"Sampai mana keinginan kita tetap ada?"
Ironic particle: the physical manifestation of irony existing latent in every atom in the universe. But my preliminary research suggests that the ironic particles are only activated by the brain when we want something, and so forming a "desire chain"—but only by a certain type of person-Zak on Frequency
Saya yakin sekali pasti ada banyak jutaan manusia di Bumi ini yang merasakan bahwa hidup mereka diguncang-guncang, dibolak-balik bagaikan wahana. Setidaknya, itulah yang selalu saya alami. Tidak hanya kali ini, tetapi tiap saat. Mengapa saya mengutip salah satu quote dari film sci-fi yang cukup freak, yaitu Frequency? Karena saya merasakan partikel Ironi sedang banyak berperan.
Berbeda dari jalan cerita Frequency, di sini saya highlight pemaknaan dari Partikel IRONI. Dalam sepemahaman saya, partikel ironi merupakan perwujudan nyata yang terjadi sebaliknya dari keinginan, tentunya, dalam skala atom (karena ini partikel). Saya tidak pernah tahu bagaimana frekuensi diri saya. Yang jelas, saya bukanlah manusia prodigy seperti dalam film. Saya hanya tahu bahwa saya memiliki keinginan dan memiliki banyak batasan.
Batasan-batasan saya secara sadar memang telah saya ciptakan. Ironisnya, batasan itulah yang sering membuat saya berkali-kali berumpat hati: 'rrrgh GOD! You're sooo cruel' atau 'huff... Yaa muqalibul qulluub tsabbit qalbi alaa diniik'. Ironisnya lagi, saya merasakan batasan itu semakin jelas.
Sering terjadi kondisi ada suatu masa saya berfikir: 'sudahlah, you must give up. Harus realistis'. Lalu apa selanjutnya? saya benar-benar bersikap realistis. Di tengah jalan, kemudian saya merasakan sebuah kehampaan. Benar-benar-benaaaaaar Hampa. Pada titik itu, saya menarif nafas panjang, melamun, dan membantin 'no, you must stop this. It's wrong on many levels'. Selanjutnya saya pun berhenti. Pasti berhenti. Berhenti untuk menangis, menulis kembali apa yang hilang dengan sia-sia, memaki diri sendiri, berkata 'rrrgh GOD! You're sooo cruel', kemudian lelah dan berkata 'huff... Yaa muqalibul qulub tsabbit qalbi alaa diniik', dan siklus baru pun tercipta.
Apa yang terjadi dengan saya bukan hanya sekedar I-R-O-N-Y, melainkan Ironinya Ironi! Ya! Itu adalah high level of Irony!. Irony of Irony. Irony level 2. Haha. Karena saya telah menciptakan Ironi di awal, yang melenceng dari keinginan, dan terdapat Ironi lagi dihasil. Mungkin ini yang dinamakan tidak berbakat atau apes atau sial atau tidak beruntung. HA! ya itu! tidak beruntung kan sungguh sebuah penjelasan dari ungkapan 'ironis banget nasibnya'.
Apa sih masalah saya? Saya tampak seperti orang gila yang menggonggong udara kosong. Saya berumur 26 tahun. Pada umur 26 tahun, siapapun hanya akan bertemu dunia masalah di kehidupan: karir dan keluarga.
Karir
Seseorang (dan cukup banyak, bahkan hampir semua orang) bilang berkarirlah di pekerjaan yang membuat kita bahagia. okey, dengan menyampingkan filosofi bahagia adalah bla-bla-bla yang dari datang dari diri sendiri. Saya hanya ingat, satu-satunya momen yang membuat saya bahagia, tertantang, bersabar, dan antusias seakan-akan dopamin, adrenalin, serotinin, dan endorfin keluar secara bersama adalah ketika saya bekerja di laboratorium fisika bahan pstnt batan. Hanya itu! Tapi itu semua ga bisa terjadi lagi ketika saya telah lulus. Saya tidak memiliki kontrak apapun di sana setelah lulus! Bisa saja sih saya kembali sekolah. hup, NO. Ada satu hal yang saya pelajari setelah 21 tahun (wow, baru kali ini saya menghitung, dan ternyata hampir seumur hidup) mengenyam pendidikan resmi: saya tidak cocok dengan setiap pendidikan yang saya jalani. Pendidikan selalu mengadakan standar, dan menguji kemampuan dengan batas standar itu sendiri. Hasil dari ujian tersebut adalah nilai. Tahap per tahap ujian ada, hingga akhirnya pengajar harus dipuaskan dengan ujian akhir, maka adalah ujian akhir sebagai penentu murid bisa lepas atau tidak. Sebagai murid mengikuti sistem tersebut, saya selalu berkeinginan tiap ujian memiliki nilai fantastis sehingga nilai ujian akhir pun menghasilkan pujian. Nyatanya, selalu standar. Total nilai selalu standar, tidak pernah fantastis. Itulah, saya merasa tidak pernah sukses dengan sistem pendidikan yang saya jalani. Pendidikan tidak berlaku buat saya yang hanya mencari sedikit hal menarik dari banyak ilmu diberikan. Karena itu, selalu ada selipan doa berdasarkan keinginan kembali bekerja dalam lingkungan seperti di laboratorium fisika bahan pstnt batan.
Tapi itu hanya sebatas doa. Karena saya telah salah mengambil langkah, dan saya akan semakin jauh dari aktualisasi doa saya.
Seperti yang saya bilang, saya telah 'I've gave up. Saya harus realistis'. Hm, saya pernah bercerita tentang latar belakang pengambilan sikap saya beberapa pekan lalu ke satu orang rekan di Jogja. Saya mungkin telah salah kalkulasi, dan akhirnya saya berhenti menjalankan kerja 'realistis' tersebut karena rasa hampa. Sesi menyenangkan (dan tentunya gila) adalah saya harus bersabar. Entahlah, siapa atau apa yang membisiki hal itu. Mungkin udara kosong, atau mungkin setan, atau mungkin hamba Tuhan yang saya panggil Allah yang bernama malaikat; karena saya merasa sedang bercerita di atas sajadah ketika itu. Hanya ada dua hasil setelah itu: pertama saya hanya lebih tenang, kedua keinginan kembali ke dunia material perlimbahan nuklir semakin besar. sial omong kosong apa lagi ini, karena sekarang saya tidak tahu gimana membuat jalan kembali ke dunia material perlimbahan nuklir! Rasanya seperti menggapai angin kosong demi balon udara yang sudah terbang bebas di balik awan.
Keluarga
ugh, ini adalah momok paling menyebalkan bagi wanita 26 tahun. Pertama, saya tidak akan menyalahkan lingkungan yang mendukung pernikahan muda. Ingat, segala hal ada baik dan buruk, dan adat istiadat tercipta dulu juga karena berbagai pertimbangan baik-buruk yang pertimbangannya tidak terwariskan kepada generasi setelahnya. Kedua, setiap daerah mempunyai lingkungan tradisi berbeda, jadi BODO AMAT sama tradisi lingkungan Jawa, Sunda, Betawi, Padang, Batak, Cina, Inggris, Irlandia, bahkan Texas SEKALIPUN! See, coba pahamin ini: saya adalah produk asimilasi, saya lahir dan besar di lingkungan yang sudah merupakan asimilasi beberapa tradisi; bisa dibilang mungkin saya Indonesia yang lebih cenderung ke Jawa-Betawi, karena Ibu-Kakek, Ibu-Papa, Ibu-Ipar masih berkomunikasi dan beretika dalam tradisi Jawa, sedangkan Bapak murni Indonesia (sama seperti saya yang pencampuran Jawa-Betawi). Tolong pahami, bahwa saya benar-benar produk asimilasi yang lebih senang kalau saya menyebutkan saya adalah orang Indonesia.
Bagian keluarga adalah bagian membahas pernikahan.
Masih tetap ada sangkut pautnya dengan ironi partikel. Kalau Ironi di bidang pernikahan saya mungkin sudah masuk ke level lebih dalam. Sudah dituliskan di beberapa laman sebelumnya dalam blog ini, setiap perjalanan cinta. well, saya juga sadar sih blog ini isinya begitu-gitu saja: keluhan, cinta, keluhan, cinta. Itulah mengapa saya ingin menutup blog ini secepatnya (keinginan yang belum terlaksanakan).
Dulu, dulu yang sedulu-dulunya sekitar baru lulus SMP, ada satu keinginan kecil untuk menikah di umur 21 tahun. Karena apa? Karena segalanya sempurna saat itu: Pacar yang lebih dewasa 4 tahun, umur pacaran lebih 2 tahun, diskusi matang, dan Arman. Arman, aka K**n R***ijoti Jans**, membuat segala hal sempurna, bahkan saat aku mencoba 'bermain api' di asrama, kami tetap sempurna pada rencana 'saya berumur 21 tahun dan kami menikah'. Kesempurnaan itu pupus karena ketiadaan Arman. Permainan api terus saya lanjutkan bahkan hingga saya 21 tahun. Saya menjadi terbakar dengan permainan api saya sendiri.
Dari: 'saya berkeinginan menikah di umur 21 tahun', menjadi: 'sudahlah, you must give up. Harus realistis. Jalani perlahan dan seriuslah sama Asad'. Berhubungan dengan Asad rasanya seperti Roller Coaster (walaupun aku yakin Asad tidak bisa diajak naik wahana itu). Yah, masalah tetap saja ada. Hingga akhirnya saya berkata 'you must stop and give up with this relations'. hupfh, dan akhir dari hubungan Asad sangat tidaklah mudah.
Bukan masalah hubungan saya dan Asad yang sempat memburuk, melainkan hasil keputusan saya setelah mengakhiri hubungan dengan Asad. Ya, saya akui bahwa hubungan kami sangat buruk selama hampir 1 tahun setelah keputusan itu. Saya masih ingat kalau 1 minggu pertama saya masuk ke kelas selalu dengan mata merah dan bengkak (untung saja saya sudah 'kabur' dari organisasi), 3 minggu setelahnya saya masih meneruskan tangis dan menciptakan benih-benih grudge untuk keputusan langkah ekstrim selanjutnya.
"untuk apa kamu deketin aku? aku ga akan mau pacaran, aku ga mau gandengan, ciuman, seks, nikah, ataupun punya anak". Itu ucapan yang selalu aku ucapkan kepada semua pria yang aku dapati sinyal-sinyal dekat. Alhasil, saya seperti wanita lacur. Silahkan dekat, berteman, seru-seruan, berbagi cerita, diskusi, tetapi jangan sentuh area privasi saya sedikitpun.
Itulah hasil dari benih grudge yang aku sirami dan pupuki dalam waktu 1 bulan. Benih yang terawat dengan baik telah menjadi bibit kecil segar seiring waktu berjalan. Sekiranya, ada segelintir pria (yang pernah diceritakan di laman lain blog ini) yang merasakan bibit grudge tersebut.
Dunia baru (Bandung) seperti memberikan kondisi tidak baik pada bibit grudge. Sehingga perlahan demi perlahan aku menemukan kembali kewajiban dan tugas mulia manusia melalui pernikahan. Prof. Dani, Simbah, sang Surya, Mas Faried, dan Tuan Abraham adalah sosok utama dalam kisah upaya melayukan bibit grudge ini. Tidak tahu kepada siapa nantinya bibit grudge layu ini diperuntukan. Hanya saja yang saya tahu, saya belum menemukan kepastian menghilangkan bibit grudge layu ini.
Hal yang layu bisa dipupuki lagi, karena mereka masih memiliki akar. Akar grudge ternyata tumbuh subur dengan kondisi saat ini. Pengetahuan (yang juga alasan Asad mempermasalahkan 'saya') bahwa saya wanita moron, stupid, idiot, unemployed, untalented dan bibit keluarga 'freak' ternyata adalah pupuk kandang terbaik buat pohon grudge.
Kembali. Saya kembali mundur. Bukan lagi karena saya tidak ingin pacaran, gandengan, ciuman, seks, nikah, ataupun punya anak; tetapi karena saya merasa tidak pantas menjadi pendamping seseorang. Saya merasa kasihan dengan pria yang terjebak dengan saya. Pria-pria itu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Karena itulah, saya mulai melangkah mundur. Jika sebelumnya saya diam di tempat karena masa transisi saya, saya mulai melangkah mundur dari wacana pernikahan.
Gila bukan? Seberapapun saya berjuang kembali kepada ajaran yang baik, rasanya saya akan kembali mengulang dari awal. Bukan karena saya sendiri yang menaburkan benih, lantas membuat saya mudah menjalaninya, saya pun penuh pertentangan. Saya pun ingin memiliki pria yang menjaga dan sayang seperti Hanko bilang 'carilah cowo yang cinta sama kita bukan kita yang lebih cinta dia, contohnya pacar gue', atau yang dapat mengembalikan rasionalitas ketika neurotic episode melanda seperti keahlian tuan Abraham, atau yang tegas dan keras seperti sang Surya, atau lembut dan gigih seperti simbah, atau komunikatif dan menyenangkan seperti prof. Dani, atau baik seperti Bapak, atau gigih seperti Papa, dan nyaris-bijak seperti mas Guntur.
Rasanya seperti mengkonfirmasi bahwa saya tidak memiliki kehendak-bebas (freewill). Freewill sayangnya hanya sebatas keinginan imaji dan pemikiran imajiner. Segalanya hanyalah 'kebetulan niat yang sejalan dengan rancang agung Tuhan'. Tidak ada kebebasan di dalam dunia ini. Segala hal telah diatur dalam hukum alam yang sama absolutnya dengan Tuhan itu sendiri. Tanpa disadari, saya pun mengakui bahwa hukum alam adalah kursi ciptaan Tuhan yang sama sama absolut dan agung dengan Tuhan.
Ironi bukan?

No comments:
Post a Comment