A thousand question #54


"Mengapa manusia bisa sakit?" 

Sebelum beranjak kepada pertanyaan mengapa, ada baiknya bertanya "apa itu sakit?" Pertanyaan yang saya sendiri bahkan tidak mampu menjawabnya. 

Ketidakmampuan saya menjawab, membuat saya bertanya kepada seorang sahabat yang notabennya adalah seorang dokter. Dia memberi jawaban "sakit ya berarti ga sehat". Dulu, saya sempat bertanya ke Papa Dhany. Beliau menjawab: "suasana tidak nyaman. Kalau sakit berkenaan dengan tubuh, berarti ada perubahan kondisi di dalam tubuh. Biasanya, kondisi tersebut membawa ketidak nyamanan". Bisa saja saya lanjutkan, bahwa perubahan kondisi tersebut dikarena ketidakseimbangan sistem tubuh. 

Tidak ada bayangan bahwa saya harus mempertanyai entitas sakit. Sampai pada akhirnya, saya menyatakan diri saya bahwa saya sakit. Bukan sakit parah seperti sebelumnya: Typhoid, dan anemia. Saya hanya merasa... Sakit. Ada kebutuhan istirahat dan sistem tubuh yang perlu ditera ulang. 
Aneh sih. Sesungguhnya, saya pun heran mempertanyakan hal ini. 

Dengan kondisi aneh seperti flu, dada dan ulu hati yang kerap kali melilit, pangkal leher yang kaku, dan tulang belakang yang rasanya ga lurus, saya seakan menyiksa diri setiap hari. Kalau saya ke tempat refleksi, terapis berkata masuk angin. Kalau saya membaca buku psikologi, saya pasti diduga stress. Kalau saya bercerita kepada rekan kerja, saya dibilang kebanyakan duduk dan kurang olahraga. Kalau saya bertanya ke kerabat dekat, mereka akan menjawab dengan prihatin. Kalau saya bertanya ke diri saya sendiru, saya menjawab kamu tidak apa-apa. 
Apapun hipotesa, saya merasakan ketidaknyamanan. Mungkin inilah sakit. 

Bagaimana bisa sakit? 
Umumnya menjawab, karena ada UFO (unidentify Flying Object) yang masuk ke tubuh. 

Pertanyaan itu memang harus spesifik. Ketika bertanya sakit, harus dilihat batas konteks berada di dalam bidang apa.. 
Jadi, saat ini saya sakit apa? 

Mungkin hanya butuh liburan. 

No comments:

Post a Comment