"Bukankah keragaman selalu ada?"
Pertanyaan ini selalu timbul di tiap saya melalui malam sendu. Di saat waktu saya tidak dapat berdamai dengan diri saya sendiri. Berdamai dengan segala rasa kenangan. Cuih, menjijikan. Betapa mirisnya saya, merasa jijik dengan diri saya sendiri.
Kenangan tetap sebuah kenangan. Tidak akan menjadi sebuah kenyataan. Jikalaupun dapat terulang, akan tetap ada yang tidak sama. Kenangan mengenai perpisahan akan perbedaan pun sesuatu babak cerita sendiri bagi saya.
Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi. Perbedaan menjadi jurang.
Dari segala kejadian yang telah memupuskan mimpi, kemudian berupaya keras berdamai dengan diri sendiri, kemudian merangkak mengumpulkan setiap serpihan kaca kehidupan yang telah rusak, kemudian pada akhirnya berhasil lah mimpi mimpi tersebut berbentuk. Terus dan terus terulang.
Miris miris miris sekali.
Haruskah saya terus terusan diuji coba dengan perbedaan?
Apa yang salah dari mempertahankan keragaman?
Apa kebenaran dari penyeragaman?
Hak preogatif pencipta, mengapa kita bertindak layaknya pencipta?
Bertindak jujur dan memberi keselamatan sesama adalah kewajiban makhluk ciptaan pencipta, mengapa sulit melaksanakan kewajiban?
Saya tidak begitu ahli mengenai konspiraai. Biarlah suatu saat nanti saya melanjutkan tulisan ini dengan tingkat kedewasaan yang lebih dari hari ini.

No comments:
Post a Comment