Sebuah Renungan Perjalanan (1)
Sudah 65 hari lalu setelah kematian. 60 hari pun juga saya mengatur kesendirian saya. Sekitar 2 minggu kebelakang, akhir Febuari dan awal Maret 2017, saya melakukan sebuah perjalanan kecil. Sejujurnya, memutuskan memulai perjalanan tersebut begitu sulit. ah bukan, tidak ada yang mudah dalam memutuskan sesuatu. Begitu pula memutuskan bahwa harus ada perubahan dalam kehidupan, dan menerima segala konsekuensi keputusan. Hanya saja, bagi Tuhan terlihat mudah menunjuk kapan babak baru hambanya dimulai. Itu semua atas nama kebaikan hakiki.
Ini bukanlah tulisan catatan perjalanan yang sering ditulis banyak travel bloger. Ini adalah renungan selama perjalanan. Renungan yang hilang timbul selama perjalanan berlangsung. Hilang, saat kembali kepada rutinitas sehari-hari. Timbul, saat petunjuk menghampiri benak.
Jangan kamu cemari makna luhur kematian dengan rasa sedih ataupun bahagia. Carilah peran Tuhanmu dalam tragedi kematian tersebut.
Kutipan di atas bukanlah kutipan dari tuan Abraham, atau Arman, atau tuan Asad, atau Papa, atau Ibu, atau siapapun. Itu murni berasal dari pikiran saya. Bagaimana pun, emosi dalam tragedi kematian akan selalu ada. Panik, saat kamu berhadapan dengan ajal. Bingung, ketika ajal tersebut melarutkan segala akal. Sedih, setelah ajal berakhir. dan terakhir: Merana, karena banyak perubahan terjadi.
Sedikit ataupun banyak, perubahan setelah kematian pasti ada. Siklus hidup, sistem keamanan, rutinitas harian-mingguan-bulanan, hingga kebutuhan hidup akan berubah. Saya ingat sekali, tanggal 15 Januari 2017, saya terdiam lama memandangi sebuah gunting kuku dalam rendaman antiseptik. Rutinitas saya tiap pertengahan bulan adalah menggunting kuku, baik itu saya ataupun kakek saya. Saya merasakan kehilangan rutinitas dan sosok tua yang menyukai keheningan, meskipun saya sedang bersama banyak orang. Ingatan lain, saya tidak melihat sosok Papa berdiri di pintu pagar dengan tersenyum menyambut ketika saya berjalan menyusuri gang rumah setiap pulang berkunjung. Rutinitas kecil sering dianggap tidak penting dan menjemukan semasa hidup. Sampai tiba saat kehilangan rutinitas tersebut, hanya desiran lembut yang melelehkan perasaan.
Merana, itulah kalimat yang saya pilih untuk mendeskripsikan badai kematian. Banyak orang yang saya temui, menganggap merana tersebut sebagai alasan emosi menangis, sedih, dan putus asa. Bagi saya, merana pun juga memunculkan rasa bahagia. Sejujurnya, ada rasa lega ketika saya sadar akan kebebasan. Hanya saja, dalam tragedi kematian perasaan bahagia merupakan hal tabu. Sampai ada satu momen dimana Mas Faried berkata "Ya sudah, diam saja. Ga usah ada sepatah kata apapun" sebagai tanggapan pernyataan retorika "lah gimana, aku kan cuma ngomong hal yang realistis. Adat lingkungan aja yang terlalu baper". Disitulah, saya belajar bahwa sedih ataupun bahagia harus dikendalikan. Rasa merana itu ada dan tercipta alamiah, tetapi butuh batas.
Batas tersebut bukan sekadar cermin fana yang membolak-balikan rasa. Seperti ketika merana melanda dan datang rasa sedih, lantas segenap jiwa menentang merana tersebut dengan paksa membangkitkan bahagia. Sebaliknya, rasa merana bahagia melanda, justru membuat kehilangan kendali atas pegangan hidup, hingga episode selanjutnya malah mendatangkan rasa iba dari lingkungan. Batas seperti cermin bagaikan bom waktu. Serius, itu bom waktu! Absennya Arman dan Papa membuat saya merakit bom waktu saya. Saya tidak lulus ujian hidup mengendalikan tiap episode merana Arman dan Papa. Hingga pada suatu pagi yang saya lupa detil tanggalnya, pesan Papa mengiang-ngiang sesaat saya bangun "Legowo, dik. Legowo itu artinya kamu menerima dan mengakui kesalahanmu [percakapan ini adalah salah satu percakapan titik balik dari sejarah terkelam]. Dalam islam, itu menjadi pintu dari Taubat kalau kamu lanjut bersujud menitip beban kepada Allah, memohon ampunan Allah, dan bertekad berserah diri atas petunjuk kebenaran Allah". Aah, saya masih ingat sensasi dari legowo: seperti menancapkan akar ke bumi saat bermeditasi, atau merasakan darah mengalir dari hati menuju dahi saat bersujud, atau mendapatkan irama nafas sesaat tidak jadi tenggelam di air. Hari-hari setelah pagi itu, saya mencari-cari sensasi legowo tersebut. Namun, tidak berhasil karena saya bingung mencari apa yang harus saya legowokan.
Kematiankah? atau pertemuankah? atau kebaikankah? perasaan peka kah? atau malah justru kehidupankah? apa yang harus saya legowokan? Kalau saya legowo akan kematian, berarti saya menyalahkan kehidupan, pemikiran ini berbahaya, sangat bahaya; pemikiran ini malah akan menguatkan keinginan saya tidak akan menciptakan keturunan dan merendahkan kelahiran. Legowo akan kebaikan dan perasaan peka sehingga meniadakan empati dan simpati juga berbahaya, tidak akan mampu manusia menjalankan peran rahmatan lil alamin jika tidak dibuka dari empati dan simpati. Kalau begitu, legowo akan pertemuan? itu artinya, saya mengisolasi diri? sendirian? seperti sekarang? tidak ada tempat berbagi? haha, padahal saya baru saja berhasil bersugesti 'pasti akan lebih mudah menjalani ini semua ketika bersama pasangan'. Bukan, Bukan itu semua.
Perjalanan tiap akhir pekan pun saya mulai. Selama 25 tahun hidup, hanya perjalanan yang selalu sukses mengondisikan saya agar mampu berfikir luas. Wajar sih, saya kan selalu melakukan perjalanan sendiri. Ada banyak waktu luang membebaskan fikiran dan mengamati lingkungan. Ada satu reka kejadian yang terus diulang benak saya, tanpa saya inginkan. Kejadian dimana saya berkata kepada pasangan Aulia-Anisa saat pengajian hari pertama: "rencana Allah selalu hebat deh, mols. Ga bisa gue bayangin kalau ternyata Bulik-Paklik gue dateng lama atau setelah pagi (Bulik-Paklik datang hanya berselang 0-5 menit dari nafas terakhir). Kayaknya satu malam bisa ngebuat gue jadi gila karena bingung, panik, sedih, dan rasa bersalah". Rencana Allah. Rencana Tuhan. Legowo atas rencana Tuhan, bisa juga artinya sadar atas keterbatasan manusiawi. Sangat rasional dari segala sisi. Sering kali saya pun ditegur oleh tuan Abraham karena meributkan hal detil, tetek bengek kecil; menurut tuan Abraham hal tersebut membuat saya lupa akan tujuan dari keseluruhan sistem, dan melewatkan banyak keindahan hal detil. Okey, memang benar rasa sakit ketika melihat penderitaan orang lain, sedih ketika kehilangan sesuatu; terima saja sensasi itu, nikmati bagaimana hati tertetesi air perasaan. Hanya jangan lupa melihat di dalam tragedi itu diuntai oleh proses indah. Grand design. Rancangan kejadian sempurna tanpa celah dari Tuhan. Sebuah plot drama kehidupan terbaik dan adil disutradarai oleh Tuhan. Bukankah dengan mengenang itu semua, saya mampu melihat peranan Tuhan sebagai pemberi petunjuk, pemilik kebenaran, maha mengetahui dan adil, dan yang terpenting saya menemukan "sensasi legowo".
Saya dulu memegang ungkapan bahwa 'individu manusialah yang menciptakan perasaannya sendiri'. hm, saya rasa banyak manusia modern setuju atas itu; sangat psikologis. Bagi saya, ada kelanjutan dari ungkapan tersebut 'dan pemilik manusia adalah Tuhan, Maha membolak-balikan perasaan'. Ya, Tuhan adalah pemilik segala hal, termasuk perasaan manusia yang menjadi otoritas manusia juga. mm, saya agak berhati-hati dengan kalimat sebelumnya karena ini berbicara tentang Tauhid, maaf jika memiliki pemaknaan luas dan beresiko menyimpang. Perasaan adalah secuplik anugrah Tuhan yang membuat kita peka, membuat sinetron hingga rasanya begitu impulsif mudah sekali muncul dan hilang. Hal berlawanan dengan penciptaan wawasan, ilmu, dan pengetahuan oleh akal dalam waktu lama dan mengkristal menjadi ingatan. Keberadaan perasaan, akal, dan perseteruan antara perasaan dan akal merupakan hal manusiawi. Nikmati saja. Rasakan apapun sensasinya. Kemudian menarik nafas lah dan legowo atas grand design Tuhan. Keluarkan desir nafas seraya mencari dan menemukan esensi kelembutan (Al-Lathif) Tuhan. Memberi sugesti kepada diri 'Maha membolak-balik hati, teguhkanlah hati' agar perasaan tidak memberikan penyakit; atau dalam Islam dibiasakan berdzikir 'Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik'.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ'Rabbabaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lana Mil-Ladunka Rahmatan Innaka Antal-Wahhaab'
Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”(QS. 3:7)
Bagaimana bisa saya lupa mengenai satu bagian aqidah yang begitu indah yang menunjukan cara mengontrol hati. Maha hebatnya Tuhan, saya diingatkan aqidah yang begitu indah ketika mencuri dengar diskusi seorang Bhante di perjalanan Raja Ampat. Bhante mencerahkan salah satu wisatawan travel agent mengenai ritual meditasi, bertahap sembari menjelaskan makna tiap tahapan. Sama dengan legowo taubat ala Islam yang dijabarkan di paragraf sebelumnya; Bhante sering mengulang-ulang ungkapan 'mengalir hingga melebur seakan tiada'. Pencerahan dari Bhante didukung sensasi "nyaris tenggelam di laut" ketika memaksa menyelam di perairan dangkal dengan bermodalkan kacamata bersama Bang Ricky. Ricky cuma bilang "Sayang banget, kamu punya teknik renang bagus, tapi endurancemu ga bagus dan mudah panik. kontrol napas, kalau udah tenang kita main di bawah kapal". Beberapa saat di mengapung di air, saya mengatur nafas. Berjam-jam setelahnya, saya merasakan momen "mengalir hingga melebur", tidak lagi kehabisan nafas karena takut tenggelam. Haha, bukan hanya itu saja sih yang membuat saya tidak takut, melainkan keberadaan Bang Ricky sangat membantu penyelaman nekat. Yah, sepertinya saya benar-benar yakin akan menanggalkan keinginan tidak menikah. Saya membutuhkan pasangan. Setidaknya, saya berdoa sosok Ricky dapat digantikan dengan pasangan hidup: menuntun selama penyelaman, mengarahkan penyalaman, menunggu ketika saya tertinggal, memberikan lokasi pas beristirahat di dalam air, mengulurkan tangan di saat saya terbawa arus laut, menunjukan cara menikmati petualang di dalam air, mengajak cara berinteraksi dengan makhluk perairan, dan tentunya membuat kesan liburan Raja Ampat menjadi sangat berkesan.
Hahaha. Mendadak saja saya mengingat tuan Tarigan. Tuan yang telah memikat perhatian beberapa saat. Dia berkeinginan memiliki kekasih seorang pemanjat; menurutnya asyik saja membayangkan berpetualangan dengan kekasih yang memiliki hobi sama. Begitupun saya. Bang Ricky menunjukan asyiknya memiliki hobi, dan pasangan yang mampu berbagi hobi sama.
Raja Ampat, suatu saat, saya akan kembali di dalam lautanmu bersama seorang pasangan berbagi hobi menyelam.


No comments:
Post a Comment