pft, ini pertanyaan retorika yang sudah saya miliki jawabannya. Keberadaan Tuhan, hukum semesta, dan takdir manusia.
bukan topik itu yang mau saya angkat disini.
hm, bagaimana kalau memulai dari sejarah saya yang tidak begitu menyenangi psikologi dan astrologi. karena ini memang berkaitan dengan 2 pekan belakang ini.
saat remaja, saya merasa sangat jago menjadi seorang psikolog gadungan. banyak kerabat sekitar bercerita masalah remaja mereka, dan saya selalu sukses memberikan solusi juga mengembalikan semangat para kerabat. itu juga mengapa kebanyakan orang terdekat saya, banyak saya dapatkan di saat SMP.
Masa SMP saya juga berkobar kemampuan indigo saya. ketika seseorang bercerita kepada saya, saya seakan ikut berada dalam suasana dan kondisi. tidak hanya itu, saya merasa pernah mengalami dan lolos dengan sempurna atas kondisi tersebut! yah, seperti saya punya kehidupan terdahulu yang pernah menjalani kondisi serupa; dan saya selalu mudah terkoneksi ke kehidupan terdahulu. pft, aneh; tapi itu terjadi. bahkan tiap mimpi di masa itu selalu kudapatkan perwujudannya di masa sekarang. yah, perlu 10 tahun untuk sadar bahwa mimpi selalu memiliki makna.
percayalah, asli saya sekarang adalah sosok berbeda dari saat ini. goal oriented, senang disanjung, mudah membawa suasana, bawel, mudah memberikan semangat, mudah bergaul, ekspresif. sejujurnya, saya tidak terlalu pintar tetapi mudah membuat orang lain terkesan dengan ucapan, perbuatan, bahkan muka palsu di depan para guru, pembimbing, dan sahabat. tes kepribadian di sekolah juga menunjukan hasil sanguinis, influence, dan enfp; yah guru bp menceritakan bahwa saya mungkin cocok menjadi psikolog, pengacara, diplomator, aktivis sosial, atau dokter dan sejarawan karena ingatan dan komunikasi saya sangat baik. well, saya dekat sama guru bp SMP saya, jadi tes kepribadian bisa saya lakukan bersama guru bp sambil makan cemilan di waktu istirahat ataupun jam kabur. yap, saya berbohong kepada 2 teman main sekarang saya kalau saya tidak tahu-menahu tentang psikologi.
saya pun ingat dengan jelas sensasi malu dan panas yang menjalar di muka ketika hasil tes IQ keluar. nilainya benar-benar normal. ingat, saya terbiasa dengan sanjungan kala itu. apa yang saya miliki haruslah outrageous. dari sana, ada sedikit gejolak dari diri saya kalau saya tidak mau bodoh, dan dangkal seperti sekarang; harus urut sesuai prosedur, dan teliti. haha, saya masih ingat bagaimana saya bisa memecahkan banyak pertanyaan dengan cara saya sendiri; hanya dengan merunutkan logika dan bermain imajinasi.
itu terjadi saat akhir masa SMP. SMA? oh, ini adalah masa terburuk sepanjang kehidupan 24 tahun saya. 3 tahun di neraka.
imajinatif, periang, menarik, bawel? bersiaplah masuk ke 2 lembah neraka dengan tamparan dari seorang guru olahraga brengsek, senior putri pendendam. atau kalau tidak, teman angkatan cengeng yang memiliki banyak backingan dari keluarga di para senior dan guru yang siap melapor ke dua lembah. yap, saya sudah merasakan tamparan guru dan ludah senior putri di minggu pertama. jiwa influence dan sanguinis saya akan merepotkan kehidupan di neraka tersebut. itu yang saya sadari. lebih baik tidak menonjol sama sekali, bahkan di kalangan teman angkatan sendiri. berpura-pura menjadi gloomy, dan tidak mampu semua mata pelajaran. serius, imajinasi tidak dihargai di neraka itu. "mengulang dan terus diulang hingga mahir" adalah ungkapan tepat untuk tempat penuh aturan, kepalsuan, anarkis, dan pembiasaan. damn, saya tahu sekolah itu telah membuat kuburan saya sendiri. awalnya, hanya berpura-pura tetapi menjadi sugesti di diri. saya mengenal dendam di masa ini, mengenal masa buta kepribadian karena topeng dan sugesti yang saya ciptakan sendiri.
tahun kedua adalah masa saya kehilangan apapun. meninggalnya arman, dan perceraian orang tua. saya tidak ingat bagaimana proses saya berdamai dengan hidup saat itu. tapi disanalah pasti ada perubahan. hasil tes kepribadian di tahun ketiga menghasilkan saya yang steady, dan istj. kala itu, saya terlalu plegmatis dan bodo amat dengan hasilnya. lagipula guru wali dan bp tidak begitu dekat dengan saya, tidak menarik untuk tahu potensi saya sendiri. lagipula, saya sudah menganut pemahaman: "psikologi dan ramalan adalah omong kosong dunia terbesar. hanya membawa manusia sok tahu lebih sok tahu tentang manusia dan nasib. dalemnya manusia dan nasib itu ditentukan oleh manusianya sendiri" oh jelas, ini adalah ajaran sebab-akibat yang tidak sengaja saya anut (sekarang saya sengaja menganutnya). tes IQ? saya tidak sempat membuka lembaran hasil sebelum saya sengaja mencelupkan paketnya ke dalam toren air hujan di depan asrama. hanya saja, guru wali sempat menyarankan saya berdasar IQ memasuki ilmu pasti seperti matematika, fisika, astronomi, atau geografi (saya ga tahu kalau geografi itu masuk ilmu pasti. sampai sekarang saya yakin guru wali saya agak ngantuk saat ngomong geografi itu ilmu pasti).
mari lihat lah sisi anehnya. ekstrovert menjadi introvert, influence menjadi steady, intuitive menjadi sensing, feeling menjadi thinking, perceiving menjadi judging. dalam 3 tahun, saya berubah menjadi sisi berlawanan.
dari sanalah, saya benar-benar memandang jijik psikolog beserta ilmu dan para filsuf di dalamnya. okay, FYI, saya disini mulai membaca bacaan berat bernama filosofi. bacaan itu juga saya telan tanpa bimbingan, sedikit mengguncang kepribadian dan pemikiran sih.
saat memasuki masa perkuliahan. ada keanehan dalam pandangan saya: kenapa orang-orang begitu rajin berkumpul untuk belajar ketika kesempatan bermain dan bertemu orang lain begitu menggiurkan? rajin masuk kuliah ketika ada kesempatan untuk tidak kuliah? rajin berlatih kalkulus di kos ketika bacaan di toko buku lebih menarik? hm, tidak heran ipk di tahun pertamaku di bawah garis normal. orang tua yang tidak berorientasi nilai, saya yang plegmatis di awal tahun jadilah saya yang terlalu timid, dan dangkal. berkumpul dengan mereka (para penjelajah alam) yang juga plegmatis tetapi kritis terhadap masalah sosial. di tahun kedua, saya merasakan beban ketika memiliki seorang junior di antara para penjelajah alam. "saya tidak boleh menjadi contoh buruk bagi para junior" itulah tekad saya. saya pun bersusah payah di tahun kedua. masih ingat di ingatan saya bagaimana perasaan geli dan kecewa ketika melihat 9 sks mendapat nilai E.
"wanita itu harus bertaktik" itu adalah ungkapan dari salah satu kerabat terdekat di SMP. tahun kedua dan ketiga adalah masa perjuangan saya mendekati sosial kampus. berusaha tidak bercelah. serius, itu susah bukan main. menguburkan keahlian bertopeng, berkomunikasi, dan tampil. positifnya, saya menjadi lebih runut, terbiasa dengan aturan, logis, dan bagaikan samudra yang dalam; tidak lagi bodoh, timid, dan dangkal. hanya saja, saya terlalu menghayati "samudra yang dalam" hingga menjadi back-stage-man yang permanen. percuma tetapi sukses.
hasil psikologi? compliance, intp-intj (saya bisa dapat keduanya hanya dalam selang satu-dua hari). lingkungan selalu membawa hasil kepribadian yang berbeda di hidup saya.
masuklah pada kondisi dimana saya muak dengan kepribadian saya yang tidak mampu mengkomunikasikan pikiran saya. ada sensasi di saat saya dalam tekanan, saya menjadi begitu bengis dan angkuh. oh, itu bukan hal buruk kok, tanpa sensasi itu, saya mungkin masih kuliah s1, dan menjadi gelandangan.
saya meragu mengenai tes kepribadian dan keraguan tersebut semakin membesar. ada sensasi jijik ketika saya harus bertemu dengan para psikolog. bahkan staff r&d, tim psdm, dan yang sejenis. hanya saja rasa jijik itu saya bolehkan berada hingga ujung gigi saya. sisanya, saya menyisakan wajah tidak tahu menahu dan amatir mengenai bidang tersebut. bagaimana tidak!?! sahabat saya adalah seorang r&d, saya pernah magang di kantor seorang psikiater, saya pernah sering berurusan dengan orang jompo di panti, saya juga pernah mengurusi bagian urusan kemanusiaan dalam sebuah klinik.
psikologi menurut saya bukanlah sebuah kepastian di bumi. jika ada yang berosilasi (dalam kata lain esensi yang terus berubah) di semesta, kepribadian juga salah satu yang berosilasi. omong kosong terbesar sepanjang peradaban adalah psikologi dalam pandangan saya. dibuat-buat oleh para kaum pintar untuk "minterin" kaum lainnya. terlihat besar manfaatnya tetapi saya melihatnya begitu kecil manfaatnya jika dipandang holistik.
mari terus mencari apa yang pasti di dunia. agar semakin mengenal hukum semesta, dan tuhan. jangan sampai salah menentukan kepastian.

No comments:
Post a Comment