A thousand question #53



"Lalu apa setelah ini?" 

OH. 
Beberapa pekan ini saya sedang "deja vu". Kenapa? Karena saya hampir berkutat di sebuah pengakhiran ujung jalan. Yap, hampir sedikit lagi. Sedikit lagi pergulatan Tesis akan berakhir. 
Sedikit ucapan penyemangat yang saya tiru dari tuan untung dan nyonya yuyun: "do not quit to early" dan "please, don't quit right now!" 
Thank, both of you. 
Flash back 2 tahun lalu, saya juga seperti ini. Penyemangat saya saat itu adalah kalimat dari tuan kasim: "yah memang harus diselesaikan apapun yang sudah dimulai". 

Bumbu penyemangat berupa desiran tarik ulur juga kental di masa itu. Bersama tuan Abraham. Saat ini pun masih begitu. Sambil menata benih benih kesucian lain yang lebih pasti dan masih berupa angan-angan. 
Ck, apalah baper. 

Lingkungan penelitian yang mendukung pun juga menyenangkan. Dulu mungkin saya didukung oleh pak Har dan rekan SRAC. Sekarang saya didukung oleh pak dani dan rekan fisika bahan Batan. Memiliki pembimbing resmi super baik dan selow seperti pak sus juga terjadi lagi disini. Bersama pak Adit. 

Segala kesamaan tersebut melahirkan pertanyaan retorika: "apa rencanamu?" 

Mu dalam artian Tuhan, sang maha absolut. 
Mu dalam cuplikan diri saya sendiri, yang hobi berencana dan selalu pasrah atas keabsolutan Tuhan. 

Ada lagi kesamaan, yaitu pertanyaan: "setelah ini mau apa?" Karena saya sendiripun memiliki banyak keinginan. 
"Don't quit too early" untuk mengejar keinginan terus meneliti hingga mewujudkan ultimate matter. Adalah satu dari keinginan. 
Kebalikan dari itu: "enough" waktunya menjadi wanita yang mendukung suami, membesarkan anak, dan mempertahankan kebaikan dari "bayangan". Adalah wujud anti-willing yang cukup besar.  

Ketika pertanyaan "apa rencanamu?" Telah terejahwantahkan melalui bibir orang berwujud: saya berusaha jujur atas keinginan. Berusaha sebisa mungkin tidak berkata melebihi kuasa Tuhan. Berusaha tidak mendustai nurani. Jawaban saya selalu tunggal: "apapun yang tidak menyianyiakan perjuanganku menikmati belajar selama 7 tahun". Akan sulit bagi orang yang memandang saya bodoh menerima jawaban tersebut. Mereka akan meringis tertawa. Saya paham. Saya menerima perlakuan itu semua, karena saya tahu, saya dulu bodoh, tidak mampu berbicara di depan umum, tidak senang mengerjakan tugas berkelompok, lebih senang di dalam tempurungnya sendiri. 
Anggap saja, mereka yang tertawa belum memaknai kata mutiara: "setiap orang punya cara sendiri untuk hidup".
Apakah saya tidak peduli dengan perlakuan mereka? 
Saya bukan pemaaf. Jadi, saya akan peduli. Saya akan diam dan terus mengamati, kemudian saya akan menjadi orang yang tersenyum lebar ketika karma atas peremehan menimpa subjek teramati. Indah dan cukup adil bukan? 

Di saat pencarian saya atas keadilan membuahkan pengetahuan mengenal perbedaan. Di bab baru setelah ini adalah pembelajaran mengenai kelola kepongahan. 
Ilmu, pengetahuan. Memiliki keduanya adalah tujuan dan puncak kesuksesan upaya kebijaksanaan. Setelah di puncak lah ada bifurkasi. Salah satunya adalah kelola kepongahan. Saya memilihnya karena berkaitan dengan janji komitmen nurani. Berlatih menanamkan ungkapan "kamu berjuang sejauh ini bukan untuk sombong. Kamu berjuang sejauh ini hanya  untuk menjadi seorang budak kebenaran". 

Believe me. Setelah ini saya akan kesulitan dengan komitmen saya sendiri. semakin sulit saya menemukan "the right man". Semakin sulit pula saya hidup di dunia kerja. Semakin menggunung pula cemoohan itu ada untuk saya. 

Lantas, apa setelah ini? 

No comments:

Post a Comment