"Seberapa tegar usaha menantang hidup?"
Tegar dan berdiri di satu keyakinan. Apapun kejadiannya, dia kuat berdiri di atas satu keyakinan, menantang arus realita. Dalam pandangannya, ada manusia yang sama-sama berdiri tegar tetapi di satu waktu dia berpindah-pindah di posisi lunak terhadap arus; "cih, hipokrit!" Desis si manusia tegar. Dalam pandangan lain, ada manusia yang sama-sama berdiri tegar, bahkan kerap menemani berdiri tegar, hingga suatu kondisi tubuh manusia mulai terkikis arus, di raga terakhir manusia memaafkan "maaf, kita akan bertemu lagi" kepada si manusia tegar sebelum akhirnya terjun ikut menjadi arus; "bajingan, penjilat!" Dalam pandangan lain, ada manusia yang selalu menelungkup di satu posisi dan tidak bergeming; "ah, lemah". Dalam pandangan di depannya, dia melihat arus kehidupan memecah begitu luwes dan lembut tanpa menjadikan sebuah turbulensi di lingkungannya, tidak menyangka ada sebuah akar pijakan keyakinan di bawah ia berdiri, akar ulet, batang ramping, dia berkamuflase sebagai arus; "dasar oportunis!"
Itu tadi hanya sebuah cerita karangan saya. Benar terjadi atau tidaknya, saya tidak tahu. Jika tidak terjadi biarkan paragraf tadi menjadi paragraf fiktif, jika benar terjadi biarkan paragraf tadi kebetulan. Hipokrit, penjilat, lemah, oportunis adalah sapaan makian hina bagi manusia.
Hanya saja sapaan hina tersebut bisa saja berawal dari kesempitan pemikiran. Hanya saja pula, sapaan hina tersebut merupakan antithesis kesetiaan atas keyakinan. Akui saja, selalu ada matter dan antimatter di dunia ini. White hole dan black hole. Partikel dan antipartikel. Baik dan buruk.
Kebenaran selalu berdiri sendiri. Itu harusnya adalah tujuan segala kehidupan. Kesalahan bukanlah antimatter dari kebenaran. Yang menodai kebenaran selalu hanya dinamakan penyelewangan. Penyelewengan memiliki latar belakang tindakan; yang saya lihat selama ini, latar belakang justru dari ketidaksempurnaan pemahaman, atau pengetahuan yang sebagian. Itulah mengapa ada banyak sektarian agama, prokontra, rasa ketidakadilan, protes. Bisa jadi indikasi itu semua adalah perkembangan akal manusia, bisa jadi pula sebuah kondisi kritis, bisa jadi pula chaos state, bisa jadi pula indikasi ketololan individu yang berkumpul secara masal. Siapa yang tahu? Yang tahu pastilah yang Tuhan, dan kekasih terpilih.
"Semoga Tuhan memberkati"
Siapa yang diberkati? Keyakinan apa yang diberkati Tuhan sehingga begitu tegar dalam terpaan arus kehidupan?
Sejujurnya, agak sulit bagi saya mempercayai hal gaib. Gaib dalam artian yang tidak kasat mata.
Disini, mari membuat batasan pemahaman dari "kasat mata". Apa yang "kasat mata"? Apakah itu indra mata? Apakah itu lima indra? Bagaimana jika ada sosok lain yang mampu menembus batas "kasat mata" lebih dari lazimnya makhluk sesamanya? Seperti ahli botani mampu melihat tanaman lebih dari lazimnya makhluk sesamanya? Atau ahli partikel yang mampu melihat keberadaan penyusun terkecil lebih dari lazimnya makhluk sesamanya? Atau penjaga kebun binatang yang mampu melihat pola binatang lebih dari lazimnya makhluk sesamanya? Get it?
Dengan kasat mata yang lebih meluas, diperlukan latar belakang bibit bobot bebet seorang person. Sulit sungguh sulit saya menjabarkan apa yang ingin saya sampaikan.
Berangkat dari batasan tersebut, saya menyampaikan secuil ketakutan dan ketidakpercayaan saya. Satu kejadian membuat saya terbuka akan batasan yang sudah dijabarkan di atas. Satu kejadian lain adalah kasat mata saya menangkap ketidaksempurnaan pemahaman berupa kontra sektarian, protes internal, dan saya pastilah begitu tolol. Satu kejadian lain adalah rasa hutang budi.
Realita di dunia saya adalah Pa Dhany membuka batasan "kasat mata" saya, saya begitu menuruti Ibu saya, Ibu saya dan Pa Dhany dekat dengan seorang pria dengan kemampuan "gaib" yang besar, pria tersebut kerap menolong ibu dari berbagai penyakit "gaib", pria tersebut dahulu "menjembatani" Pa Dhany karena kemampuan menafsirkan Al-Qur'an, pria tersebut sering mendoakan saya. Ya, ini hanya mengenai pria tersebut. Pria tersebut pernah "mengkafirkan" komunitas lingkungan saya, bebal, tidak mengenal aturan, tidak beretika, dan terparahnya adalah sok tahu. Itu menyelewengkan keyakinan saya. Saya terbisiki dan mencium sebuah penyelewengan kebenaran berkedok kemusyrikan. Takut terhadap gerbang kemusyrikan dan ketidakpercayaan terhadap... kasat mata? Oh saya sendiri ragu.
Pastilan saya si tolol luar biasa yang menyapa makhluk lain dengan sapaan hina. Iri terhadap si lemah, dan oportunis; kagum terhadap si hipokrit; dan merasa superior atas si penjilat.
Jadi, seberapa tegar usaha menantang hidup?
Sanggupkah satu-satunya kehidupan ada hanya menantang hidup itu sendiri?

No comments:
Post a Comment