Love is the prize #28

Ada kemelut badai yang diusahakan jinak oleh saya. Kemelut badai itu bernama rasa iri. Saya tidak pernah menyangka bahwa kehidupan begitu senang tantangan. Banyak nilai-nilai buruk telah dipelajari dan diabaikan menjadi kristal diri. Nyatanya, nilai buruk itu mulai menjalar di dasar hati dan bermain peran. Kehidupan menantang saya seberapa kuat saya resist dengan nilai buruk itu. Tidak dapat dibendung. 

Kehidupan selalu membuktikan bahwa tidak pernah ada kesucian bagi saya. 

Saya iri ketika melihat adik tiri saya dilamar oleh pria yang sama sekali tidak mempedulikan masa lalu dan mempermasalhkan latar belakang keluarga kami. 
Saya iri ketika melihat adik sepupu saya memiliki pacar yang begitu tulus dan mampu secara finansial juga waktu untuk menjalin hubungan. 
Saya iri ketika rekan kuliah mampu dan berjuang di dalam bidang rekayasa jaringan yang sangat terangat saya minati sejak ditutor oleh pak dhany. 
Saya iri ketika sahabat saya mendapatkan beasiswa dan berada di negara juga kampus yang saya idamkan. 

Iri. Mungkin ada kalanya rasa ini mengenal segala nilai buruk agar mampu dikendalikan. Hanya saja, ada keraguan mengendalikan. 
Entahlah. Kehidupan terlalu besar untuk ditantang. Panta rei. Mengalir. Hanya saja mengalir agar tidak hanyut, tenggelam, dan karam bagaimana? 

No comments:

Post a Comment