sebenarnya ini sebuah pertanyaan retorika. saya pun sejujurnya sudah menemukan jawaban.
PENTING: itulah jawaban saya.
menyiasati rangkaian sebuah pertanyaan dari apa, menjadi kenapa, menuju bagaimana akan terulas berdasarkan pengalaman hidup saya.
pada awalnya, dan tampaknya memang, genetik yang diturunkan dari ibu saya adalah tipikal manusia kreatif yang out-of-the-box. kehidupan sosial dan tuntutan dunia saya tidaklah menganggap hal tersebut berharga (sma semimiliter? dunia "pre-eksakta"? dunia "post-security and safety"? jangan harap inovasi dan kreatifitas dihargai. dicurigai sudah jelas. dunia-dunia tersebut lebih mementingkan nilai saklek yang cukup dituruti karena aspek kehandalan sudah terbukti). bukan berarti saya menjadi penyombong bahwa saya bergen out-og-the-box.
awalnya begitu.
tapi lama kelamaan tidak.
bayangkan alasan saya ini:
pertama, umat muslim diperintahkan beribadah pada jam-dan-waktu tertentu dengan keteraturan. umat yahudi, nasrani pun juga begitu. dari sisi keagamaan sudah ada nilai keteraturan yang bertransformasi menjadi ungkapan disiplin.
kedua, belakangan ini saya diajarkan mengenai gelombang di dalam sebuah mata kuliah. pandangan saya dari pembelajaran yang sangat universe dan sangat rumit, adalah sebuah keteraturan. osilasi apapun di semesta bahkan memiliki keteraturan dan semesta tak memiliki rem (brake). dan manusia menciptakan sebuah rem yang merusak keteraturan dan osilasi alamiah semesta. itu tidak alami. tetapi manusia telah diciptakan sebagai makhluk tuhan paling unik, jadi ya sudahlah, itu adalah aset menjadi rahmatan lil allamiin. balik lagi, bahkan alam pun tidak menyediakan rem dan manusia merupakan makhluk unik, alangkah baiknya manusia kembali kepada badan dan buminya agar mampu hidup dan berbaur dengan pantas.
ketiga, sebuah aplikasi kehidupan. saya melihat master of my gene (kakek dari ibu) di masa tuanya. ketika ketidakdisiplinan akan ibadah, kebiasaan, dan kehidupan berakibat di masa tua. okay begini, saat tua ada yang kesadaran, akal, dan rasa tanggung jawab yang berkurang; masa tua tidak lagi berperan sebuah inovasi, kesadaran "exist", ataupun bertanggumg jawab, tetapi kebiasaan otot dan tubuh bertindak dan melakukan kegiatan rutinitas dari masa muda. kendala dari master of my gene saat ini tidak mengingat bagaimana ibadah sekaryanya dilakukan (padahal agama saya berbeda dan saya belum bisa membantunya dalam hal ini), kebiasaan buang air kecil berdiri dan tidak di toilet, dan terlalu giat bekerja di masa muda sehingga ketika tenaga untuk bekerja menghilang dari jasadnya ada frustasi besar di dalam dirinya. believe me, ketidakteraturan tersebut hanya membuat repot orang yang merawatmu.
pada akhirnya, saya mencoba mengingatkan siapapun pembaca bahwa keteraturan itu penting. alah bisa karena biasa. cobalah berdamai dengan latihan, latihan, latihan, dan mengulang hingga kenal batasan. sembari mengenal batasan dari "box", sembari meluaskan "box" hingga kita sendiri tidak menyangka kalau kita out-of-the-box. semua dapat berjalan ketika sudah berjalan dari keteraturan. hati-hati berlebihan dengan keteraturan yang menyebabkan sensasi hampa.

No comments:
Post a Comment