Selamat malam, Arman
Seperti biasa, saya terpaku melihat layar putih sesaat sebelum menuliskan pesan untukmu. Bingung karena apa yang perlu saya tuliskan disini, menceritakan sesuatu seakan kamu benar-benar mendengar dan membaca cerita saya. Sesungguhnya, saya sudah memperkirakan hal seperti ini terjadi. Indikasi bahwa saya pun mulai menjadi manusia penuh pertimbangan realistis. Kebingungan bercerita karena saya pun merangkak ke dalam lembah realita, mempertanyakan apakah kamu benar-benar memerhatikan cerita saya? mempertanyakan apakah saya sedang tidak sedang gila? apakah saya masih menyimpan rasa yang sama untukmu?
Terbesit ingatan sebuah rencana hidup bersama di saat muda. Saya memikirkannya akhir pekan ini. memikirkan ucapanmu:
"akan lebih mudah kalau nanti kita tinggal bersama sebelum kita memasuki peralihan fasa"
ah, lagi dan lagi. Kenapa saya begitu bodoh dan dangkal di masa muda saya? Kehilanganmu ternyata begitu sulit diterima.
Peralihan fasa menuju dewasa ternyata membuat saya kelabakan. ah, saya tahu, itu wajar. Tidak mudah bagi orang yang menjalankan. Saya berandai, kita terikat dalam sebuah komitmen seumur hidup, kemungkinan pula saya akan tidak mampu menjabarkan setiap detil jalur-jalur node kerumitan. Hanya saja, ada sebuah keyakinan kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan saya dalam kesendirian ini. Kamu akan terdiam hanya menatap wajah buruk rupa saya, meskipun saya memandang udara dengan random. Kita akan sama-sama tenggelam dalam kesunyian sesaat. Di puncak kesengsaraan itu, kita akan berpelukan. Ya, memeluk. Berpelukan, berangkulan, bergandengan adalah gerakan terindah yang sering kita bicarakan dulu. Gesture terindah dalam sebuah hubungan; simbolik sebuah puncak gemilang dalam berhubungan.
Seminggu lalu, saya merasakan jiwa anti-sosial. ya, saya bisa melakukan segala hal tanpa perlu seorang partner bahkan teman. Pada kenyataannya, saya kembalikan merasakan membutuhkan seorang yang nyata yang menemani saya sekarang. Siapapun akan memiliki masalahnya masing-masing, dan serasa sulit menghadapinya; orangtua, pasangan, sahabat, dan rekan kerja adalah subjek yang sangat membantu, minimalnya akan membuatmu lupa sejenak akan sesak akibat derita pikiran dan pertimbangan yang dibuat sendiri. Saya memiliki Ibu, Abraham, Ran-Hanko-Ncus yang bisa saja mengalihkan derita itu. Tetapi akan selalu ada batasan dalam berkomunikasi dan bercerita dengan mereka. Ada dinding yang saya buat sendiri dalam berhubungan dan bercerita. Sekalipun ingin sekali saya berkata "kumohon, temani aku hingga ini semua berakhir"; rasanya seperti mengemis, dan kembali saya selalu menarik diri dalam pengemisan-tidak-berujung. Itu bukan gaya saya.
Sama halnya dengan berharap kehadiranmu saat ini. Seharusnya, saya kembali kepada penguasa semesta. Beliau tidak pernah tidur dan tidak pernah meninggalkan orang-yang-merasa-sendiri sendirian di bumi ciptaanNYA. Sembari saya berdoa utnukmu dan kebaikan untuk saya sendiri.
Pada akhirnya, hanya berserah-diri adalah kemampuan yang bisa dilakukan.
Arman, sungguh Aku merindukanmu.

No comments:
Post a Comment