Berkaitan dengan potingan pertanyaan ke 38, saya mengingat salah satu kisah kita.
Masa SMA. kala itu salah satu liburan pertama setelah perpisahan 3 bulan masa orientasi saya. Rindu jelas ada. Hanya, saya juga tidak paham dengan jenis syaitan yang membisiki saya kala itu. Ego, marah, dan dengki. Yah, saya akhirnya memang memiliki satu sosok yang ingin celakai. Kepulangan masa orientasi menaburkan bibit dendam. Hanya saja dendam tidak tersampaikan hingga sekarang. Alhamdulillah sekali, saya mampu menitipkan tanaman dendam tersebut lepas dari raga dan jiwa saya.
Emosi masa SMA telah menghabiskan waktu dan perhatian saya. Menyia-siakan keberadaanmu. Masalah saya kala itu hanya keluarga dan rasa dendam, tidak lebih. Salah adalah saya mengalami masalah di saat bersamaan dengan masa remaja. Masa egoisentris. Merasa dunia harus memerhatikan saya.
Arman, dia terpaut 4 tahun dari saya. Meski dia terbilang muda di kampus dan angkatannya. Kala itu, dia sedang menempuh dunia perkuliahan di penghujung tahun. Jelas, itu masa tersulit bagi para mahasiswa. Saya baru saja mengalaminya dua tahun lalu. Tidak hanya menjalani perkuliahan di penghujung tahun, saya tahu ada masalah besar lain yang menghantui dia. Masalah yang masih saya ikuti perkembangannya sebagai hobi kecil saya.
Egoisentris saya menyetir segala tindakan saya, prilaku saya, perkataan saya, tatapan saya, dan cara fikir saya. Mungkin, Arman nyaris jengah dengan segala kebencian saya, dan saya tidak merasa terdukung oleh Arman. Konflik besar pun muncul antara kami. Berkali-kali diskusi (beruntunglah kami berdua selalu mengandalkan diskusi, saling terbuka dan mendengar. Sebelum akhirnya masa SMA mengoperasi lekat-lekat bibir dan lidah saya) kami membuahkan hasil agar kami bertahan. Hanya, masalah terus datang. Sayalah penyebab itu semua. Saya mengakuinya. Logika saya berkabut, hati saya menghitam kala itu. Apalagi ketika saya sudah harus kembali ke asrama. Banyak yang belum terselesaikan.
Mungkin, Arman yang banyak mengalah kala konflik besar. Arman mencoba memahami 'apa mau saya', meski saya tahu dia ingin membimbing saya kepada 'apa yang baik bagi saya'. Salah satu inti kalimat diskusi terakhir sehari sebelum berangkat balik:
"Diskusi selama ini akan sia-sia kalau lu (saya) tetap mengabut. Terserah gimana maulu. Kalau mau lu pisah karena lu butuh orang di sana membantu emosi lu terlimpah di asrama, gue ikutin karena gue juga paham niatan begitu dari -sebuah nama sahabat dia di kampus-. Gue sempet jalan bareng sama cewe di kampus. Junior gue. Lu bisa jadiin itu alesan buat marah ke gue. Gue terima. Inget sama ucapan -sebuah nama sahabat kami-? "Kemanapun -sebuah nama pacar sahabat kami- pergi berlabuh mencari pelabuhan yang cocok, pelabuhan yang cocok sama dia cuma gue". Jadi, terserah kalo lu mau berlabuh, gue tetep nunggu lu. Adaptasi itu harus. Tapi bagi gue enggak jika harus beradaptasi dengan orang baru. Percayalah, itu sulit. Lu harus belajar memilih dan bertindak mulai sekarang"
Terpaut 4 tahun itu ternyata ekstrim. Pola pemikiran yang belum matang bertemu dengan pola pemikiran dewasa yang melebihi umurnya. Perempuan lemah hati dan bodoh bertemu pria gemilang, tegas, dan bijaksana. Arman memilih cara terakhir dalam membimbing saya kala itu: "busur dan anak panah", memberikan bekal yang seharusnya dan pasrah atas kuasa Tuhan dan Semesta. Pasrah.
Jika saja waktu bisa diulang. Jangan biarkan saya dikendalikan kebencian. Kembalikan waktu-waktu kebersamaan kami.
Here I stand. To sing "let him go" of birdy dan berdamai dengan kekosongan.

No comments:
Post a Comment