Kehidupan ialah riak samudra. Sama sama air. Angin dan gejolak di dalam samudra lah yang menciptakan riak tersebut. Atas dasar apa riak menganggap dirinya spesial? padahal sama-sama tersusun dari molekul air. Gelombang tidak pernah abadi. Keabadian hanya milik Tuhan dan sosok yang dianugerahi esensi keabadian oleh Tuhan. Semakinlah hina riak jika menganggap dirinya istimewa.
Sesaat sensasi istimewa datang dengan aroma bernama: duka gulana suka bahagia. Mereka saling meniadakan. Ketiadaan adalah misteri. Kehampaan merupakan tujuan dari beberapa pemikiran. Termasuk pikiran ini. Menuju sebuah kehampaan dengan meninggalkan pijakan teguh bagi orang lain. Seperti filosofi embun: menyublim setelah menyucikan dan memberi manfaat kepada yang ditinggalkan. Meniadakan "aku".
Mulia sekali, bukan? Hanya saja tidak banyak manusia dengan capaian tersebut. Mengetahui saja, tidak. 7 tahun lalu, saya tidak tahu filosofi embun.
Berangsur-angsur manusia menjadi dewasa. Manusia dewasa tidak selalu menjadi manusia bijak. Kebijakan merupakan salah satu esensi istimewa Tuhan. Bagi saya, kebijakan merupakan esensi sadis yang diselimuti oleh sayap malaikat. Omong kosong dengan hukum dan hakim. Mereka bukanlah kebijakan. Kebijakan sesungguhnya bergerak perlahan, bersembunyi, dan bertindak di luar logika dan hati.
Tidak, justru kebijakan telah mengutuhkan logika dan hati. Keutuhan keduanya telah menjadi variabel bahan bakar bagi ketaatan. Bahan bakar dipantik oleh api keimanan dan tekanan ketaqwaan menciptakan kehampaan tak berwujud. Sebuah simbolik penyerahan diri. Menjadi hamba Tuhan paling taat. Para nabi.
Tidak banyak manusia dinubatkan sebagai nabi. Kebodohan manusia lah menubatkan sesama manusia yang lebih, menjadi seorang nabi. Nabi Tuhan adalah keistimewaan. Dialah riak terbesar dalam periode gelombang pasang. Riak yang dipilih langsung oleh angkasa. Naik menjulang menuju langit.
Langit, sampai kapan engkau bungkam memilih riak besar istimewa. Kami, samudra telah lama diam dalam kesunyian. Riak kecil yang kami ciptakan dari sesama kami, tidak menggoyahkan angkasa. Riak kamu tidak teratur. Riak kami merindukan saat kamu bersatu menciptakan Riak hebat. Kami, manusia mendambakan seorang nabi sebagai tuntunan. Tuhan, tuntunlah kehidupan kami. Tolong kami

No comments:
Post a Comment