A Thousand Question #9

Kapankah tiba saatnya Nafsu tidak menjadi Infinity?


Pertanyaan ini timbul di saat saya sedang merasa memiliki Uang. Okay, lebih tepatnya sedang dialiri oleh Uang. Kau tahu betapa sulitnya menjaga sebuah kepercayaan orang yang kita sayangi? Orang tua saya, Ibu saya percaya bahwa saya dapat mengontrol nafsu saya. Oh, I did, Off course. Tapi itu sangat temporari. masih temporari. Saat kamu diberikan selembar kertas persegi panjang dengan ukuran yang sama akan kartu atmmu, dengan tulisan menonjol, kamu sesungguhnya berada dalam dua keadaan yang bisa membuatmu menjadi evil  atau tetap manusia. Itu menyiksa sebenarnya. Orang tua saya, percaya bahwa saya adalah orang jujur. Ketika kamu diberikan uang lebih di bulan ini untuk beberapa tujuan atas permintaan kamu, tetapi beberapa kondisi tujuan tersebut tidak tercapai, dan uang itu begitu saja berada di pihak kamu, itu sangat menggiurkan sekali. Itu sangat sangat menyiksa.

Kebutuhan kita berbanding lurus oleh pemasukan dan dana yang dimiliki. Kebutuhan juga berbanding lurus dan amat tertinggal ratenya dibanding dengan keinginan. mm, sebut saja nafsu. 

Tidak heran ketika ada orang yang berlomba-lomba menjari kedudukan, jabatan, harta diatas segalanya. karena dia 'sangat manusia sekali'. tetapi tidak mengherankan juga jika saya berada di lingkungan dimana orang-orang menghindar dari kekayaan, kemakmuran berlebih, dan jabatan, karena mereka memutuskan tidak ingin menjadi 'budak materi'. Siapapun mereka, pasti sebenarnya memiliki keinginan berlebih, tetapi apapun cara mereka mengatasi keinginan berlebih mereka, itu pilihan mereka, dan jalan mereka tentunya. Saya pun tidak ingin memikirkan pilihan orang tersebut, saya hanya mensiniskan jika harus ada yang berkomentar sinis atas pilihan orang lain, dan mengganggu individual lain.

Pertanyaan ini juga meluas mengenai pertanyaan-pertanyaan umum yang amat sangat manusiawi; seperti : "kapan kamu lulus?" saat kamu sedang kuliah sarjana "kapan kamu punya kerja?" setelah kamu sudah lulus sarjana "kapan kamu punya pasangan?" setelah kamu sudah mapan dengan kerja "kapan kamu punya anak?" di hari pertamamu menikah resmi "kapan ada anak kedua?" di hari baru saja kamu menarik napas lelah atas kelahiran anak pertama "kapan anakmu lulus kuliah?" di hari anak pertamamu baru saja memasuki masa arientasi, dan lain sebagainya.... mungkin cuma saja, saya berharap tidak ada yang bertanya "kapan kamu bakalan mati?" kalau itu terjadi, oh itu sangatlah... mmm... jujur. hahaha. 

Sadarkah, di tiap sekeliling kita, ada banyak hal kenyamanan yang sering disia-siakan? Terkadang saya sering merasa kagum dengan Ibu saya yang hidup dengan sangat tegar, dari hidup beratapkan sesuatu hingga beratapkan langit hingga pada akhirnya terhangatkan oleh selimut mahal dan disejukan oleh pendingin ruangan. 

Yah, seriusan, malam ini saya merasakan takut atas segala kenyamanan yang saya miliki, kenyamanan yang diberikan kepada saya. Saya takut atas tindakan kesewenangan yang dilakukan atas dasar nafsu yang berbatas dengan pusar. 
"Segala apa pun yang kamu miliki segalanya dipertanyakan kemanfaatannya. Jika memang bermanfaat maka gunakan, dan jika tidak bersabarlah sampai waktu memerlukan kemanfaatan dari bermanfaatnya"

Dan saya tetap bertanya di atas rasa takut memiliki materi yang menyamankan saya. Berharap mendapatkan jawaban tersebut untuk diri saya sendiri. :-) 

No comments:

Post a Comment