28 Agustus 2015
Sore tadi, kulihat ada sebuah kristal putih jernih di angkasa biru. Saya masih berada di antara hiruk pikuk kabut polusi, deru mesin, klakson berkas hari, dan komposit merah pelindung tengkorak. Ya, saya masih berada di jalanan. Menikmati kemacetan? Tentu tidak. Saya bukan penikmat kemacetan. Tidak sedetik pun, saya mampu menikmati jalanan di pagi dan sore hari.
Bukan sekali saja saya berdeja vu dengan senja dan keramaian. Berkali-kali. Hampir 5 kali dalam seminggu. Ada kesamaan spesial sore ini dengan sore sekitar 4 bulan lalu. Saya berada di perempatan lampi merah yang sama, menatap bulan purnama yang masih sebening kristal, membawa seloyan kue tiramisu, dan bertegar dalam kesedihan.
Hanya dalam 4 bulan saya mengalami kesedihan untuk subjek yang sama. Hanya dalam 4 bulan saya mengalami kesedihan atas alasan yang TOTAL berbeda.
Sekitar 4 bulan lalu, saya mengalami kesedihan karena ((kembali lagi merasakan)) "my house isn't my home". Kelelahan, kemuakan, kejenuhan, kemarahan, dan ketidaknyamanan adalah magma dan energi yang menyembur bagaikan lava. Hingga hampir 25 menit saya berdiri di depan pagar rumah saya, di atas kendaraan saya. Tanpa menyalakan lampu, dan mesin. Hanya duduk, dan melihat. Bertanya-tanya "haruskah saya masuk ke dalamnya? Pantaskah saya memakai air di bawah tanahnya? Adakah kehangatan dan kenyamanan nanti?" Tanggung jawab dan moral yang menggiring juga mengikat saya hingga saya akhirnya mengakhiri aksi "diam" tersebut.
Sore tadi, saya melakukan hal yang sama. Berdiri di depan pagar rumah saya, di atas kendaraan saya, Hanya satu magma dan energi yang ada. Kesedihan. Kesedihan dari 3hari lalu memuncak di malam ini. Kesedihan membuncah setiap mengingat rumah dan seisi rumah. Kesedihan yang tidak tersalurkan kepada subjek juga objek pun. Bertanya-tanya: "benarkah bulan depan saya hanya bersama simbah, burung-burung, dan kucing di rumah? Haruskah setiap pagi, siang, dan sore tidak adalagi suara tangis, rengekan, tawa, celoteh, dan teriakan anak kecil? Akankah bulan depan hanya kesunyian, bising televisi, dingin, sepi, dan monoton yang menyelimuti bangunan besar ini?" Tanggung jawab dan moral terbayang semakin besar dan tidak berujung. Berdoa ada kekuatan, kesabaran, energi, ketangkasan, dan kebaikan yang lebih di bulan depan. Sepeninggalan teteh Ros, dan kakak Fauzi seakan meninggalkan jejak berarti begitu besar. " tidak sanggup ditinggalkan dan berjuang sendiri" adalah alasan besar bagi saya (tidak ingin teteh ros pulang) dan teteh ros (pulang kembali membangun keluarga kecil).
"Kemarin aku begitu muak dengan rumah besar dan rasa sepi. Sekarang aku dihadapkan pada kejujuran energi kesedihan kalau aku membutuhkan mereka yang telah aku usir. Atas nama Tuhan, berjanjilah Uma, pahamilah berbagai kesedihan dan kesepian, agar kita sama-sama tahu mengerti bagaimana harga kebersamaan. Kembalilah ketika kepunyaanku mengusirmu, aku pun akan kembali ketika kepunyaanmu mengusirku"
Arman, saya telah memahami kesedihan dan keseoian, juga telah menyadari harga kebersamaan. Kurasa telah telat masa tenggang saya, karena kamu tidak akan pernah kembali. Yang telah pergi tidak akan pernah kembali. Kamu telah terusir bukan karena kepemilikanku, melainkan kepemilikanmu. Ucapanmu bertahun-tahun lalu ketika saya memergoki cara shooting bola "tidak lazim" , teringat olehku di saat saya dikuliti kesedihan (karena kesedihan selalu menguak kejujuran).
Lagi dan lagi; saya tidak sanggup dengan jenis perpisahan ((juga disusul penyesuaian baru)).
Atas nama Tuhan, kembali lah dan datanglah sebagai anugrah kebaikan.

No comments:
Post a Comment