Apakah segala mekanisme pengetahuan dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan?
Selamat hari minggu yang damai,
Semoga selalu ada berkah kebahagiaan bagi siapapun pembaca (termasuk saya di lain waktu),
Ada beberapa kejadian di 2 minggu terakhir ini yang saya alami. Pertama, sebuah topik penawaran tesis dari seorang doktor muda; kedua, sebuah usaha melepaskan rantai trah yang gagal; ketiga, sebuah kenyataan bahwa saya ditinggal menikah oleh seseorang yang sengaja saya uji komitmennya; keempat, keputusan saya menulis mengenai hidup, dan jurnal ide pribadi di ilmu pengetahuan. Berbagai pengalaman tersebut menekankan saya bahwa saya sedang dalam sebuah perjalanan tanpa lika-liku. Saya telah sukses memfokuskan diri saya dalam perjalanan; sebuah usaha yang saya takutkan semenjak 18 tahun, dan saya tekadkan semenjak 21 tahun. "Lempeng" itulah salah satu ungkapan tepat dari seorang sahabat; hanya tidak dapat dipungkiri, bahwa analogi perjalanan kehidupan tidak hanya lika-liku tetapi ada naik-turun seperti "fluktuasi sinyal". Yep, saya merasa sedang dan telah diluruskan dalam satu perjalanan: 'penelitian, penulisan, dan spiritual'.
Berkali-kali saya menuliskan betapa saya beruntungnya bertemu dan dibukakan akal, dan jiwa oleh Pak Haryono, dan Pak Dhany. 2 sosok yang berakar, dan berbuah kepada spiritual peranan masing-masing manusia. Pertemuan dengan mereka diibaratkan sebagai proses pemanasan bersama saya yang masih sebuah material mentah senyawa murni berego natural mencoba berbaur tetapi belum dapat berbaur. Bersama mereka diibaratkan sebagai holding time dengan saya menjadi sosok dalam fase baru yang jauh lebih berbaur dan matang, menampung segala teori kondisi yang akan menjadi cikal bakal solid-solution keras dan tangguh. Ketika lepas dari mereka, ini adalah periode quenching, periode dimana saya benar-benar dilepas untuk mempraktekan kehidupan tanpa mereka; menghasilkan saya dengan fase solid-strenghtening keras dan tangguh dengan probabilitas bermacam-macam tergantung seberapa cepat periode quenching saya. Pemanasan kehidupan dimulai kembali dengan pergelutan hidup, nantinya akan tumbuh kristal-kristal senyawa yang akan mentransformasi diri saya dalam fase diri yang lebih kuat dan tangguh karena memiliki dan menghasilkan nilai kristal hidup yang baik (secondary phase).
Nah, bisakah kehidupan dianalogikan layaknya ilmu pengetahuan seperti itu? Pantaskah?
Ketika ilmu pengetahuan dikembangkan dan berkembang, selalu berawal dalan perwujudan "what", berangsur menuju perwujudan "how", sampai akhirnya berkapabilitas untuk menjawab pertanyaan "why".
Apakah kehidupan itu seperti ilmu pengetahuan?
Apakah mekanisme kehidupan diizinkan dalam rupa ilmu pengetahuan?
Atau, apakah kehidupan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan?
Atau mungkin, apakah kehidupan adalah ilmu pengetahuan itu sendiri?
Okey, mungkin bagi beberapa mereka pemercaya suatu ajaran, singularitas merupakan sesuatu yang sangat esensi. Hanya saja, saya masih membayangkan skema singularitas: (i) menuju atas, atau menuju bawah? (ii) dimana posisi saat ini? (iii) kemana arah selanjutnya atas atau bawah?
memang sesuatu yang tabu dari zaman ke zaman mengawinkan ilmu pengetahuan dengan ilmu spiritual. Mereka yang mengawinkan keduanya pasti berujung dengan sebuah kata "cukup". Dengan kata lain mereka berhenti (atau menyerah) dengan kedua ilmu, kemudian statis dalam kondisi terakhir mereka; begitu tangguh, terlindungi, dan unbearable. Tidak seperti mereka saat masih dalam pencarian; begitu ulet, unstopable, dan welcome. Sebuah ungkapan terbaik bagi mereka adalah 'kamu tahu kapan harus berhenti'; lain sebuah ungkapan terburuk bagi mereka adalah 'kamu adalah pengecut karena tidak menyelesaikan permasalahan baru yang kamu buat'
Barangkali, di ujung pertanyaan yang keseribu, semua pertanyaan mengenai kehidupan akan terjawab di akhir nafas. Di saat maha pemberi kehidupan memberikan jentikan segala jawaban (salah satunya kehidupan) berupa kebenaran yang sempurna sebagai hadiah usaha terbaik menjalani kehidupan.
Mungkinkah itu terjadi?

No comments:
Post a Comment