"Bagaimana sosok pemimpin yang diimpikan?"
Sejak tahun 2009, sosial media telah digaungkan. pada era pertama dilakukan demi menunjukan keberadaan seseorang-demi-seseorang, kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas. orang-orang menjajaki sosial media demi menunjukan keberadaan diri mereka. Berkenalan dan mencari pertemanan melalui dunia maya. Berkembang menjadi ajang eksistensi kemampuan, hingga mencapai ranah narsistik. Segala kemampuan diunjukan: kemampuan seni, kemampuan digital, kemampuan dana, kemampuan fotografi, kemampuan bertutur, kemampuan bersosialisasi, hingga kemampuan menjaga keindahan mimik ketika bangun tidur.
Mungkin masa inilah, masa surgawi yang diimpikan para pejuang reformasi: agar semua orang mampu berfikir, bebas berekspresi, dan lepas dari kekangan. Junjungan tertinggi mengatasnamakan Hak Asasi Manusia (HAM) atau Kebebasan (Freedom). Itulah harapan dulu; kini harapan tersebut terwujud. Puji syukur atas usaha mereka.
Perwujudan harapan membentuk sistem baru dengan berbagai konsekuensi baru tentunya. Hm, sangat logis. Sama kasus dengan munculnya teknologi baru, akan ada permasalahan jenis baru pula meski permasalahan lalu terhapuskan dengan teknologi baru. Atau, sama kasus dengan ketika menaikan entropi suatu sistem agar entitas (bisa berwujud matter atau anti-matter) bergerak menuju sistem tujuan baru. Konsepsi dasar thermodinamika rumit inilah sebenarnya landasan alasan mengapa perubahan selalu dimulai dengan konflik.
Konflik di awal hingga akhir tahun 2016 merupakan konflik maya yang aneh. Semua hal disalurkan dan dikobar melalui sosial media. Inilah konsekuensi lain dari sistem baru perjuangan pejuang Reformasi. Ambil saja contoh abstrak yang sedang bermunculan di timeline sosial media facebook (karena saya tidak aktif di sosial media lain): aksi sahabat papua barat, mengenang pemberontakan dan demo di berbagai negara, penistaan kitab suci, rasis pribumi-non pribumi, masalah sosok pemimpin. Lupakan mengenai guyonan 'om telolet om', aksi aneh kucing, panduan make-up, dan kupon diskon belanja online. Saya banyak mengetahui segala yang diributkan dari sosial media dan berkobar karena sosial media. Dengan kata lain, Saya mendapatkan kebebasan mengakses informasi, melihat kondisi, dan berempati sebagai hasil dari sistem baru paska reformasi. Ini sama saja seperti dari layar menuju mata dan jatuh ke hati. Nda' lewat otak dulu. Agak sejenis dengan mencontek bego: dari contekan ke mata langsung jatuh ke tangan teraliri lewat alat tulis kemudian berakhir di lembar jawaban; ga diproses otak dulu. Banyak kerabat saya berdebat panas di dalam satu kotak dialog. Ada pula yang lebih tenang, dalam satu kotak dialog berisi banyak komentar saling mendukung pernyataan. Sama saja trendnya: serigala mencari kawanan dan membuat teritorial, bersinggungan teritorial akan menginisiasi pergumulan, pergumulan dimulai dengan 'siulan'.
Lepas dari 'siulan' maya, dalam dunia realitas, banyak yang masih berjabat tangan, berbagi senyuman, dan melemparkan doa keselamatan seperti salam. Itulah yang masih harus disyukuri. Benih permusuhan disebar lewat info grafis sosial media, tetapi masih ada kewarasan. Memang harus tetap berhati-hati sebab ada benih permusuhan yang telah mengakar. Benih permusuhan itu dirawat dengan kondisi komunitas yang merawat benih permusuhan yang sama, pikiran berkabut, dan mental lemah. Biasanya ditandai oleh keengganan berhubungan manusiawi dengan manusia berbeda teritorial. Aksi kelanjutan tanda benih permusuhan muncul adalah aksi-aksi merugikan seperti: perang, dan teror.
Jauh dari akhir perang dan teror, ada rasa syukur, dan harus ada aksi merawat dan saling mencontoh kebaikan pula. Segelintir manusia yang memakan benih permusuhan, justru beraksi dengan lebih santun. Kasus penistaan kitab memicu kemarahan umat islam, dan para umat berunjuk rasa dengan kemampuan doa dan menunjukan keteguhan keimanan tanpa anarki; dengan kata lain mereka menunjukan keimanan mereka dalam berikhtiar dengan menyebut nama Allah di masa masalah menjerat. Aksi pelarangan KKR Natal oleh segelintir umat ditanggapi oleh umat kristian dengan mengalah demi menjaga persatuan dan tidak menambah amarah percecokan antar umat. Tetap harus ada akal sehat dan mulut yang giat berkata 'Terima Kasih' dan 'Maaf' atas segala usaha yang menjaga kedamaian.
Kedamaian menjadi sebuah kata ambigu dan memiliki banyak kriteria. Sama hal nya dengan Hak Asasi Manusia. Sekarang, setiap Ideologi memiliki uraian tersendiri dalam damai dan HAM, sehingga perbedaan semakin membangun garis kontras tebal. Idealnya, negara terbentuk karena mampu menaungi berbagai perbedaan. Bayaran atas kemampuan negara tersebut adalah perlindungan, kesejahteraan, keamanan, kenyamanan, dan kebebasan. Dulu banyak yang menyatakan 5 point tersebut adalah poin dari kedamaian. Sekarang? jangan samakan. Sekarang, mayoritas manusia banyak membawa keagungan ideologi kelompok. Negara pun menjadi absurd dalam usaha menaungi perbedaan. 'Perbedaan mana yang harus dinaungi kalau semua hal berupa thesis dan anti-thesis?'
Keabsurdan tersebut juga merumitkan pilihan sosok pemimpin di masa sekarang. Sudah lumrah kalau negara dipimpin oleh presiden. Selepas masa penjajahan kolonial Belanda, pemimpin dipilih adalah sosok cerdas, cendekiawan dan berani menggaungkan kemerdekaan; Bung Karno dan para tim cendekiawan. Kemerdekaan telah dimiliki, diperlukan pemimpin yang mampu meredam perseteruan di dalam bangsa sendiri; pemimpin dari militer. Setiap kepemimpinan militer ataupun dinasti selalu ada ketidakterbukaan, diperlukan pemimpin yang jujur dan berani mati; lahirlah pemimpin dari kalangan sipil. Sampai akhirnya, terlalu banyak kerumitan dan tuntutan kriteria pemimping di setiap zaman. Hingga tercipta dialog dengan sahabat saya selepas menonton film Headshot: 'coba perhatikan kondisi plotnya. Ada golongan minoritas yang merayap geliya memnfaatkan kelemahan sistem (keamanan dalam film Headshot). Pemimpin haruslah paham mengenai keberadaan golongan minoritas ini. Itu pula alasan mengapa selalu ada pemberontakan jika negara dipimpin golongan cendekiawan kutu buku yang tidak mengenal minoritas sebenarnya. Sedihnya, satu-satunya yang meredam mereka (minoritas) justru adalah golongan elit dan militer'. Dengan kata lain, selalu akan ada Perang dan Teror.
Kalau dilihat dari kacamata luas, semua kerumitan ini bisa jadi sebuah titik-titik teratur. Tidak ada masalah! hahaha. tapi bukan itu, selama manusia hidup dalam skalanya sendiri, yang dilihat bukanlah titik-titik teratur melainkan kerumitan yang harus dijabarkan. Para pemuda papua tidak akan bersikeras mendengungkan pergerakan kemerdekaan kalau mereka diperlakukan secara adil (tidak dibunuh dengan keji, dan ditindas oleh aparat berlabelkan 'keamanan dan persatuan'). Para pribumi tidak akan bersikeras menepuk mundur non-pribumi kalau para non-pribumi sadar ungkapan 'bumi dipijak langit dijunjung'. Para non-pribumi ga akan merusak persatuan jika para pribumi melupakan istilah 'warna kulit, agama, daerah asal, bentuk tubuh'. Dunia sebentar lagi akan berteriak kedaulatan masing-masing, dan tidak lama juga Dunia akan berteriak Persatuan seluruh dunia. Lantas pemimpin macam apa yang mampu meladeni teriakan 'Persatuan seluruh dunia'?
Kalau kembali mengambil doktrin beberapa agama, jawaban mereka bisa saja kembali kepada nubuat agama. Al-Mahdi, Al-Masih, Ad-Dajjal, ataupun Al-Khidr. okey, ini pakai pelafalan Islam. tapi beberapa agama samawi membawa esensi sosok yang sama, saya rasa. Inilah masa yang akan membuat masyarakat dunia mencari pemimpin yang diberkati oleh seluruh kebaikan semesta, dan dirahmati Tuhan. Sebentar lagi singgasana beban dianugerahkan kepada sosok pemimpin dari nubuat agama. Tapi hingga tulisan ini beranjak di paragraf akhir dan titik akhir, belum tahu seperti apa uraian kriteria pemimpin tersebut.

No comments:
Post a Comment