Selamat pagi.
Akhirnya otak saya digunakan bekerja setelah nyaris satu bulan tidak digunakan pada selayaknya. Terimakasih pak ahmad nurrudin atas tugas dan materi perkuliahan menarik. Terimakasih Dessy O. Margaretta ata pilihan topik mengasikan yang membuat saya bersemangat menggunakan otak.
Yeiy!
Dua bulan ini, rasanya seperti flash back seperti tahun ketiga perkuliahan s1. Memiliki ketertarikan akan karbon, tetapi tidak punya jalan kesempatan di dalamnya. Entah apa yang salah dan kurang tepat. Sampai sekarang sih, saya masih menyalahkan otak dan kapasitas keberuntungan saya yang sangat tidak valuable terjun di dalamnya. Sampai akhirnya bertemu bidang imobilisasi limbah radioaktif. Yang membuat saya bagaikan rahmatan lil allamin; yang tentu saja mentransformasikan saya menjadi alien ketika masuk ke dunia paska sarjana.
Tidak kelupaan, peran pak dhany dan Abraham: manusia kolaborasi ahli sarraf dan artificial intellegent = brain engineers. Membuat saya sempat terobsesi dengan functional artificial heart muscle, brain implant, dan bio-electrode. Ah, tahun terakhir perkuliahan s1. Membuat saya bersemangat masuk ke dunia paska sarjana di bidang ilmu material dan membuat saya menjadi alien di dunia s1. Masih ingat sekali, ketika saya bertanya kepada pak gea ofp tentang nano-nano yang dijawab dengan tidak begitu memuaskan. Berasa ada yang tidak puas, akhirnya malah menyalahkan diri sendiri karena terus-terusan tidak berkapabilitas.
Dulu, pak har pernah mewanti saya dengan ucapan: "puncak dari pencapaian manusia adalah ketika manusia mengatakan cukup"
Yah, waktu diucapkan seperti itu, saya masih memiliki banyak dendam karena ketidakkapabilitasan saya akan banyak hal.
Tidak mengira, akan datang saat dimana hati saya alhirnya mengatakan 'cukup'.
Ya, saat ini adalah puncak dari segalanya. Cukup karena saya telah menyerah memiliki mimpi, lelah memantaskan diri akan mimpi, dan realistis akan mimpi yang tidak pernah tergenggam.
Imobilisasi limbah: hanya sebuah ide alien yang sulit dicerna oleh banyak orang. Pastinya, akan ada orang yang mencari jalan keluar ultimate untuk limbah; tampaknya saya tidak berkapabilitas.
Functional artificial heart muscle: kira-kira 2 bulan lalu saya telah menemukan kelompok yang sukses. Lagipula, di jurusan saya sudah ada contoh orang yang bergelut dengan tissue engineering bernama untung aw. Melihat seberapa besar kemampuan influence, dan otaknya yang jauh dari treshold (saya). Seberjuang apapun saya, tetap saja hasilnya akan kembali nol seperti yang sudah-sudah. Atau kalau kembali nekat, akan sampai kapan saya terus memasuki dunia baru dan terus-terusan menyesuaikan ilmu baru tanpa mampu menjadi spesial pada satu bidang?
Brain implant, bio-electrode: ah sudahlah, bio engineer cuma pelajaran agar saya kapok saja. Saya sudah cukup kapok.
Yah, saya mulai menyerah, dan sebenarnya sedang menata hati. Rasa kehilangan mimpi karena menyerah akan realita, jauh lebih hebat daripada efek kehilangan Arman dan pak Dhany. Rasanya, seperti kehilangan tujuan hidup. Kehilangan cita-cita. Rasanya seperti tidak lagi memiliki masa depan.
Berbeda dengan hanko yang tidak lagi tahu masa depannya karena telah mencapai goal hidupnya. Goal saya? Peneliti di bidang yang saya sebutkan tadi. Malah saya jauh dari ucapan goal. Tidak ada lagi kesempatan bagi saya.
Ketika saya bercerita kepada ibu tentang kegelisahan ini, ibu berkomentar: "dulu ibu ingin sekali menjadi psikolog. Tapi nyatanya ibu malah jadi auditor keuangan. Ilmu psikolog yang ibu dapetin dari baca dan autodidak tetap berfungsi disaat berhadapan dengan berbagai macam tim, klien, bahkan kenalan anak-anak ibu. Keinginan penelitian mu mungkin akan bertransformasi menjadi jiwa peneliti walaupun nanti akhirnya profesi atau pekerjaanmu bukan peneliti"
Ya, itu adalah wejangan dari seorang ibu. Membuat saya perlahan-lahan memupuk keinginan saya menjadi entrepeneur dan philantropy yang artinya saya harus menjadi seorang pekerja penghasil uang secepat dan senyaman mungkin agar bisa jadi pemilik uang.
Hanya saja, sulit mengubah haluan. Saya telah membuat titanic sebagai kendaraan saya mengarungi lautan masa depan. Lagipula, saya berbeda dengan ibu. Ibu yang membuat pilihan karena keadaan dan kondisi padahal di kedua pilihan kapabel. Tidak seperti saya: membuat dan mengumpulkan banyak jalan pilihan, padahal tidak sama sekali kapabel pada semua pilihan.
Baru saja kepikiran, alasan dari bulan kemarin Abraham lebih bawel dan tidak menyetujui rencana saya membuka usaha. Karena kami berdua tidak lagi sejalan memandang masa depan.
O Tuhan, apa yang harus saya lakukan dengan hati ini? Apa yang harus dikerjakan dan ditambal dalam proses ini?
Sungguh, saya tetap sedang tidak bersedia kehilangan masa depan yang saya telah usahakan. Hanya saja, bagaimana berdamai dengan frustasi, lelah, dan realita?

No comments:
Post a Comment