"Apa yang sedang manusia (saya) baca?"
Membaca. Oooh, saya selalu menyenangi sebuah tulisan. Meskipun tidak semua tulisan di dunia dapat saya baca. Jelas lah. Saya tidak sepadan dengan rasul, nabi, saint, ataupun tuhan yang bisa membaca segala hal.
Ada sesuatu hal yang menarik perhatian saya hari ini dengan tema membaca.
Mungkin, kalau saja disangkutpautkan dengan teori order-chaos; saya baru saja terchaoskan dengan energi luar yang besarnya lebih hebat dari ikatan sistem saya, hingga saya mengalami energi bebas gibs menimbulkan aksi kecil disebut sebagai order, nantinya mungkin saya memberikan chaos yang baru. Who's know?
Saya selalu senang (tanpa bertanya-tanya apa bagaimana dan mengapa lagi) akan sebuah cerita turunnya ayat pertama al-quran kepada Rasulullah Muhammad. 'Iqro'. Artinya adalah bacalah.
Ini sedikit menggelitik menurut saya. Di lain sisi saya senang dengan kisah turunnya Al-quran; menunjukan betapa besarnya energi bebas gibbs yang dialami Rasul dan semesta akibat 'turunnya' energi potensial langsung dari sang Maha, kesetiaan kecerdasan dan ketabahan istri rasul; sisi lain saya tergelitik, kenapa wahyu pertama yang harus diucap hingga berkali-kali bukan bersujud, atau berisbat, atau meminum darah, atau memakan jantung.
Setelahnya barulah diwahyukan agarn membaca dengan menyebut nama pencipta. Setelahnya wahyu mengenai segala kebenaran yang diturunkan bahwa pencipta menganugerahkan dan mengajarkan manusia dengan "pena".
Saya sempat bertanya dalam hati:
"Mengapa Islam dijadikan agama penyempurna?"
bukan sempurna lhoo.... tapi penyempurna. Agama samawi lainnya, begitu indah seharusnya.
Karena ini pertanyaan dalam hati, maka saya menjawabnya secara personal hati pula.
Zabur, Taurat, Injil, Al-Qur'an. Kuasa, akal, yakin, sempurna. Mahkota, tongkat, piala, jubah. Kepemilikan, pengetahuan, keimanan, tawakal. What, how, why, ... (infinite? Perfection? New order? Chaosity of endless? Limitless? Unboundary? Blank space? Oh, something that invaluable that "Islam", ooooorr.... perfect)
Apapun itu, agama samawi tidak dapat dijelaskan parsial dan pengotakan yang sering digunakan para ilmuwan. Penurunan wahyunpencipta sebagai petunjuk manusia adalah penurunan bertahap. Pandangan holistic, longitudinal, dan berpihak pada segala asas (bukan tidak berpihak).
Ck, apalah. Singkatnya, saya kemudian ingat saat ditantang oleh Pak Haryono mengenai beberapa ilmu, ujug-ujug beliau bertanya "kamu sudah membaca?" Saya sudah menjawab "saya melihat tulisan di buku pak" saya menjawab itu karena saya pernah diajari oleh Papa mengenai prinsip melihat, membaca, memahami, meyakini, ikhtiar. Saya pernah menuliskannya di salah satu tulisan tersebut di blog ini.
Saat kecil, ibu membiasakan saya menyenangi kebiasaan membaca. Jadilah, saya bisa melahap buku (yang sialnya adalah) buku pelajaran.
Orang sukses pun, selalu memiliki hobi membaca buku. Simpel, but widely range of result. Hahahahaaa.
Jadi, apakah hanya saya sendiri yang sedang melihat tulisan di buku, melihat warna warna pendaran spektrum di muka bumi yang 2 dimensi, tanpa membacanya kemudian sehingga banyak hal yang saya lewati untuk saya pahami? Sungguh saya telah jauh dari keyakinan dan ikhtiar.

No comments:
Post a Comment