inilah yang membangunkan dan menggerakan emosi bahagia di pagi hari; saya tersdarkan untuk balas dendam atas pembuangan waktu kuliah, secepatnya lulus, agar memiliki jeda waktu mendalami kembali ilmu biologi makhluk hidup, belajar bahasa korea dan memperlancar bahasa inggris, karena saya ingin menggeluti dunia molekular dan material nantinya. Ketika merasa gagal atas segala hasil yang diusahakan, merasa dihadapkan kisi lain yang mengulang langkah dari titik nol (semoga saya tidak benar nol, melainkan titik referensi), dan seperti tidak menemukan jalan lagi, saya menjalankan hari dengan rasa marah. Ketika rasa itu menyerang, tidak paham harus seperti apa, dan bagaimana melampiaskannya. Bercerita dan menangis kepada sembarang orang adalah cara remaja, bagi saya. saya benar-benar bertanya :

A Thousand Question #8 : Bagaimana mengeluarkan amarah secara dewasa di umur 22 tahun?

Kemudian terus dan terus berfikir, bertanya, dan berhidup. sampai di penghujung hari saya menutup kehidupan di hari ini, saya merasa bahwa saya pecundang dan sampah hidup dalam bermasyarakat, saya akan memalukan bapak saya, saya akan gagal bersaing, saya mengecewakan Ibu dan kakak saya, saya tidak akan dapat kesempatan bersanding dengan paman saya, saya tidak sukses mengemban sebuah tugas dari sebuah energi potensial [ini sebuah konotasi], saya saya saya saya tidak =lainnya= ini energi internal negatif. saya sadar, tetapi belum dapat mengontrolnya. Saya akui bahwa di penghujung hari saya depresi, makaitu saya menangis, bahkan saya bertanya :

A Thousand Question #7 : Apakah saya sakit jiwa karena terbangun dan memulai pagi dengan rasa bahagia, menjalani hari dengan emosi marah, dan menutupi hari dengan air mata kesedihan?

Maaf lagi dan lagi. karena ini seperti tidak sopan menceritakan sebuah masalah pribadi dalam situs maya. Tetapi sungguh, saya menulis ini karena saya mencari jawaban. mencari jawaban kepada alam. saya menulis agar alam menangkap gelombang getaran dari inti tulisan dan pertanyaan ini. Karena saya yakin suatu saat nanti saya akan dapat jawaban dari alam karena tulisan ini.

Ada sebuah cerita tambahan pada saat saya mengikuti workshop hamburan neutron dan difraksi sinar X. Pada sesi workshop tersebut, saya memang mendaftar pada sesi workshop bidang SANS. Sekadar Informasi, SANS itu merupakan singkatan dari Small Angle Neutron Scattering. Ini merupakan instalasi yang terintegrasi langsung dengan reaktor PRSG-GAS. Sekali lagi [dan Saya tidak akan pernah bosan mengucapkannya] bahwa saya belajar banyak dari pembelajaran dalam workshop SANS melalui Dr. Edi Giri [yang baru saya tahu bahwa dia konsen terhadap soft matter -satu bidang yang amat sangat ingin saya geluti-]. berbeda sekali dengan pembelajaran pada bidang workshop lainnya, workshop ini seakan-akan seperti meluruskan ilmu-ilmu dasar (yang mungkin, terkadang para peneliti senior sedikit lupa -> pengakuan dari 3 kenalan peneliti saat acara) mengenai fisika inti, dan fisika material; juga sedikit mempromosikan mengenai SANS, soft matter, nanomaterial, dan nanoscience. 
BUANYAAAAAAAK sekali hal menarik bagi saya saat itu. karena sejujurnya saya mungkin adalah manusia terbodoh dan paling tidak berilmu di kelas SANS tersebut. Percakapan seperti diskusi yang agak ngalor-ngidul di penghujung hari workshop melahirkan pernyataan yang keluar dari Dr. Edi Giri : "selama masih bisa melakukan analisa dan uji selain SANS, hindari SANS". okay, itu normal. saya juga merasa normal kok saat mendapatkan ucapan tersebut. tetapi saya menjadi heran (jika ditambah dengan intonasi dan gesture tubuh) dengan pernyataan jauh sebelum penghujung diskusi dilakukan : "SANS sudah ada di Indonesia selama 25 tahun [wow, lebih tua dari saya], perangkat ini membuat perkembangan IPTEK di negara yang mempunyai SANS berkembang pesat. [kemudian banyak contoh negara-negara pemilik SANS]. [kemudian berbicara geopolitik dari teknologi]. Indonesia ini diharapkan sekali oleh pendahulu untuk melejit, karena sudah dipersiapkan sejak awal, sejak negara tetangga atau bahkan Australi belum memilikinya. Negara-negara tersebut berkembang dari perangkat hingga SDM, sedangkan Indonesia baik SDM atau perangkat atau pengguna tetap segitu-gitu saja"

hm, padahal sebelumnya mempromosikan. kemudian mensiniskan sistem. kemudian mengatakan bahwa ini adalah alternatif terakhir.

A Thousand Question #6 : Mengapa menaruh harapan pada sesuatu yang disiniskan?

mmm, mungkin pertanyaan di atas lebih melebar penggunaannya juga. 

1 comment:

  1. Anonymous18:22

    Sesuatu dianggap sinis...., lalu kita mengharapkannya. Tentu itu adalah harapan yg bs membalikkan keadaan.
    Tetap semangat my dear.

    ReplyDelete