"Sampai kapan blog ini bertahan?"
Tidak seharusnya saya mengisi blog di waktu genting seperti ini. Hanya saja, bagi tipikal manusia introvert seperti saya, blog adalah satu-satunya penyaluran kegelisahan yang mudah digapai. Tidak seperti catatan harian tertulis tangan dalam jurnal harian, blog lebih mudah karena memudahkan pengetikan. Tidak seperti media social one-click seperti instagram dan facebook, keduanya terlalu viral dan publik untuk saya mencurahkan kegelisahan ga penting ini.
Banyak hal yang saya ingin tuliskan dalam beberapa pekan ini.
Okey, bilang saja saya sedang memasuki tahapan mellow-drawmwaaa. seriusan deh, sensasinya seperti remaja abg. berkali-kali saya menganggap bahwa saya telah keluar dari quarter life crisis. hanya saja, life crisis itu selalu ada. kenapa yah? heran saya juga. ckckck.
Pertama kebetulan saya ingin membahas: sesiap apapun saya mempersiapkan sesuatu, selalu saya tidak pernah siap dan memiliki celah saya.
Beneran deh, ini sama hal dengan pernyataan dari seorang rekan mahasiswa, mas faried. "aku tadi dibilangin gini Suk sama pak A-B. Yang paling penting itu sebenernya bukan ilmunya, tapi gimana polanya". Rumit sih. Konteks dalam percakapan ini adalah proses berilmu dan presentasi. Ilmu-ilmu dasar material yang kami usahakan paham tidak menjamin akan dipakai di kemudian hari. Karena itu yang harus dikejar adalah pola dalam belajar dan usaha mendapatkan pengetahuan tersebut. Kemudian itu akan menjadi perjalanan jangkaaaaaaaa panjang hingga akhirnya sukses mendapatkan hasil yang dituju. Orang yang sukses duluan selalu berkata: 'usaha dan kerja keras tidak pernah berbohong akan hasil'. Saya termasuk menganut ucapan itu. Hanya saja saya berfikir lagi: 'ah masa iya cuma saya yang bekerja keras dan berusaha keras di dunia ini? toh saya berusaha keras sekali tetap belum ahli juga'. Itu arogan sekali bagi saya. Lantas anutan itu berubah seiring waktu dengan 'usaha dan kerja keras itu kewajiban manusia. Itu bukan pilihan yang mau dikerjakan atau tidak. Jika sudah sukses di tujuan, itu kebetulan Tuhan sedang baik. Rencana Tuhan dan tujuan kita beriringan. jika belum sukses di tujuan, kebetulan Tuhan punya rencana yang lebih baik buat kita'. Dari yang tidak percaya teorema kebetulan, saya bertransformasi menjadi manusia penganut teorema kebetulan.
Kedua, percakapan itu berlanjut dengan pernyataan: "Kalau menang hebat, kalau kalah ya ga apa-apa". Itu sejenis invers filosofi jawa "Menang ora kondang kalah wirang". Ga heran kalau banyak yang senang role as victim. Kalau menang harus merunduk, kalau kalah ya malu. Memang sih lebih mudah berada dalam kondisi rendah-serendahnya agar mendapatkan empati dari orang lain. Boleh sih, hanya saja semacam salah tempat. Buat apa mengemis dengan sesama manusia, toh sederajat, sama-sama berada dalam dunia 3/4 dimensi, lebih baik sekalian saja mengemis ke Tuhan yang jelas-jelas lebih tinggi derajatnya.
Memang sih, menjadi pengemis lebih mudah dibandingkan berada di dalam mobil mengeluarkan uang receh. Jaman sekarang, mengeluarkan uang receh dari dalam mobil saja masih harus memikirkan 'eh, ini di zona mana ya? aman ga ya ngasih pengemis?', 'eh, nanti malah kena denda lagi', dan lain sebagainya. Pengemis memainkan perannya sebagai orang menyedihkan yang menggetarkan nurani kelembutan bernama iba. Nurani itu sendiri anugrah Yang maha kuasa loh, manusia ga bisa disalahkan hanya karena memiliki nurani. Rasa iba itu menuntun manusia yang merasa lebih beruntung untuk bersedekah. Hanya saja, manusia beruntung ini malah semacam susu perah sistem. Sistem telah melahirkan aturan, aturan bagi manusia beruntung adalah semacam GBHK (Garis besar haluan kehidupan. ngarang sih ini). Dan sistem adalah mandor terkejam bagi manusia beruntung kelas menengah.
Paling mudah, sekalian saja menjadi manusia beruntung paling rendah sehingga mendapatkan empati kalangan lain. https://www.facebook.com/Brotality.Inc/videos/1925816197652971/ memberikan visual dari maksudku ini. Rangkaian kisah pendek tersebut memang terkesan angkuh, tetapi itulah yang terjadi. Lepas dari konteks keilmuan kalkulus, maksud dari video menunjukan bahwa 'kamu harus menjadi manusia paling susah dan iba' barulah kesempatan itu terbuka lebar untukmu. Kesempatan buat manusia penuh ide kreatif tetapi amatir (karena tidak tahu medan lingkungannya) hanya sebuah slit atau celah kecil.
Saya jadi ingat dengan kejadian saat SMA dimana ada pesta prom diwajibkan membayar dengan nominal yang tidak kecil. Ada segelintir dari rekan angkatan menangis bombay tidak bisa ikut prom karena keluarganya tidak mampu membayar. well, dari pengelihatan saya sih, keluarganya merupakan golongan konglomerat, setiap IB dia diantar jemput dengan mobil Alphard (pada tahun itu, mobil pribadi jenis ini sangat mewah), dia sering tertangkap membawa HP dengan merk-merk terbaru dan sering kena sita, dia memamerkan Pad tiap kali keluarga datang menjenguk (ingat lagi, teknologi Pad dan tablet merupakan barang mewah), kakaknya yang alumni dan senior SMA sering melakukan perjalanan keluar negri dengan biaya pribadi. REALLY? Tidak mampu membayar? Kamu seharusnya akan malu dengan kondisi keuangan keluarga saya ketika itu, dan saya tetap membayar uang Prom meski saya tidak datang bahkan jijik untuk datang. Saya tidak pernah iba dan menangis sedikit pun mengemis perhatian seperti segelintir orang-orang itu.
Dari kondisi SMA, saya melihat bahwa kemiskinan itu bukan kondisi keuangan. Kemiskinan justru merupakan kondisi mental. Saya pun dapat pencerahan dari berbagai kisah penyegar iman. Banyak kisah menceritakan bagaimana ketaqwaan dan keimanan yang kuat seorang fakir tua yang tetap berbaik sangka kepada Tuhan. Banyak yang berkata 'orang miskin saja bisa sayang tuhan, masa kita enggak'. Bukan. Bukan itu! Justru kisah-kisah itu menunjukan bahwa Islam tidak mengajarkan umat menjadi miskin. Bapak itu fakir dalam segi harta, tetapi dia tidak miskin! beliau sangat percaya bahwa Allah mencukupi kehidupannya, dia bisa hidup panjang karena telah dicukupkan oleh Allah. Miskin keimanan adalah awal dari ketidakbahagiaan seorang individu. "Cukuplah diriku hanya kepada Allah" bisa menjadi mantra mujarab. kalau tidak salah itu juga ucapan dari Ust, Hannan Attaki. Susah? karena itulah berserah diri adalah tahapan tertinggi dalam pelatihan ruhani. Yang bahkan Avatar Aang pernah gagal melakukannya (apa sih).
Ketiga. Saya akhirnya menyadari bahwa rasisme akan selalu ada di muka bumi selama ego merusak selalu dipupuk. Ada ahli menyatakan "agar rasisme itu menghilang, kita harus benar-benar melupakan kata itu". Saya tidak akan bercerita bagaimana rasisme melukai mental anak turunan arab, atau kasus reformasi, atau kasus papua, atau kasus palestina, konflik suku indian-pendatang, atau mutilasi albino di afrika. Rasisme selalu ada dengan versi tersendiri di tiap wilayah.
Kali ini, saya akan bercerita tentang diri saya sendiri. hahaha. Saya adalah turunan jawa yang lahir dan besar di lingkungan 'indonesia' (saya menyebutnya karena lingkungan ini lepas dari kesukuan) bahkan sedikit kebetawian. Saat SMA, lingkungan saya masih sangat 'indonesia' kesundaan. Saat kuliah, saya berada dalam lingkungan kental dengan kejawaan. Disinilah saya sadar bahwa Rasisme itu ada. Secara perawakan, yeps saya sangat wanita jawa: kulit coklat, pipi/ rahang bawah tembem, tidak berbatang hidung. Hanya saja, saya tidak dapat mengakui bahwa saya orang Jawa karena secara bahasa, adat, dan kepribadian, saya tidak masuk dalam persyaratan. Dan itu adalah DOSA BESAR bagi seluruh keturunan jawa. Bapak saya sudah 2 turunan menjadi betawi berdarah jawa. Ibu masih bisa berbahasa jawa jelata. Kekurangan itulah sesungguhnya menjadi kesulitan bagi saya. Mereka selalu berkata 'bumi dipijak langit dijunjung'. cih apanya, teman saya yang orang padang belajar bahasa jawa malah dipandang remeh. untung saja dia muka tebal dan bodo amat. Lain orang, lain aksi, kalau saya hanya tersenyum dan melangkah mundur selangkah-dua langkah- sampai akhirnya keluar pintu. Perlakuan? jelas beda, dan itu mengusik sekali. Lain cerita ketika saya kembali ke wilayah kesundaan. Wajah bak wanita Jawa tanpa polesan dan pakaian slebor, sering membuat saya dipanggil sebagai Bude. K*m*a*g. Lain daerah, lain adat lagi. Pakaian slebor dan pendiam sering dipandang remeh. Padahal jiwa pendiam dan pakaian sederhana sudah dilatih nyaris 5 tahun dengan susah payah dan dinyamankan. semua harus menghilang demi menghentikan pengkerdilan.
Saat melakukan perjalanan ke daerah selain pulau jawa, saya merasa tidak sangat beruntung memiliki paras wajah orang Jawa. Tiap berpergian ke Sumatra, berkali-kali saya dibilang 'mba jawa', setelah itu saya menjadi terminal pandangan matanya para pria, dan harga barang yang saya beli selalu lebih mahal dibandingkan kawan saya berlogat melayu. Perjalanan ke papua yang lumayan menyenangkan, padahal secara sejarah dari mulut ke mulut, darah Papua sangat memusuhi orang jawa. Bisa jadi karena mereka mengalami tindakan rasis, lebih menghargai keberadaan perbedaan. Malah ketika di Manado saya dapat komplain 'orang jawa dimana-mana, sudah kayak debu'.
Sampai akhirnya, saya tertawa pada suatu kesimpulan: 'ini sih kayaknya gue yang ga beres adaptasinya. harus secepat apa sih bermimikri tuh?'
Belajar dan belajar ternyata saya dapat ilmu menakjubkan dari golongan hipokrit. eh, tidak semua golongan yang bertentangan itu buruk loh. Justru saya belajar dari golongan ini. Intinya, jadi seperti lingkungan itu dulu: Sok asik, be a person 'Sir Yes Sir', penurut, sok perhatian, dan -kalau mau- mengemis empati (saya sih ogah untuk yang ini, banyak yang sampai tahap ini, tetapi itu menjijikan bagi saya). Berhasil? lumayan nih waktu mendekati dosen pembimbing kampus. Tapi menjadi tidak sukses sampai akhir, karena tetap saja, itu bukan kepribadian saya. Saya harus sukses dengan diri saya sendiri. Saya sendiri sebenarnya cemas dengan topeng hipokrit, tetapi saya harus memasangnya dalam porsi sedikit agar saya survive di lingkungan dan agar saya sendiri tidak terongrong.
Mungkin kebalikan dari karakter rasis ini justru karakter bodo amat. Jadi begini, sudah secara naluriah bahwa manusia akan menatap dan memerhatikan dari ujung kaki sampai pucuk ubun-ubun orang yang berbeda dari dirinya. Hanya tergantung waktunya saja, ada sedetik sampai-sampai gerakan kepala naik-turun sangat kentara, ada juga yang lamaaaa sampai seabad. Yang seabad ini mungkin bisa masuk karakter bodo amat, tapi pasti menatap dan mengamati lah. Dari semua itu, dengan sedih saya menyimpulkan bahwa rasisme akan selalu hidup di bumi. Hanya kewarasan yang meredam rasisme tidak menjadi alasan perang.
Keempat, sampai kapan blog ini bertahan? karena saya memiliki perkiraan menutup blog ini secepat mungkin. perbaikan dan menjadikan blog lain sebagai kelanjutan dari blog ini. sedih sih karena list pertanyaan tidak sampai seribu.

No comments:
Post a Comment