Ahey, saya menulis surat untukmu lagi. Bener-bener bulanmu yah. Bulan september. Dulu kamu selalu bilang "ih, coba sih mencintai bulanmu sendiri. Bulan mei! Itu identitasmu". Entah apa reaksimu kalau saya tidak mencintai bulan mei, melainkan mencintai 23, dan identitas S di dalam supersinsides. Saya tidak sebebal yang terlihat. Saya hanya sedikit impulsif.
Bertahun-tahun saya kehilangan sosokmu, tetapi semakin saya kehilangan sosokmu, semakin besar rasa terhadapmu. Dulu, kita selaku berkonflik sebenarnya, hanya saja sekarang hanya kebaikanmu yang menempel di dalam memori saya. Saya begitu takut mengakuinya, mungkin saya sebenarnya sudah menemukan sejati saya. Kalau benar begitu, berarti saya begitu apes di kehidupan ini.
7 tahun kehilanganmu, sekitar 3 tahun saya mengabsenkan diri dari menstatuskan orang. Tidak dapat dikatakan menghilang dari dunia romantika. Itu alasannya, beberapa orang geram pada saya. Banyak menilai saya sebagai manusia plin-plan tidak berpendirian. Ah, sudahlah, saya suka bingung dengan terminologi sosial subjektif. Karena bagi saya, saya tidak seplinplan ((yang orang lain menganggap murahan)) yang orang lain katakan. Saya tidak menstatuskan diri dengan siapapun, mindset saya pun sampai sekarang belum berubah: segalanya harus menjawab dan memuaskan pertanyaan saya "untuk apa?". Walau saya harus akui bahwa saya dekat dengan beberapa orang. Ah, bagaimanapun saya tetap butuh orang untuk bercerita, berdiskusi, dan saling mendukung. Seharusnya sahabat saja kalau begitu. Ya memang, semua pada akhirnya menjadi teman saya; beberapa menjadi sahabat saya. Terimakasih untuk kalian yang berproses baik dengan saya, berusaha memahami pola pikir saya, sukses membuat saya bercerita, dan menjadi sahabat saya.
Mungkin, saya saja yang telah bertemu kamu yang "pas". Karena itu, saya akhirnya tetap kembali kepada keadaan ternyaman selama 3 tahun. Tepat sekitar setahun lalu, saya sempat merasa, menemukan "the one" atas nama Arif. Beberapa tulisan blog juga sempat tertuju kepada dia; dia berjuang kosong begitu saja karena masih dalam keadaan duka kehilangan pacarnya yang sudah wafat. Kecewa? Haha, jangan becanda. Okay, cemburu sejujurnya. Bagusnya, saya dapat pencerahan bahwa membandingkan KAMU itu tidaklah diperbolehkan. Kamu tetap kamu, ada diingatan saya, dan realita tetap realita; jadi, ya sudahlah.
Bulan-bulan sesudahnya, jadi sebuah antibiotik bagi saya. Rasa kebas dan imun di perasaan. Itu artinya, saya sudah malas berdayu-dayu disetir dengan rasa juga sensasinya. Takdir berkata lain, saya dibuat terpesona dengan logika dan hati seorang duda beragama lain beranak satu. Hubungan serius? Ya kami serius mengakhiri hubungan kami, tetapi tidak mampu melakukannya. Perbedaan malah semakin mendekatkan kami; kami saling membutuhkan, hanya sesederhana itu alasan kami. Kedekatan kami malah membuat ibu akhirnya berdoa temtang jodoh untuk saya di akhir ibadah beliau. Argh. Setelah ibu bercerita tentang doa beliau, kami benar-benar sibuk dan hampir 1 bulan kami tidak berkontak. Rindukah saya? Cemaskah saya? Tentu saja, hanya saja saya telah kebas dan imun. Dua lagi pelajaran berharga bagi saya: rahmat Tuhan tidak terbatas ((ketika perasaan saya imun dan kebas, tuhan mengikat saya dengan hal lain selain perasaan, menjauhkan kami pun dengan perasaan yang imun dan kebas)); yang kedua jangan remehkan doa wanita ((saya pun tidak boleh sembarang berucap karena saya pun seorang wanita))
Sekitar 2 minggu lalu, saya bertemu dengan seorang pria. Jika saya adalah 75% introvert, maka dia adalah 90% ekstrovert. Jika saya adalah 90% melankolis, maka dia 190% koleris. Bisa terbayang betapa saya tidak begitu menyukai kehadirannya. Arogan: sifat yang saya hindarkan, sifat yang rasanya membesarkan dia. Satu minggu setelahnya, saya menemukan sisi kebaikan, ketulusan, dan kedewasaan dia. Bersamaan dengan sifat ekstrovert dan kolerisnya, saya belajar memahami cara kehidupannya dan pola pikirnya yang "tidak sesimpel dan semetroseksual dengan penampakan selera berpenampilan". Sempat ada ucapannya yang menyentil saya ketika dia bilang: "wah, ga bisa begitu. Tetep harus ada prioritas di beberapa hal. Apalagi masalah membangun keluarga kecil bahagia itu harus ada rencana. Walau kerja, dan sekolah itu juga penting". Ah, rencana kecil saya dulu seakan tergelitik terbangun. Dulu, kita berdua berencana menikah ketika saya berumur 21 tahun, memiliki anak di umur 25 dan 28. Rencana itu pupus terdekomposisi sepeninggalanmu. Terdekomposisi diam-diam menjadi benih baru sejujurnya: "menikah di umur 29 tahun, mengikuti terapi dan program ibu-anak-ayah, memiliki anak kembar perempuan-lelaki di umur 32 tahun, bekerja lepas tidak terikat hingga anak-anak mencapai 7 tahun, kembali bekerja mandiri atau terikat". Bagi saya, tunas itu berada di tanah krusial. Ya, atau tidak sama sekali. Entahlah, detik ini saja saya belum mampu menanggapi apapun.
Yap, intinya, memang saya sudah kebas. Sudah itu saja. Ingatan tentangmu memberikan peran besar. Positifnya: I resist.

No comments:
Post a Comment