love is the prize #25

helloooo. 
welcome to 2016! 

oh, saya tahu, terlalu terlambat mengucapkan happy new year di akhir bulan Januari. ada banyak ide yang berserakan sebenarnya untuk dituangkan dalam tulisan blog. ada banyak waktu juga untuk membuat sebuah tulisan. 

suatu saat, saya mencoba melihat segala sesuatu dalam sisi positif dan posisi diuntungkan. karena saya baru saja mengalami di lembah pengalaman hidup. jadi ingat film avatar kora: "kamu mendapatkan kekuatanmu di kondisi terendah hidupmu" yah, semacam itulah. hanya saja saya bukan avatar, jadi saya tidak mendapatkan kekuatan ataupun berkoneksi dengan spirit. 
jadi, saya mencoba melihat apa yang bisa saya syukuri. mengawali dari penyesalan dan kekecewaan. 
oh, jangan tanya seberapa banyak penyesalan dan kekecewaan saya. BANYAK. tapi ini yang paling mengena sepanjang saat. 

sekolah di Jepang. 
bukan sebuah rahasia kalau saya sejak lulus sma berambisi meneruskan sekolah di Jepang. kenapa Jepang? saya tidak tahu. itu ambisi! sampai sekarang pun saya bertanya-tanya jurusan apa yang akan saya geluti di Jepang? kedokteran? haha, bukan fokus impian saya lagi. nuklir plasma? ga yakin otak saya mampu jika kondisi seperti sekarang. imobilisasi limbah radioaktif? australia lebih baik. jadi secara gamblang, itu hanya ambisi! 
sebagai tambahan, menjadi pengurus rumah (latihan terselubung dari ibu) membuka mata saya: saya tidak akan sanggup meninggalkan rumah dan seisinya. kalau ada ilustrasi rantai yang menjerat wanusia dengan rumah penuh orang tua, pekerjaan rumah, dan anak kecil; saya termasuk jenis wanita itu. kondisi rumah jika saya tinggalkan seakan segalanya acak-adut; memperkerjakan orang lain? jangan bercanda, cukup trauma saya. jangankan ke Jepang, selama 2 minggu belakangan, terus menerus saya pulang-balik serpong; saya merasa tidak mampu menghandle segalanya. ini saja saya bersiap-siap menerima keadaan (lagi) bahwa apa yang saya usahakan semuanya lepas. ada perumpamaam yang tepat: bagaikan menggenggam air, semakin berusaha memertahankan air dalam genggaman, semakin cepat air tersebut menghilang. memuakan bukan? yakinlah, saya mengalaminya bertahun-tahun. YAP, dapat disimpulkan bahwa saya hanya berambisi kosong. tidak ada kepantasan sama sekali. seberpeluang apapun nanti kesempatan datang, saya akan otomatis menolak. bukan kufur nikmat, bagi saya justru beban moral lebih memberikan saya keluar dari zona nyaman dan terus merasakan penderitaan yang familier. 

sama halnya dengan ambisi sekolah di jepang.
berkeluarga.
saya berambisi berkeluarga di umur 21 bersama Arman. haha, tapi yasudahlah. Semoga Arman beristirahat dengan tenang. daaaan taaadaaaaa... bermetamoforsis lah saya menjadi wanita sedikit berorientasi dengan pernikahan. kalau saja boleh berdoa yang dikabulkan tanpa celah (sempurna), berdoa lebih baik "begini" atau tidak sama sekali. saya memilih berdoa memiliki pasangan hidup yang bersedia setia, menerima dan memiliki kemampuan yang sama juga setara sama, yang siap berbagi dan membangun mimpi bersama, yang berkemauan keras, yang tegas, disiplin, cerdas, jujur, sederhana, yang selalu tahu batas baik dan buruk di segala sisi, ekstrovert, koleris, tidak banyak berjanji dalam kata-kata, visioner, welas asih, berjiwa sosial, dan memiliki hobi. kalau dari penampilan, yaaaah, rapih tapi tidak klimis, berantakan tapi tidak urakan, ada rambut kecil pipi hingga dagu, bermata dalam dan jujur, tinggi, berbahu lebar, pipi tidak chubby, tip-nose, dan beraroma musk. 
damn. saya sudah memiliki pria itu sebenarnya. hanya saja, saya tidak memiliki keberanian menghadirkan Abraham dalam sosial saya. agama, dan ras sesuatu yang penting bagi saya yang harus dipertahankan. 
itu dari masalah pasangan. 
ada lagi yang selalu mengganggu saya. dalam kultur indonesia, pernikahan itu tidak hanya menikahkan 2 manusia, melainkan 2 keluarga, 2 keyakinan, 2 tradisi, 2 kebaikan, 2 keburukan. argh. ini membuat saya muak. perut saya selalu bergejolak menolak muatan jenis apapun, bahkan kalau bisa menolak organ dalam juga jika mengingat saya harus bertemu dengan keluarga dan orang tua yang akan berakhir menjadi mertua saya. yah, terakhir saya melakukan pertemuan dengan (mantan) calon mertua saya dari si tuan a.es.a.de berakhir dengan asumsi sosial, alasan tidak berujung, profit, dan lain sebagainya yang dengan kata lain: penolakan. bagi saya, mertua dan keluarganya adalah pembunuh karakter terhebat sepanjang masa. 
real big no. 
alasan lain dari aku menolak pernikahan. anak. anak itu next generation. kalau  saya salah mendidik anak, saya membantu merusak tatanan semesta. semakin jauh saja tugas manusia sebgai rahmatan lil allamiin. "ah itu gimana orngbtuanya aja" YA ITU DIA!!! saya akan jadi orang tua yang berdosa nantinyaaaaa. saya saja tidak tahu kalau nilai-nilai yang terkristal di dalam diri saya itu baik atau buruk, benar atau salah di mata Tuhan dan Semesta (bukan lingkungan loh... itu sih bodo amat). karena ketidakyakinan dengan kristal nilai saya sendiri, saya tidak yakin bisa mewariskan kebaikan kepada generasi sselanjutnya. saya tidak yakin membesarkan dan merawat anak kecil. 
contohnya begini. kemarin saya melakukan perjalanan menggunakan kereta eksekutif dari bandung ke jakarta. ada 2 ibu-ibu yang -mmm, maaf- menyebalkan. satu ibu dengan dempul tebal dan kerudung mirip atut datang dan duduk di samping jalan dengn berlagak. awalnya beliau merisaukan mengenai jaket penumpang belakang tersampir di kursinya. beliau bilang ke penumpang belakang: "mbak, ambil" dengan menunjuk jaket, tatapan jijik. secara keseluruhan itu sangat angkuh. selama perjalanan, di gerbong terdapat masalah mengenai pendingin. hampir tiap 30 detik berkata "panas, ergh panas. saya sesak. haah-huuh-haaah-huuuf"
ibu lain dengan pakaian syari dan make-up cetar membawa anak kecil yang menurut saya sudah sepantasnya si anak memiliki tempat duduk sendiri. awalnya dia meminta penumpang cowo di samping saya pindah, sekalian meminta saya pindah ke tempat duduknya yang sejajar sama si ibu panas. sebagai pemyd, cowo dan saya mengiyakan. si anak berkali-kali bertanya "mih, mana kereta apinya?" si ibu menjawab "ini kereta api" dari situ dimulailah gangguan telinga saya. karena tidak puas, si anak terus bertanya dan berkali-kali menjawab dengan kalimat yang sama. tidak puas berkali-kali, si anak menangis keras dan teramat keras. kemudian masih tidak puas dengan kereta api, si anak meronta minta pulang. si ibu dengan keras bilang: "haduuuh naaak, besok naik mobil saja. ga usah lagi yah naik kerta api". mendengar kereta api lagi, si anak yg tadinya minta pulang jadi nanya lagi "mana kereta api, miiih" dan di jawab lagi "ini kereta api nak". si anak nangis lagi. sekemudian, si ibu berkata keras "panas sekali ini gerbongnya. anak saya jadi rewel, mengganggu penumpang lain. tolong maklum, di rumah itu kebiasa ada ac, kemana-mana mobilnya juga ber ac. ga terbiasa sama panas" disitu saya sudah memutarkan mata saya, jengah dan sakit telinga, saya putuskan pindh ke gerbong makan. menyilahkan si ibu panas duduk di kursi saya yang dekat dengan lorong. 
mungkin kejadian seperti itu bagi banyak orng normal. mengabaikan dan tetap hidup seperti biasa lagi. tapi enggak buat saya.  setiap kejadian yang saya lihat dan alami adalah pembelajaran. 
apakah nanti saya akan menjadi si ibu panas yang merendahkan anak muda (biasanya sepaket dengan merendahkan yang jabatanmya lebih rendah), dan menjilat kaki-kaki masyarakat kalangan atas dengan sebuah deretan kalimat elloquent dan prihatin? hal parahnya, nanti saya mewariskan mental seperti itu ke anak saya? saya merasa sangat berdosa jika itu terjadi.  
apakah nanti saya menjadi ibu yang tidak cukup kreatif untuk menjawab pertanyaan "ini dimana, mih" dengan jawaban "ini di dalam kereta, sayang" (bukan  jawaban "ini kereta")? 
apakah nanti saya menjadi ibu pasif yang tidak mampu menghadirkan keingin-tahuan dan sifat nyaman-dimana-saja kepada anak dengan tindakan kecil, seperti berjalan-jalan di gerbong, melihat keunikan wc kereta api, gerbong makan yang sumpek, mendengar dan meniru suara rel, menghitung jeda suara peluit kereta? 
kemudian meninggalkan warisan mental ke anak yang ga bisa melakukan perjalanan mandiri ke tempat asing. ckckck, itu bukan salah satu skenario saya dalam membesarkan anak. 
yah, itu contoh kecil. sepertinya saya harus membuat kurikulum dalam membesarkan anak. hahaha, bercanda. tapi, nope. saya belum yakin menjadi seorang ibu yang mengajari ataupun menjadi teladan. 

No comments:

Post a Comment