A Thousand Question #31

"Apa proses yang anda inginkan di penghujung 'hidup duniawi' anda?"





Selamat malam dan selamat pagi bagi siapapun yang membaca tulisan ini.

Ini adalah malam sabtu keempat di bulan November 2014 ini. Harusnya bulan ini sangatlah bulan panjang karena menempuh setidaknya 5 minggu weekend. Hem, mungkin hanya karena saya sedang menempuh dan memproses sebuah sikap yang menyenggol pilihan hidup dan keharusan peran. Saya merasa sangat kurang atas waktu. Tidak. Saya masih telah menyiakan waktu.

Pertanyaan ini sebenarnya selalu muncul sejak sepeninggalan Papa Dhany. Melihat kematian bukan hal yang baru bagi saya. Terlalu banyak orang terdekat saya yang begitu baik dan begitu cepat terpanggil. Yah, memang orang baik cepat dipanggil oleh Yang Maha Kuasa agar usaha mereka tidak lagi ternodai. 

Sebelum melanjutkannya, saya sebenarnya berbelasungkawa terdalam kepada Ayahanda dari Ade Setio Nugroho S.T. (hahaha, dengan kearogananmu tampaknya aku harus mencantumnya gelar yang kamu perjuangkan). Tidak menghubungi bukan berarti saya buta dan tuli. Saya tidak pernah keduanya; saya hanya bisu saja. Saya bisu karena berbagai alasan, salah satu mungkin alasan kenapa saya tidak bersama anda di masa berkabung adalah karena saya membalas perlakuan anda di masa saya berkabung. 

Kali ini, pertanyaan itu saya berani utarakan karena memang saya mengakui kebodohan saya memikirkan hal tersebut. Oke, begini. Pernah mendengar sebuah cerita hikayat rakyat dimana orang yang selalu mengambil jatah irigasi pengairan sawah tetangganya, kemudian Ia wafat dan di manapun liang kuburannya berkubang air? atau pernah mendengar sebuah cerita hikayat rakyat dimana sakaratul mautnya dimudahkan ketika ditunjukan uang kepadanya? atau pernah membaca kabar sebuah cerita seorang prajurit yang mati di medan perang karena membela tanah dan negaranya? atau seorang Achilles yang mati karena panah Paris demi melindungi Briseis? atau melihat seorang ahli bedah tua meninggal di ruang operasi? atau seseorang dengan romantisnya menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan pasangan hidupnya?
Mereka adalah orang-orang yang telah merasakan keadilan Pencipta hingga akhir kehidupan duniawi mereka. Mereka mewafatkan jasad mereka dengan cara yang telah mereka usahakan di masa hidup mereka. Itu adalah keadilan menurut pandangan saya. Bukan sebuah karma. Karma bukanlah seperti itu penafsirannya. Itu mungkin bisa terjelaskan oleh fisika kuantum dan fisika-fisika lainn nantinya. 
Menyadarkan siapapun akan kehati-hatian dalam bertindak, berfikir, dan berniat.

Ingin saya bercerita mengenai pengalaman saya. Kehidupan bukanlah sesuatu yang berjalan mengalir-dan-mengalir. Nahkoda kapal. Saya menyukai filosofi yang dimaksud oleh Presiden Jokowi mengenai negara maritim. Okay, singkatnya adalah Negara yang tanahnya adalah laut (saya lebih menyukai sebutan 'fluida') untuk mengarunginya harus menggunakan kapal, dan di dalamnya ada nahkoda, juru arah, dan lain sebagainya; tidak ada tuan tanah disini maka tidak ada feodalisme atau apapun lah yang ber-feodal; disini peran nahkoda itu pemimpin penting, tidak seperti feodal yang memimpin untuk ingin dilayani. okay itu ga penting. Intinya mengalir itu bukan sekedar mengalir tetapi berusaha yang terbaik. karena kalau mengalir hanya mengalir ya akan bagaimanapun tekanan tinggi akan mengalir ke tekanan yang lebih rendah, meninggalkan banyak kapal karam di dasar laut tentunya. 
Pernah saya terjatuh dari lantai 2 karena bermain gelayutan di atas kayu lapuk. Pernah juga saya kecanduan obat-obatan di masa remaja. Pernah juga saya menjalani perawatan khusus yang tiada henti. Dari kesemua kejadian itu, setidaknya saya sudah akan mati sebanyak 4 kali di kehidupan. Belum lagi banyak kejadian selama transisi teen to young adult. Mungkin nyawa saya melebihi kucing. hahaha. 
Menjadi seorang dyslexia bukanlah hal mudah bagi saya, Ikut bersaing dalam berprestasi tidak semudah menentukan kanan-kiri, membedakan b-d-p s-5 3-e q-g c-) e-f n-m w-m j-l; karena kedua hal tersebut sangat sulit bagi saya di masa TK. Berkonsentrasi adalah hal tersulit dan satu-satunya kunci dimana saya bisa 'menyelesaikan' diri saya sendiri. Migrain berkepanjangan juga begitu menyiksa. Bagaimana bisa berkonsentrasi jika selalu terlumpuhkan dengan migrain. 
Sampai pada akhirnya, begitu banyak kehidupan, saya menangkal rasa sakit itu. Percayalah, setiap kehidupan itu sesungguhnya menguatkan pada penghidup kehidupan. Beruntung jika masih tetap mempunyai waktu untuk berucap syukur pada kehidupan dan pemberi kehidupan. Meski selalu ada dua sisi koin.

Kehilangan terbesaaaaaaaaar dan terus berefek hingga sekarang adalah sesosok di masa remaja saya. Menghilang tanpa jasad, tanpa perpisahan, tanpa kabar. Saya telah mencoba berkali-kali mengingat bagaimana perpisahan terakhir kami. Bertahun-tahun menjalani kenyataan, saya telah melupakan segala keburukan dia. Malam ini, akhirnya saya mengingat kalau kami berpisah dengan kata 'maaf'. Padahal begitu banyak perlakuan jahat dia, tapi semakin saya berhidup, semakin banyak kebaikan dia yang saya kenang. Tidak dapat tergantikan. Tidak akan pernah terhapuskan. Bertahun-tahun hidup pun, saya semakin menduga 'mungkinkah jodoh saya sudah di atas dimensi sana?' Yah, setidaknya saya tidak lagi harus merisaukan pertanyaan 'dimana pasanganmu?' karena saya memilikinya saat ini. 

Akan lebih mudah tampaknya jika mengakhiri duniawi di usia muda. Seluruh organ vital didonorkan untuk kepentingan kesehatan atau pendidikan. Jasad tersisa dibakar kemudian abu dikembalikan ke 'bumi', atau jasad tersisa diberikan beban kemudian ditenggelamkan ke laut dalam. Mungkin akan lebih wajar jika mengakhiri duniawi di masa tua yang anak terakhir sudah lebih dari 21 tahun. Berpelukan mengakhiri duniawi bersama-sama pasangan jiwa abadi di dalam rumah tua yang hangat. Heeem, organ di usia senja pastilah tidak begitu bagus, sudah berdegradasi. Jasad tua ditidurkan bersebelahan bersama keluarga lainnya di dalam tanah. 

haha. saya mengkhayal. 

Sebelum sebuah akhir itu tiba. Pastilah akan banyak proses yang begitu indah dan menantang untuk dijalani. Saya selalu berkata bahwa Tuhan dan Semesta selalu adil. Mereka berkomunikasi dengan cara dan kuasa mereka. 
Begitu menyayangkan ketika saya selalu menganggap rendah diri saya sendiri. Hal tersebut terterapikan oleh Pak Haryono dan -tentunya- oleh Semesta itu sendiri. Indah jika berfikir secara holistik. tetapi niat saja tidak cukup, harus ada kemampuan yang menunjang niat tersebut. Barusan adalah ucapan dari Presiden B.J. Habibie lho. Saya ternyata telah melewatkan banyak detil keindahan selama 6 tahun terakhir. 

Hal itu dimulai sejak hari ini. Entah mengapa saya merasa penglihatan saya semakin parah. Hari ini pun saya mengotot untuk membeli kacamata. Menakjubkan ternyata hasilnya. Saya minus 2,25 dengan silinder 1 di kedua mata saya. Sebegitu rusaknya ternyata saya memaksa diri saya selama ini. Tanpa mengeluh dan tanpa merutuk. Hingga akhirnya saya membiasakan diri selama seharian penuh untuk memakai kacamata. Bukan hal mudah ternyata. Segalanya terasa bergelombang, otot mata seperti kontraksi-relaksasi berkali-kali, dan juga berkali-kali saya salah menerka elevasi lantai kantor. Kesadaran kemudian muncul ketika saya tengah berkutat dengan laporan, Saya berisitrahat sejenak, menatap ke atas  dan dinding-dinding rumah. Melihat foto keluarga, ukiran batang gorden, pasir laut meja makan, patern kayu buffet, dan bunga di taman. Betapa lama aku melewatkan keindahan detil dan batas di tiap benda. Selama ini saya selalu melihat segalanya dengan menerka, dan sekilas. Oh God, Saya telah melewatkan banyak keindahan di sekitar. Mungkin sebuah pelajaran, bahwa bantuan luar juga bisa digunakan jika memang individu di luar batas kemampuan. 

Apapun kehidupan yang diusahakan, saya mempercayai bahwa ada akhir duniawi yang adil dari kehidupan. Kehidupan pun proses. Bagaikan riak ombak di samudra. 

Selamat menikmati kehidupan ini.
Selamat datang musim penghujan.
Selamat tertidur para tumbuhan yang habis bermain di akhir kemarau.
Selamat datang musim panas di belahan bumi selatan.
Selamat datang musim dingin di belahan bumi utara.
Selamat datang sesi kehidupan baru.
Selamat berusaha.

No comments:

Post a Comment