"semenunduk apakah arrogant anda dihadapkan kepada kebenaran?"
Selamat malam dan selamat pagi.
Suatu saat yang lalu saya mendapatkan cerita mengenai keadaan seorang terdekat saya. Dia wanita. Wanita yang telah membantu keluarga saya dengan sepenuh hati dan segala kebaikan. Semoga Tuhan dan semesta memberkati beliau.
Beliau bercerai ketika anak kedua dan ketiga (kembar) lahir. Bukan sebuah cerita asing di rentetan keluarga saya mengenai wanita yang single fighter. Saat mendengar setiap cerita bagaimana beliau membiayai ayah (63), ibu, adik, anak pertama (smp), dan bayinya (satu bayi akhirnya diadopsikan), saya hanya merespon dengan ucapan "oh" dan senyum. Sejujurnya saya bahagia dan bangga mendengar wanita yang berjuang untuk keluarga apalagi dengan cara yang baik; lagipula saya mengenal beliau sebagai sosok yang sangat baik hati, sopan, berempati besar, dan beriman.
Respon berubah saat cerita memulai bagian: beliau menikah setahun kemudian. Baiklah, bukan masalah ketika di dalam pernikahan tersebut ada mutualisme di dalamnya; tetapi beliau dimanfaatkan! Kebaikannya dimanfaatkan sang suami baru yang (saya anggap) bodoh, pemalas, pembohong, dan pengecut. Saya akan bahagia ketika mendengar beliau bahagia. Mungkin YA beliau bahagia. Karena bagaimanapun wanita kodratnya membutuhkan pria, wanita membutuhkan payung lindungan pria, dan lain sebagainya. Lain sebagainya yang membuat wanita tersebut tidak lagi menjadi kuat dan selalu jadi objek! OBJEK PEMUAS; bukan lagi menjadi seorang yang dilihat sebagai subjek humanis. Itu yang sering saya keluhkan kepada tiap wanita; Kami (saya dan kaum wanita) kurang mengetahui seberapa berharganya kami sehingga terkadang kami bersikap dan berfikir dengan cara yang merendahkan kami sendiri.
Ha! Tidak butuh lagi lah penjelasan bagaimana pemikiran arrogant dan tanggapan saya kala mendengar narasi beliau.
Sampai pada akhirnya, saya berhidup bersama beliau. Komunikasi dan berkegiatan bersama. Sampai pada akhirnya beradalah saya di sebuah titik yang membolak-balikan pandangan saya hingga 180 derajat. Saya melihat sebuah keterbukaan pikiran dilandaskan kesabaran dan kepercayaan. Kalimat beliau berisikan seperti ini: "atuh yang sekarang mah si aa ngasih perhatian aja ke adi sama fauzi. Itu yang penting. Ga mau lagi deh ada drama-dramaan. Udah tua. Bukan waktunya lagi. Biar aja si aa masih keinget almarhum istrinya, asal yang penting bisa ngasih peran ayah ke adi sama fauzi". Sesuatu pola pemikiran yang ga bisa saya serap dan imani hingga sekarang. Saya yang besar dengan skeptisme di dalam jiwa, akan sangat sulit menyerah mempercayai sosok baru. Akan sangat sulit pula saya membuka pemikiran untuk hal seperti itu. Seketika, saya seperti ditundukan kepada kebenaran. Kebenaran peran wanita yang berdiri di tengah peran sebagai istri dan ibu.
Dua hari sebelum percakapan tersebut ada. Saya menghadapi manusia super arrogant bernama mardiyati. Sudah menjadi headline umum bahwa tempat pendidikan yang saya ingin masuki mencetak ribuan manusia super arrogant dan opportunist. Hal yang membuat saya berfikir berkali-kali mendaftar. Cara hidup arrogant baru saya geluti sejak september 2014, dan itu bukan bagian hidup saya sebelumnya, bahkan saya tidak diajarkan untuk memeluk gaya hidup arrogant oleh ibu saya; sungguh menjadi arrogant bukan hal mudah bagi saya.
Bisa dibilang, saya marah. Ingin rasanya suatu saat saya mempermalukan mardiyati hingga palung terdalam rasa malu. Menundukan sisi arrogantnya lebih parah dari apa yang telah ia lakukan untuk 'menelanjangi' rangka saya.
Sungguh, saya ingin melihat saat itu terjadi. Bahkan jika saya beruntung melihat prosesnya, saya akan sangat bahagia. Melihat kesombongan yang ditundukan.
Dan satu cara yang diajarkan semesta adalah dengan menunjukan kebenaran yang belum ia miliki.
Mungkin itu patut dicoba.
Urusan manusia adalah mencoba. Hasilnya adalah urusan Tuhan. Mario Teguh.

No comments:
Post a Comment