yap, aku yakin seyakin-yakinnya. karena aku tidak mendapatkan kalimat penghiburan dari memoriku mengenaimu. kamu belum mempersiapkanku dalam kondisi seperti ini.
aku tidak tahu harus memulai darimana. ada keresahan menggeliat di bawah tenggorokanku. keresahan yang malas aku akui keberadaannya. jenis keresahan yng aku hindari lebih tepatnya karena rasa takut akan menjadi kufur nikmat.
aku tidak tahu apa yang salah. apa yang salah dari menyimpan rasa sayang tak berujung untukmu. yang menyamai kecintaan kepada orang tua. yang membimbing untuk mengetahui cinta tak terbatas kepada Tuhan dan semesta.
apakah salah jika jujur mengenai rasa ketidaksuka terhadap seseorang? apakah salah jika mendendam karena tersakiti? apakah salah waspada karena telah mengalami hal buruk? apakah salah pergi dan membatu jika harus berkhianat?
apakah salah jika membuat jejak sendiri untuk memilih jalan sendiri?
apakah aku tidak pernah pantas mendapatkan kehidupan lebih baik dan layak?
kenapa aku harus bertemu dengan Abraham? kenapa aku jauh memandang sang surya? kenapa aku menyimpan kristal kenangan arman?
kenapa yang menawarkan keseimbangan dan masa depan adalah Abraham? yang jelas-jelas tidak mampu aku terima, yang jelas-jelas akan mengkhianati kaum dan keluargaku sendiri.
kenapa justru semakin kudekati sang surya, semakin lepas, menjauh, dan tak pernah kudapatkan?
seburuk apakah aku? hingga aku tak layak mendapatkan yang terbaik?
terlaknatlah.
haruskah aku pergi dan terus pergi untuk berputar meraih tujuanku dengan jalan berputar-putar dan melelahkan?
haruskah seperti itu?
seberapa banyak bajingan lagi yang harus aku temui?
seberapa keparat yang harus aku laknat sedemikian rupa?
seberapa banyak dosa yang harus kumpulkan?
kapan aku mendapatkan akhir bahagia?
kapan aku mendapatkan kehidupan sederhana dan umum seperti mereka-mereka yang aku iri?
bisakah kehidupan ini berhenti berputar pada rotasi biasanya? agar aku mampu merasakan kenikmatan kehidupan lagi tanpa harus pergi dan menarik diri dari gravitasiku?
lelah.
lelah dengan perlawanan akan benih kekufuran ini semua.
seburuk apakah benihku hingga mendapatkan kehidupan layak, biasa, dan sederhanapun aku tak diizinkan?
seburuk apakah benihku hingga rasa syukur dan pujianpun harus dipaksa ada?
Tuhan, semesta. bisakah hentikan waktuku hingga nurani-hati-akal terjembatani dan siap?
bisakah aku memintanya dengan cepat?
secepat aku menutup mata mengakhiri hari. ketika aku membuka mata, ada lembaran hari baru yang mampu melimpahkan rasa syukur secara natural-bukan membuat rasa syukur ada dan terlihat natural.

No comments:
Post a Comment