Pernah menonton Inside out?
Atau pernah membaca komik yumi's cell?
Kedua cerita fiksi tersebut menceritakan mengenai respon cell atas kejadian yang berlangsung. Di dalam kisah Yumi's cell tidak terlalu terfokus terhadap 5 cell utama; berbeda dengan inside out yang terfokus pada 5 cell utama: Joy, Sadness, Anger, Disgust, dan Fearness. Meski begitu, terdapat kesamaan kecil: para cell mempunyai 1 pemimpin.
Dalam kisah Inside out, pemimpin para cell Riley ada karakter Joy; sang ayah Riley dipimpin oleh Anger, sedang sang Ibu dipimpin oleh Sadness. Joy membawa sifat ceria, bahagia, ekspresif, petakilan, keramahan, terbuka, dan agak nyablak. Berbeda dengan Sadness membawa prilaku melankolis, detil, dan penyendiri. Anger pun punya karakter pembawaan berbeda pula seperti pemarah, tegas, pendirian kuat.
Di cerita Yumi's cell, pemimpin para cell juatru merupakan perpaduan 2 atau lebih karakter, atau 1 karakter dominan. Dalam tokoh Yumi, pemimpin para cell adalah cell Love.
Dalam sebuah kejadian, saya pernah mendengarkan pernyataan bahwa "karakter utama kita menentukan kesuksesan". Lantas pernyataan tersebut terpanggil kembali suatu ketika. Saya bertanya: "apa karakter utama saya? Apakah Joy, atau Sadness, atau Anger, atau Disgust, atau Fearness?" Sebelumnya melanjutkan, saya sudah pernah menyatakan ketidaksukaan saya mengenai tes kepribadian, dan saya posting di salah satu tulisan blog ini. Jauh dari tes kepribadian omong kosong tersebut, saya menelaah kembali sejarah setiap masa peralihan.
Ketika SMP, saya muak dengan pergaulan di kota asal saya. Dengan SMU negri, saya akan masuk pada siklus bullying. Bukan saya Bullying, melainkan saya Bullied someone. Potensi sosial dari kecenderungan lingkungan dan karakter saya saat itu. Kemuakan akan kemungkinan seperti itu, saya memilih alternatif "berlari" ke lingkungan lain. Ditambah alasan "kemarahan" atas nasih karena memiliki keluarga-tidak-utuh, semakin membuat saya "berlari".
Maju tiga tahun selanjutnya. Saya pun "berlari" karena mengenal rasa benci. Saya membenci satu sosok guru; kebencian itu menyambar kepada keseluruhan kebencian atas satu yayasan dan satu sistem busuk di SMA. Ketika itu, saya "berlari" dengan memberintak tidak mengikuti wisuda bahkan tidak ingin menginjak atau berkontak dengan lingkup SMA.
Maju satu tahun selanjutnya. Saya "berlari" kecil diantara teman angkatan jurusan. Dekat dengan manusia munafik menyusahkan, merepotkan, dan melelahkan karena terus terusan marah yang tidak terungkap. Saya berlari menuju lingkungan mapala.
Setahun kemudian, tragedi kejadian dengan seseorang di sesama mapala memaksa saya menambah satu sosok kebencian. Pelarian kali ini, saya fokuskan kepada kuliah.
Agak rancu memang di awal perkuliahan saya. Saya agak nakal, lalu kembali kuliah, kemudian sibuk di luar kampus, lalu misterius dengan penelitian yang ga banyak mahasiswa lazim mengambil itu.
Saya hampir mendeduksi: peralihan saya diawali oleh kemarahan.
Mungkinkah itu artinya, karakter utama saya adalah Anger?
Bisa jadi.
Dipastikan, saya selalu memulai hal baru karena kemarahan.
Mengambil tesis semikonduktor pun juga karena dimulai kemarahan: tragedi pengolokan oleh Pak Syoni atas ketertarikan saya mengenai imobilisasi limbah, tragedi konflik dengan Pak Arie (oh, WTF. Somehow, that name have to nausea me).
Ketika cell Anger saya mengambil alih meja hipokampus saya, itu artinya sosok bermasalah tersebut jangan lagi berharap perlakuan sama. Sebab, saya pun sudah menswitch segala hal, hingga saya berani berlari menuju kondisi "baru". Justru hal baru itulah terus memberikan kontribusi kemajuan hidup.
Meski seperti itu, sulit dipastikan. Karena ketertarikan saya mengenai material tidak dikendalikan oleh kemarahan. Topik perlimbahan tidak muncul dari rasa marah, justru muncul karena rasa jijik, empati, simpati, dan usaha ketekunan. Ketertarikan terhadap material keramik pun justru muncul karena estetika, kesempurnaan, dan pencarian wawasan mandiri.
Kedua hal tersebut tidak pernah hadir karena amarah. Bahkan jika mengingat wujud tersebut, yang tersisa justru kenikmatan, tanpa rasa puas dan angkuh. Uniknya, saya bisa ditenangkan hanya dengan memori "saya sedang memegang keramik"
Ah, ini rumit.
Joy, Sadness, dan Fearness. Kurasa itulah kombinasi ketika saya berjalan kecil setelah puas berlari.
Lucu.
Saya menulis seperti ini pun saya tidak tahu berujung apa. Apakah saya harus sekali lagi marah besar agar saya berlari ke keadaan "selesai tesis"? Toh, kenyataan selanjutnya tidak ada jaminan bahwa setelah lulus saya akan berkehidupan layak. Menyukai institusi dan kota ini saja tidak mampu, rasanya salah kalau saya bisa lulus dari institusi.
Ah, atau mungkin saya harus berfikir: "karena saya muak dengan institusi dan kota ini, saya harus secepatnya angkat kaki dengan layak sepadan perjuangan selama 25 tahun".
Mungkin itu.
Ah, seandainya saya memiliki kemampuan seperti nabi Ibrahim AS. Yang selalu terkabul atas doa, saya ingin berdoa agar saya tidak memiliki perasaan, dan selalu memiliki kekuatan juga ketrampilan tak terbatas. Sampai saat ini, saya mengakui bahwa saya terlalu sibuk meladeni perasaan lingkungan, lemah secara fisik, dan tidak terampil.
Yah sudahlah.


No comments:
Post a Comment