A thousand questions #52

"Mengapa ada mereka yang suka membanggakan yang lain?" 

Sebelum membuka ke topik, saya memohon maaf karena saya baru menyadari ada kesalahan tata bahasa pada tulisan jamak dari question. 

Topik ini dimula dari seorang kenalan ibu. Wanita paruh baya, bernama bu Ayik. Bisa dibilang beliau 'freak'. Well, 'freak' ini mungkin dalam sudut pandang outsider. Jika ditampikan, beliau wanita sopan, berkerudung, berpakaian sopan dan rapih, berpandangan lurus, cukup pendiam, dan bisa bertukar senyuman. Normal, tetapi tidak begitu sebenarnya. Percayalah, hanya dalam sentuhan, beliau bisa tahu tragedi terbesar hidup yang disentuhnya. Dalam diamnya, beliau bisa mendadak merokok 3 gelas dan ngopi 1 bungkus dalam sekejap. Di tengah waktu luangnya, beliau bisa berkelana jauh menyusuri pelosok jawa barat. 
Kemudian, saya lah menjadi korban sentuhan beliau... 

Bukan rahasia khusus lah kalau saya pernah bermasalah dengan pria (tapi saya ataupun ibu ga pernah bercerita tentang saya ke bu ayik!) Dalam wejangan bu Ayik kepada saya: "kamu sebagai wanita jangan malu buat jual mahal. Biarin cowo ketauan bejatnya di depan. Laki itu baik karena memang mau kita (maksudnya laki sedang menarik simpati wanita itu pasti sok baik). Kamu harus buat laki laki itu kesal biar tahu perawakan aslinya. Kalau kalian lagi cekcok, terus dia nelpon terus, telpon balik pakai pulsa sendiri; tunjukin kamu perkasa, sebagian besar cowo cemen malah kelabakan. Kalau cowo ngomongin kebagusan orang lain dengan maksud ngebandingin, kamu harus tahu kalau cowo itu lagi nyari simpatik kamu, biar kamu baik ke dia. Tinggalin aja cowo cemen begitu. Kamu harus pikirin kalau kamu masih ada tanggungan moral kke orang tua, ga usah repot repot sama cowo cemen. Ga usah rugi sama yang udah lalu, kan kamu sendiri yang paling giat usaha. Sekarang biar aja orang lain yang giat. Cari yang selevel iman sama keyakinan dan tujuan hidupnya"

Yah, bisa dibilang semua permasalahan saya terbeberkan melalui runtutan frase. Tidak usahlah secara eksplisit yang mana membicarakan siapa. Yang jelas semuanya berhasil membuat saya iba. Lemah hati. Itulah saya. Mereka pantas mendapatkan saya yang lemah hati. 

Bagi bu ayik, taktik politik sepertiitu sering digunakan para pria rendah. Setidaknya si pria merasa ada bagian lebih rendah dibanding lawan jenisnua. Walaupun saya sendiri sanksi. 
Coba lihat tuan asad. Di mata saya dia ada dari segala hal: pemikiran, ideologi, kecakapan berfikir, ketampanan (dulu),  kepemimpinan, dan harta. Dia tidak lebih rendah dari saya, justru saya lah yang sangat di bawah rerata dia. Tapi diapun tetap melakukan hal rendah yang dijabarkan bu ayik kepada saya. Itulah kesanksian saya. 

Di ujung laman pun saya masih bertanya-tanya:
"Mengapa ada mereka yang suka membanggakan yang lain?" 

Apakah yang di depan mereka begitu rigid sehingga tidak mampu dirombak hingga layak dibanggakan dan disyukuri kepada nurani sendiri?"

No comments:

Post a Comment