A thousand question #43

"Tidakkah manusia sekarang merasa gerah?" 

Dududuuu. 
Halo halo halo. Kembali lagi dengan tulisan asal jadi saya. 

Kali ini pertanyaan saya dilatarbelakangi dengan monyongan asimetris kalau saya parkir motor. Di kampus sekarang, parkir motor itu berbayar. Agak berbeda sama suasana di kampus sebelumnya. Bukan masalah nominal pungutan uang parkir sih kalo saya. Kegerahan ini mungkin aneh kalau saya jabarkan. Secara saya dulu pernah "hm, it's okay" dengan pungutan portal di kawasan GSP. Menimbang yang parkir adalah kendaraan, berkontriusi dengan gas polusi, polusi kimia, polusi suara; 2000 itu normal. Lantas kenapa saya gerah sama kampus yang satu ini? 

Jawabannya adalah selain sentimen, disini terlalu banyak mental kapitalis berwajah preman dengan topeng berbagai profesi. Salah satunya tukang parkir. 

Hampir selama setahun saya menggunakan jasa parkir di atas sabuga. Pada awalnya hanya satu bapak gemuk yang mengatur. Kemudian muncul lagi abang bercodet. Hingga akhirnya banyak yang menjadi tuan area parkir disana. 

Yah, mungkin bisa dilihat sisi positifnya: membuka lapangan pekerjaan kepada para penguasa zebracross terdahulu, dengan harapan mendapat uang halal (mungkin). 
Tempat parkir itu strategis, saya akui. Bagi saya yang gedung kampusnya barat dan di tengah, saya selalu memilih lokasi parkir liar tersebut ketimbang parkir resmi kampus di barat. Sehingga kalau saya sudah telat sekali, Saya hanya menghabiskan waktu 3 menit berlari sampai gedung. Atau kalau saya membawa barang berat, parkir liar itu menolong saya sekali. 

Tarif parkirnya normal 2000 idr. Sampai akhirnya saya merasa diperas ketika ke kampus di tanggal merah dan mendapat tarif 5000 idr. Motor! 5000! Udah semacam mau umroh kilat. Sempet tercengang, si mas bercodet menjawab ngegerundeng tentang hari libur dan lembur (padahal itu jam 1 siang). Yaaaaah, mungkin memang siiih tanggal merah. Nah, berita terbaru adalah tarif akan menjadi 2000 idr berlipat-ganda 1000 idr tiap jam setelah jam 17.00. 

ah, sudahlah. Saya mengomentari harga (YA TENTU SAJA) dan sekalian mental kapitalis. Bisa saja dikatakan oleh saya bahwa sayalah yang tidak mampu menyesuaikan diri. Please, menyesuaikan diri pada mental kapitalis? lebih baik saya dibilang bodoh dibanding harus ikutan bergerak dalam arus kapitalis. Saya dididik oleh seorang guru (Pak Haryono) yang berkata "Apa itu kapitalis!? ga ada itu seharusnya kapitalisme mampu mensejahterakan masyarakat! kapitalis itu label ketamakan manusia yang dibuat-buat benar!". Pak Dhany juga sebelumnya berkata "Islam tidak mengenal kapitalisme. Pelajarilah batas-batas ideologi kapitalis dan jangan pernah ternodai sedikit pun dirimu dengan tinja kapitalis itu". Bapak juga akhir-akhir ini menyinyir tentang bisnis monopoli, judi yang banyak dilakukan orang-orang dan jauh dari syariat berdagang dalam Islam; kurasa itu turunan dari kapitalis. Bahkan sebenarnya ideologi liberal bermusuhan dalam ideologi kapitalis; hanya saja sekarang banyak penyamaan makna diantara kapitalis dan liberalis. cih, meski begitu jangan berharap saya berdamai dengan ideologi kapitalis dan turunan dari ideologi kapitalis. 

Kejadian yang membuat antena 'turunan ideologi kapitalis' berwarna kuning adalah ketika sahabat saya, Ncus berkata dengan nada ringan "ya kan semua kehidupan udah wajar kapitalis. mana coba yang ga dikapitalisin". okay, Ncus dibesarkan di kota dimana saya tinggal saat ini. Dia belajar ilmu kapitalis dari SMA (sayapun begitu, karena ada di pelajaran PKN), dan sering berinteraksi sebagai wujud aplikasi, tidak seperti saya yang belajar hanya sebuah teori tetapi hidup dalam kerangkeng. Turunan ideologi kapitalis ternyata bagaikan badai di kota ini. Tidak seperti kota sebelum ini, badai kapitalis belum begitu terasa, mungkin baru terasa badai kapitalis ketika saya meninggalkan kota sebelum ini. Menyedihkan. 

Kembali ke tempat parkir. 
Kalau dipikir-pikir lebih lanjut sebenarnya arena parkir jadi seakan turunan ideologi liberal. istilahnya, "ini aturan main disini, kalau mau parkir disini ya ikutin aturan, kalo enggak ya udah di tempat lain aja". yah sebelas-dua belas lah sama supermarket. Pergeseran pemahaman ini seharusnya mengurangi emosi saya, sebagai anti-kapitalis. Hanya saja ketika merasakan proses perubahannya, perubahan itu ditombaki mental kapitalis. Karena lokasi parkir itu sangat-sangatlah aman bagi helm, sarung tangan, ban, dan waktu tempuh ke kelas, lokasi parkir itu jadi semacam golden-kavling. Golden-kavling itu yang membuat para penguasa zebracross mengambil alih golden-kavling, kemudian menaikan harga parkir seenak udelnya sendiri. Tindakan seenak udelnya sendiri barusan itulah yang aku kritisi sebagai turunan ideologi kapitalis; itu tindakan monopoli. ah, kalau begini kan jadi sebuah dilema tersendiri. 

sungguh, saya merasa gerah dengan badai kapitalis di kota ini. Sampai kapan gerah ini akan naik peringkat menjadi sesak. Semoga saja, sebelum saya merasakan sesak dengan badai kapitalis di kota ini, saya sudah angkat kaki dari kota ini. Tentunya, angkat kaki menuju kota minoritas turunan berideologi kapitalis. 

No comments:

Post a Comment