Arman #2

Di dalam ingatan saya, Arman adalah sosok pria jahil, acuh-tak-acuh, cerewet, pengatur, dominan, kuat, dan tampan. Di lain waktu, sikap dominan Arman mampu berubah sebaliknya, sosok penurut, lembut, penuh kasih sayang. Kasih sayang bahkan memancar di mata Arman, gerak-geriknya, juga tutur katanya. Arman bagaikan sosok pria dewasa bagi saya yang masih begitu cetek dalam berfikir.

Banyak manusia kuat dan bertubuh kekar, kaya dan berharta, tua dan tumbuh; begitu pun Arman. Dia memiliki kelebihan. Cukup membuat banyak remaja wanita tertarik karena postur tubuh yang baik; cukup membuat remaja pintar menatap karena kecakapan berkata-kata. Dari semua tersebut, Arman memiliki tatapan, senyuman, sentuhan terbaik, dan kesederhanaan. Dia terbaik dan ideal di versi saya. Sekilas, saya merasa selalu mengenal Arman dengan baik. Mengenal dan menemukan kesamaan, kemudian merencanakan banyak hal bersama. Yah, arman lebih sering mempause rencana dari saya. Memberikan proyeksi dan kesadaran kalau saya belum cukup 'hidup' menantang hidup. Ck, itulah salah satu sisi kelebihan Arman di ingatan saya. Secara sesaat, Arman cukup egois dan menyebalkan juga dominan karena dia menyuruh saya cukup mendengar dan berkata 'rencanamu yang tadi bagus. Masuk akal, bisa ditampung. Kita tentukan di 21 mu'

Seakan-akan saya cukup mengenal Arman. Lembut, huh?
Nyatanya, saya tidak begitu mengenal Arman. Arman selalu bercerita tentang dunia pendidikannya, keluarganya, dan teman-temannya. Selalu dalam versi baik, menarik, dan lucu (yang masuk di akal), meskipun saya sesekali menyerngit karena menemukan esensi 'tidak baik'. Arman cukup berada di posisi penengah di lingkungan. 'Semesta' tersendiri jika itu bahasa saya.

Kemarin sore, ketika sedang berjalan-jalan sendiri, saya melakukan pertemuan tak terduga dengan seseorang yang mengenal Arman. Saya saat itu sedang duduk menunggu pembayaran kopi saya belum selesai. Tidak, saya tidak mengeluh dengan jaringan yang terganggu. Panggil saja sosok baru ini bernama 'Bob'. Bob menegur saya karena mengenal saya. Kunci utama yang dia ucapkan adalah "kamu kekasih Jensen, bukan?" Hooo Jensen... itu salah satu nama panjang Arman. Dia bilang bahwa kami pernah bertemu. Bob adalah teman kuliah Arman. Setelah saya ingat-ingat, ya, Arman pernah bercerita tentang teman kuliahnya, tapi saya adalah seseorang pelupa. Ketika, saya bertanya bagaimana bisa mengenal saya? Oh jelas saya was-was saat itu. Sesuatu yang aneh ketika ada orang yang memaksa menyapa. Pengalaman hidup saya: kebanyakan orang akan malas menegur orang yang lama tidak pernah bertatap wajah, bahkan meskipun masa lalu mereka pernah menjadi rekan kecil atau bahkan mungkin masa lalunya pernah menampar. Bob menjawab dengan enteng bahwa dia memiliki ingatan photographic. Okay, saya langsung mengenal sosok Bob ini. Arman hanya punya satu teman photographic memory di sepanjang hidupnya. Bob ini rekan sejawat Arman sepanjang kuliah.

Respon kecurigaan saya melunak. Hal tersebut mungkin membuat Bob nyaman. Bob akhirnya memulai nostalgia mengenai Arman dengan memberikan pernyataan: "are you okay?" Saya sih hanya tertawa, tidak paham harus menjawab apa. "Kamu ga apa-apa setelah ketidakhadiran Jensen?" Bob seakan menghujamkan tombak langsung ke kepala saya

Singkat cerita dari pertemuan saya dengan Bob, saya bukan satu-satunya orang yang kehilangan Arman. Bob pun juga mengenalkan saya dengan sosok Arman yang arogan, keras, dan tanpa hati. Arman memang berkuliah di jurusan hukum. Menjadi jaksa atau pengacara adalah mimpinya. Hanya kali ini, saya menemukan kepribadian keras, liar, cerdik, dan jahat dari cerita Bob. Arman dan Bob sering menjadi partner dalam berbagai kegiatan. Sikap dominan, dingin, dan tidak toleran menjadi label buat Arman di kampus, tetapi menjadi magnit kuat buat reputasinya di kampus. Tulisan-tulisannya sering menjadi hal yang mengehebohkan bagi setiap kalangan. Setiap kelas debat, ataupun, sidang simulasi, ataupun diskusi Arman bukanlah orang yang akan berbicara pertama, tetapi selalu menjadi orang yang menarik simpatisan terbanyak. Banyak kelompok organisasi di kampus 'mengejar' keanggotaannya, tetapi dia tidak pernah menolak juga tidak pernah menerima. Arman selalu berbicara lugas tanpa topeng dan filter tentang apa yang bagi dia jelas-jelas menyimpang. Beberapa orang memusuhi Arman karena segala kharisma Arman, dan banyak orang sangat loyal kepada Arman setelah mengenal Arman lebih dekat.

Arman yang saya kenal hanyalah Arman yang hangat, dan ramah. Jalan-jalan seru kami selalu diisi dengan kegiatan sosial seperti mengajar dan mengabdi beberapa rumah darurat. Penyabar dan baik. Berbeda versi dari "ngampus" Bob. Kenyataan bisa saja berkata lain. Itu selalu. Saya pun pernah menemukan versi marah Arman yang menunjukan sisi kejam Arman. Bisa jadi, Arman di kehidupan aktif (katakanlah Arman di depanku adalah Arman di kehidupan pasif) adalah sosok tangan dingin, jarang tersenyum, dan garang.

Ada sebuah cerita Bob yang membuat saya tersanjung. Bob bercerita lingkungan mereka yang 'bermain'. Ah, sudah biasa saya mendengar dan menatap hal-hal gemerlap dan menentang larangan agama seperti itu. Disanalah, saya bersyukur telah menitipkan hati dan kepercayaan saya untuk Arman. Dia memiliki kendali kuat atas dirinya dan memegang teguh rasa percaya saya. Umur saya yang ke 21 tahun adalah janji atas segala kepastian hidup kami kelak. Bob bilang: "Jensen selalu bilang kalau doi sudah ada yang punya dan dia masih labil, jadi harus dijaga dan dibimbing"

Senyum saya merekah. How perfect you are. May God be always with you.

No comments:

Post a Comment