A thousand question #34

"benarkah terdapat dimensi yang bersinggungan?"

Lama tidak lagi menuangkan pertanyaan di dalam blog ini. Sekalipun menulis, bukan sesutu yang layak tersajikan.

Tahu mengenai salah satu teori penciptaan bumi? Ledakan? Sebelum ledakan terjadi, sebuah nominal entropi lingkungan semesta naik dengan dahsyat (okay, itu wajar, karena sebuah sistem baru akan terbentuk). Sebelumnya terdapat kesunyian maha dahsyat.

Saya berdiri di atas kondisi kesunyian maha dahsyat.

Bukan yang pertama, sudah berkali-kali. Setelahnya, yang saya ingat adalah perubahan. Baik itu merupakan pilihan ataupun tidak pilihan.

Hem, lupakan.

Pernahkah saya menulis beberapa pertanyaan dalam satu judul?
Oh tentu pernah. Di jilid belasan saya ingat pernah menanyakan 3 pertanyaan di dalam satu judul.
Saya akan mengulanginya kembali.

"kapankah ingatan pertama itu muncul?"

Mungkin ini akibat dari efek dari sebuah hari minggu. Hem, saya selalu tidak menyukai hari minggu. Hari panjang untuk tidak (dapat)  berfikir tanggung jawab. Segala lelah terpuaskan di satu hari. Menjadikan hari senin sebagai hari yang kurang berenergi.

Ah, saya tidak menyukainya. Sama tidak sukanya dengan tidur dalam terang, tidur tanpa selimut, hari tanpa beribadah, dan mimpi yang bagaikan menyinggung dimensi saya yang lain.

Seseorang terdekat saya mengatakan bahwa saya kesepian, dan tertekan. Well, dia melihat diri saya tanpa siapapun dan tidak membuka diri kepada siapapun; juga tekanan dalam idealisme.
Hahaha. Saya hanya meluruskan; setidaknya untuk diri saya sendiri. Saya (mulai) malas dengan ungkapan idealisme. Saya (ingin) tidak memiliki idealisme apapun. Manusia idealis telah distereotipkan sebagai manusia radikal yang selalu menentang apa yang manusia sebelumnya perjuangkan. Sebagiannya dari para pengikut idealis, saya menatapnya sebagai kaum munafik. Jadi, saya merasa tidak memiliki idealisme apapun saat ini. Saya hanya manusia yang memiliki akal yang mencari tahu, mengetahui, mempelajari, memahami, dan menghikmahi segala beban moral seorang manusia, insan, dan personal. Itu bukan idealisme; dan menjalaninya bukan sebuah kewajiban, melainkan sudah memang kodratnya seperti itu. Maka dari itu, saya tidak tertekan dengan apapun.
Saya memang tidak membuka diri kepada siapapun. Itu saya akui.

Ah, mudahnya, saya sedang di quasy-state dalam rangka pengujian diri. Ups, tidak. Tepatnya: "saya merasa dan meyakini bahwa Tuhan sedang menguji saya" ujian jenis apa? Apapun itu, pastilah demi kebaikan.

Mungkin di detik sebelum ini saya berfikir mengenai hiburan, penghamburan uang, kekasih, liburan, dan fasilitas kemewahan. Detik ini saya balas bertanya: "untuk apa?" hiburan berlebihan hanya menghancurkan usaha bertahun-tahun untuk membuat personal memiliki "kristal moral" baik untuk tabungan masa tua, memangnya saya pernah terpuaskan setelah menghamburkan uang? Tidak pernah (saya sudah belajar 4 tahun dengan momen tersebut), saya juga sudah pernah memiliki kekasih meskipun kami berbeda dimensi saat ini (akan kasihan cerita orang lain di dalam romantika saya. Lagipula say menunggu sosok dan waktu yang tepat nan baik untuk ini. Anugerah Tuhan. Saya masih jauh akan hal ini, karena saua mengharapkan proses dan akhir yang sempurna), dimana ada liburan yang menyenangkan ketika beban moral terus menggelayut? Dan apakah kemewahan akan menjawab solusi ketidakseimbangan siklus material semesta?

Saya beruntung masih mempertahankan diri di quasy-state. Tidak bereksitasi atau menjadi ion bebas yang radikal di lingkungan semesta. Oh. Saya akan, tapi di saat yang tepat.

Ingatan pertama saya adalah Guntur yang bermain superman saat saya berumur 3 tahun. Apakah itu lazim? Tidak tahu. Ingatan pertama lainnya yang menyinggung dimensi lain adalah di umur 7 tahun, melihat kotak dimensi yang nyaris memiliki kesamaan kotak dimensi waktu selanjutnya.

Mungkin sebuah perjalanan waktu benar ada ketika sebuah keseimbangan hampir terlihat tidak ada. Ketika entropi memuncak, maka di Sana terjadi overlap zone. Dunia terdistorsi menjadi lekukan abstrak, bersinggungan pada kotak dimensi 3 lainnya. Wormhole di saat tidur, dimana akses terjadi ketika tabir insan terbuka dan diacak-acak oleh Yang Maha Kuasa.

Anggaplah itu adalah anugerah.

Tinggal menungu revolusi Ilmu Pengetahuan dan akan terjawablah pertanyaan para scientist di akhir era 1890-an.
Pertanyaan selanjutnya: "akankah manusia siap merombak ulang pengetahuan yang tidak lengkap? Seperti mengganti contoh benda isolator bukan lagi plastik di teks book sd"

No comments:

Post a Comment