A thousand question #40

"Seyakin apa anda telah berubah?"

Ingin sekali saya menertawai pertanyaan ini dengan keras dan jelas. Ingin menunjukan cemoohan yang nyata dan jelas kepada dunia atas segala satire dari pernyataan "saya telah berubah".

Cuih, manusia tidak akan menerima perubahan. Itulah mereka melebarkan stigma kepada lingkungan agar tidak ada yang berubah dengan sebuah senjata: stereotype.

Ya, itu terjadi oleh saya. Saya berteriak sebelumnya bahwa "HOOOY KHALAYAAAAK RAMAAAAI, saya BERUBAH". Yap, saya merasa sebagian diri saya berubah, karena saya melakukan effort dalam perubahan. Kemuakan, kejenuhan, derita yang membuat saya memaksa diri harus berubah. Eits, satu lagi: umur. Umur bukan sesuatu yang menandakan degenerasi raga, melainkan keharusan 'aware' atau keharusan peka. Karena saya bereffort, maka saya berharap ada sebuah ucapan "kamu berubah, wahai sukma". Saya mendapatkannya? Ya tentu. Tetapi kurang, karena ucapan itu belum muncul dari satu orang tujuan.

Percayalah, manusia tidak akan menerima perubahan. Manusia pula yang tidak menerima lingkungan berubah. Omong kosong dengan ucapan "pemuda tidak takut perubahan". Andai saja pemuda bukan manusia, maka dia pantas menyandang ucapan "pemuda tidak takut perubahan".

Stereotype dan sinismis. Ck, paduan sempurna. Paduan sempurna menjaga entropi lingkungan. Anti perubahan. Sama halnya dengan seorang rekan (well, dia sahabat main saya dulu, tetapi ada banyak hal membuat saya malas menganggap dia sebagai sahabat); saya membaca ketakutan dia yang tertendang dari pergaulan, kemudian mengatasi dengan candaan dan kenyataan yang tidak disukai. Lantas itu dikatakan sebagai stereotype? YA, ITU STEREOTYPE DAN SINISMIS!!

Terkadang keduanya memang merupakan sebuah kebudayaan dan akar dari pembentuk jati diri suatu manusia sosial. Tidak bisa disingkirkan begitu saja. Jadi anggap saja itu sebuah kelaziman mutlak di lingkungan saat ini. Itu pula alasannya: mengapa junior dan senior satu tingkat atas di mapala saya menganggap temeh saya, karena mereka mengenal saya sebagai seorang temperamental dan bebal; mengapa keluarga bapak kandung saya selalu menyinyir kepada saya, karena mereka mengenal saya yang keras kepala dan lemah hati terhadap uang; mengapa kakak saya sendiri memperlakukan saya seperti pembantu, karena dia mengenal saya mempunyai waktu tidur lebih banyak darinya dan tidak oportunis seperti dia; mengapa ibu saya selalu mendoakan saya agar tidak pernah berhasil berprestasi besar, karena beliau mengenal saya yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru dan saya yang temperamental. Mungkin, begitu adanya, dan tidak menyangka saya "tahu". Sungguh, saya tahu, hanya tidak yakin kalau mereka-mereka tahu "bahwa saya mengetahui". Yang sama dengan saya dan mereka adalah ketidaktahuan bermula dari pertanyaan "benarkah saya telah berubah dari sosok dikenal tersebut?"

Awalnya saya menutup mata saya dengan stereotype dan sinismis. Sampai suatu ketika, saya melihat bahwa kakak kandung saya tetaplah seorang yang manja, lembut, egois, dan penyuruh. Tidak pernah berubah dari saya mengingat sosoknya sejak saya punya ingatan. Juga keluarga kandung bapak saya tetaplah yang baik hati, suka menolong, sarkas, hobi menggunjing, dan oportunis. Dari dulu sampai sekarang, opini saya tentang mereka tetap seperti itu. Dengan kata lain, saya pun ternyata bukanlah seorang pemuda yang berhak mengucap "pemuda tidak takut perubahan". Saya pun tidak seharusnya berhak mendapatkan ungkapan: "kamu berubah, wahai sukma"

Maka membusuklah peradaban manusia bersama-sama kalau begitu adanya.

No comments:

Post a Comment