Harus saya akui bahwa kamu sukses hidup di dalam fikiran saya. Ahaha. miris kah? Saya rasa tidak. Saya mungkin telah menjadi murahan demi bertengkar dengan ingatan saya mengenai sosokmu. Saya pun telah menjadi sekeras intan demi menjaga endapan memori sosokmu.
Pekan belakangan ini, saya menikmati music video panic! at the disco. yep, grup band yang nyentrik daaaaan... ergh nyeleneh, bermakna tapi tidak bermakna, unik lah mudahnya. Di Video 'build god then we'll talk' agak menyenangkan bagi saya. Bagi banyak orang mungkin akan merespon 'porno'. Bagi saya videonya koplak. Terserah orang lain memaknai seperti apa, bagi saya video tersebut seperti lambang cinta imajiner.
okay, preassume imajiner itu seperti garis imajiner. Garis bayangan. Titik imajiner. Titik plus minus berinisial j-k-l di belakang titik nyata, menyatakan radius tambahan lokasi titik nyata. Sederhananya angan-angan.
lanjut.
profesi menjadi porn mime membuat pria menjadi menarik hati wanita. Demi prinsipnya menjadi seorang mime, bahkan kehidupan percintaan pasangan baru pun tetap menjadi mime. Senang? yap karena unik. Suliyt? Tentu karena banyak hal yang tidak ditangkap dengan gerakan tanpa suara. Bahkan 'bercinta' pun tanpa menyentuh. Ironis. padahal dia porn mime! membuat banyak orang terangsang tetapi tidak sukses merangsang kekasih. sampai akhirnga sang kekasih terangsang karena pikirnnya sendiri. menjadi porned mime. menyindir sang porn mime. porn mime berkelahi dengan kekasih imajiner sang porned mime.
Seperti melihat saya sendiri. Saya mencintai sosok dan karaktermu tanpa jasad pasti. Kamu titik imajiner saya. Melingkupi saya memberikan kubah perlindungan imajiner di sekitar saya. Sosok lain hilir mudik di kehidupan saya, dan saya tidak bergeming. Gemingan ada pada akhirnya. Dia pun ikut membuat kubah perlindungan imajiner di sekitarnya. Cemburu? ya. Menolak? Tidak. karena saya tahu pada akhirnya saya harus sadar dan realistis.
"untuk apa saya masih mencari the right man kalau sosok itu sudah muncul di hadapan saya dengan segala kubah imajinernya"
"untuk apa saya mencari the right man kalau saya sudah mengkristalkan sosokmu di ingatan saya"
jikalau kehidupan dianalogikan seperti bersepeda yang harus terus bergerak agar tetap hidup (berdiri); maka saya sadari: kondisi saya tidak layak dianggap sebuah kehidupan.

No comments:
Post a Comment