Ah. Akhirnya saya menulis disini. Entah ini akan menjadi draft kesekian kalinya yang tidak selesai terposting. Kenapa saya begitu? Saya merasa pola pemikiran saya sedang rumit bagaikan kenur. Membuat saya tidak selesai menulis, dan rumit mengekspresikan dalam tulisan sehingga terkesan ngawur. Kita lihat, apakah saya mampu kembali sederhana dengan terpostingnya tulisan ini?
Halo Arman. Bagaimana kabarmu? Saya merindukan banyak hal 3 pekan belakangan ini. Kelihatannya saya sedang mengalami quarter life crisis. Konon, quarter life crisis ini berlangsung 1-2 tahun. Keliatannya kamu belum pernah mengalaminya semasa hidupmu yah? Meski dugaan saya, kamu telah bersiap menghadapi quarter life crisis, half life crisis, dan life crisis lainnya. Semakin lama saya hidup, semakin mampu saya mengalahkan persiapanmu.
"Quarter life crisis is period of life usually ranging from the late teens to the earlie thirties, in which person begin to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult. Eric H. Erikson said, after establishing a personal identity in adolescence, young adult seek to form intense, usually romantic relationship with other people. Commong symptoms of quarter life crisis are often feeling of being lost, scared, lonely, or confused about what step to take in order to transitio properly into adulthood. Studies have shown that unemployment amd choosing a career path is major cause for young person to undergo stress or anxiety. Early stages of one living on their own for the first time and learning to cocpe without parental help can also induce feelings of isolation and loneliness"
Quater life crisis-wikipedia. Wikipedia.org/wiki/quarter-life_crisis
Hap. Itu barusan saya mencuplik informasi ((secara plagiat)) mengenai quarter life crisis. Sudah jelas kan? Ada point penting menurut saya dari indikasi quarter life crisis: 'seek to form intense', lost, scared, lonely, confused, doubful, isolation. Hmmm. Bisa dikatakan sindrom ini seakan anak keluar dari ketek emak lah.
Rasa-rasanya sindrom ini sudah mulai saya rasakan sejak akhir penghujung 22 tahun saya.
Mari flashback.
Di april 2013, postingan saya berlabelkan 'marched of march' menceritakan mengenai lembah titik balik saya atas ((akhirnya lepas)) dari kerunyaman masalah dengan si tuan a-es-a-de. Pasca pembunuhan karakter bertahun-tahun, saya beruntung akhirnya mampu menemukan kembali karakter saya. Posting berlabel 'freedom itu bebas' seperti perwujudan terbebaskannya saya: menemukan tujuan, sikap, dan kemandirian.
Di bulan juni dan juli 2013, postingan saya berisikan pengemisan cinta, dan penetapan cita-cita. Hm, see? I started the syndrome, didn't I?
Agustus 2013, saya memulai rangkaian postingan "A Thousand Question". Kalian akan mengetahui perjalanan pemikiran saya mencari makna dan hikmah kebenaran hakiki.
A thousand question di awal (2013-2014) berisi pemberontakan saya terhadap diri saya yang pernah bersemayam, kesadaran tanggung jawab, kesadaran beban moral, kesepian, pencarian arti kemapanan, ketakutan memiliki jenis beban moral baru berupa 'keluarga', bingung dengan perbandingan antar generasi, penetapan fondasi iman ((yang sempat terobrak-abrik)), dan skeptis kepada kehidupan.
Menariknya, saya sempat labil mengenai cinta dan perasaan di April 2014. Lagi dan lagi. Padahal saya sudah cukup survive, bangkit, dan mulai nyaman dengan sendiri. Tulisan itu saya detilkan dan tuang dalam tulisan 'love is the prize'. Ehm, beberapa pekan lalu saya berniat menghapus segala tulisan 'love is the prize' setelah saya sadari bahwa 'saya tidak akan pernah tahu apa itu love sesungguhnya. Siapa jodoh saya sesungguhnya. Seperti apa soulmate abadi saya'. Mengingat kembali filosofi 'love is the prize' adalah 'kehidupan adalah permainan wajib semua orang, maka cinta ((kasih sayang)) adalah hadiah dari permainan yang dijalani'. Terinspirasi dari Aviici-wake me up. Saya sudah memulai permainan dengan berdoa agar keluar dari kesendirian, dan terwujud dari datangnya sosok Arif yang menginspirasi tulisan 'love is the prize'. Proses nyata begitu tercurahkan di tulisan 'love is the prize'. See? I played the syndrome, didn't I? 'Seek to form intense, usually romantic relationship with other people'.
Penghujung 2014, saya mulai jarang menulis. Seingat saya, saya dalam fasa homeless alias ngegembel, ngelakuin perjalanan, serabutan dengan berbagai dokumen (job-seeker, experience-seeker). Tulisan saya pun dapat dikategorikan sebagai: 'begin to feel doubtful about their own lives, brought by on the stress of becoming an adult'. Skeptis.
2015 sudah masuk dalam fasa saya sibuk dengan kuliah dan lingkungan baru. Masih segar diingatan saya bahwa 'saya sadar ini adalah jalan yang saya cita-citakan. Maka berjuanglah meski sulit'. Mungkin karena terpengaruh suasana kaum intelektual, pemilihan topik dan kalimat lebih lugas, tidak lagi bertele-tele. Lebih bertanya bukan ke arah skeptikal atau retorika hidup. ((Malah)) lebih kesarkasme kepada gagasan diri sendiri. Intensitas terkendalikan oleh ego telah memudar. Rasa tanggung jawab membesar disini. Hm, jelaslah. Saya memang mengalami fasa quarter life crisis.
Ah ya, saya sudah sangat dekat dengan Abraham Claflin. Berkali-kali mencoba tidak lagi berkomunikasi dengan Abraham, dan gagal berkali-kali juga. Hahaha. Eh, tapi sejak Abraham akhirnya melakukan perjalanan pencarian kedamaian, kami jarang berkomunikasi lagi deh. Semoga ada jalan terbaik untuk kami berdua.
Rasanya, inilah penghujung quarter life crisis saya. Dimana saya sudah sulit kembali digerakan dengan sensasi asmara, skeptikal masa dewasa berkurang dengan kesadaran masa dewasa ((hidup dan menjaga kakek adalah pengalaman yang membuahkan kesadaran banyak hal)), idealisme dan prinsip hidup saya sudah ada yang terkristal menjadi jati diri. Luapan ego yang diskrit tercitrakan pada tulisan berlabel "arman", namamu. Karena saya telah mampu melihat kesempurnaan mu, kesempurnaan proses kehidupan, dan kesempurnaan kuasa ilahi.
Ha!! Di paragraf ini saya berfikir:
"Terus apa sih masalahmu, wahai Sukma?"
Serius! Saya merasa tidak ada lagi masalah yang membebani saya. Hanya karena flash back proses, saya pun merasa ringan kembali. Setelah saya sadar, saya ((mungkin)) berada di penghujung quarter life crisis. Bersikap, dan berdoa (dalam islam ada istilah bertawakal di jalan kebaikan) adalah jawaban dari segala life crisis.
Ah, berdoa.
Ya, sepertinya saya harus tekun berdoa mengenai eliminasi beberapa bagian ketakutan, dan phobia; dan peningkatan rasa percaya diri, dan kualitas hidup. Termasuk di dalamnya adalah doa terbaik atas sikap "akankah saya mengarungi bahtera rumah tangga dengan seseorang atau tidak?", "akankah saya kembali kepada homeless state bekerja untuk perjalanan filosofi di dalam benak-dan-juga-daring-blog-ini?" Ehm, itu ternyata pertanyaan pilihan yang membuat saya khawatir dan belum mampu saya jawab. Keterbatasan gender? Saya berargumen seperti itu sekarang, entah bagaimana seharusnya argumen itu berbentuk.
Doa dan dialog yang saya butuhkan.
Hey Arman, kamu mendengarkan saya kah? Kurasa tidak, karena ruhmu telah terperangkap dalam jasad yang telah redup terdekomposisi menjadi dimensi 0 milik bumi: tanah.

No comments:
Post a Comment