Selamat pagi.
Mungkin kamu telah melihat bagaimana urakan kehidupan saya beberapa pekan ini. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan penyebabnya. Seakan-akan saya sedang menurun kualitas diri. Inilah titik hening. Seakan dunia berjungkir balik menjatuhkan, tapi saya masih memeluk rerumput di tanah. Persis seperti ketika saya berada di ketinggian saat pertama kali memanjat tebing: saya belum diizinkan melepas pegangan tebing, tidak mau memanjat turun, tetapi tidak sanggup memanjat naik. Ketika itu penjaga tali berteriak menyemangati memanjat naik, ketika itu pula saya bertanya kepada diri saya: "kenapa tidak memanjat lebih tinggi?" Saya sendiri menjawab tidak ada pijakan "tetapi yang lain berhasil memijak" tenaga saya habis "kalau begitu berhenti sejenak" maka saya berhenti. Saya memeluk tebing bagaikan cicak. Mengatur nafas. Bingung. Olahraga panjat tebing bukan olahraga yang bisa beristirahat di tebing dalam waktu lama, kendati mengumpulkan tenaga, berlama-lama di satu posisi hanya membuang energi. Penjaga tali berteriak. Ah, sudah waktunya bergerak. Sedikit naik ke atas. Dilakukan lagi. Sukses. Dan saya terpelanting.
Yap. Sensasi memeluk tebing bak cicak persis dengan kehidupan beberapa pekan. Mengatur nafas. Bingung. Tidak mau terjun keluar dari sistem, tidak mungkin kembali ke masa lalu, merasa tidak ada rongga bergerak maju. Seberjuang apapun selalu seperti itu. Dari dulu, mungkin masa depan juga. Akh. Ga ada hal yang mudah.
Seandainya kamu disini. Setidaknya saya yakin bahwa saya memiliki rekan. Saya mempunyai rekan yang sekehidupan, yang melihat bersama perjalanan saya, yang mendampingi bersama perjalanan saya; bukan sebagai orangtua ke anak tetapi rekan abadi yang tidak mungkin menjatuhkan. Hanya saja alam telah memilihmu, dan saya telah menetapkan kehidupan saya.
Entah apa yang telah saya sepakati bersama Tuhan di kitab kehidupan saya. Ini terasa sulit.

No comments:
Post a Comment