Kenapa justru tulisan mengenaimu lebih sedikit di blog ini?
Baru saja saya memeriksa kembali isi dari blog ini. Dari tahun 2009. Dimulai dari sebuah tulisan alay penuh emosi yang mencoba membangkitkan eksistensi. Aah, saya melihat perubahan dalam penulisan. Ada beberapa tulisan yang rasanya ingin saya hilangkan, hanya saja... haha, hanya saja itu adalah saya. Mana mungkin bisa menghapuskan masa lalu yang membentuk saya. Mentang-mentang saya adalah masa depan di masa lalu, tidak wajar jika saya menghapus bagian saya. Biarkan serpihan yang buruk menjadi fondasi. Percaya bahwa batuan kasar memiliki agregat dan porositas baik sebagai fondasi.
Terpenting adalah saat ini. Bangunan berkarakter dan berfungsi sesuai desain.
Berbicara masa lalu, tidak akan pernah lepas serta dari sosokmu. Entah sampai kapan nanti saya terus mengingat sosokmu. Masa dimana saya membaca kembali tulisan ini, mungkin masa saya nyaris lupa menyegarkan ingatan mengenaimu. Masa dimana mungkin saya sudah tidak mampu membagi bahkan berkompromi dengan passion, dan tanggung jawab demi menyegarkan memori saya tentangmu. Memori-memori yang selalu muncul di kala apapun, tanpa ancang-ancang. Memori itu, sejujurnya, membahagiakan; saking membahagiakan, terkadang pedih.
Detik ini, ada kesadaran yang muncul di realita. Saya paham mengenai ungkapan: "semakin keras usaha melupakan, semakin mudah ingatan muncul".
Ya, saya paham. Selama ini saya telah jahat dengan siapapun, demi melupakan sosokmu. Bahkan saya jahat denganmu karena menjadikan sosokmu sebagai tameng alasan. Maaf.
Saya mencoba belajar berserah diri.... atau apalah istilah lainnya. Saya tidak ingin menekan segala memori sosokmu. Saya akan menikmatinya karena saya ingin murni bahagia. Bahagia yang benar-benar bahagia. Tanpa menjadikanmu sebagai objek; memang seharusnya bukan, kamu adalah subjek kebahagian yang membahagiakan. Tulisan selalu membuat ketenangan di diri saya; maka saya akan memulai terapi berserah diri dari tulisan.
Dua hari lalu, saya menuntaskan bacaan mengenai sastra Nizam: Layla Majnun. Saya mengenal kegilaan yang didera Qays, tetapi saya memaki. Tidak. Tidak ingin saya diperbudak oleh apapun kecuali kebenaran, apalagi cinta. Tidak ingin. Saaaaaaaangaaaaaat tidak ingin. Jika, memang kamu adalah kekasih saya, saya tidak ingin salah mengarfiahkan cinta dengan nafsu, sehingga saya menukarkan segala kesempatan untuk ingatan tentangmu. Saya tidak akan diperbudak masa lalumu selamanya. Saya hanya ingin diperbudak kebenaran. Itupun kebenaran atas ridho dan kuasa Tuhan juga semesta. Semoga tidak ada satupun salah memahami.
"Dengan menyebut nama ALLAH yang telah memberikan kehidupan pada jiwa dan memberikan pertolongan kepada hatinya. Pengetahuan meliputi segalanya dan kebijaksanaan miliknya MUTLAK. Ia melihat dan mendengar segalanya. Ia mengetahui yang nyata maupun tersembunyi. Ia membagi dunia. Ia memberi waktu kepada makhluk dia atas dimensi bumi. Ia memberikan jiwa kepada setiap pria dan wanita, dan telah menyalakan jiwa itu dengan obor yang diberi nama akal dan pikiran, sehingga setiap manusia yang diciptakan bisa mendapatkan penyelamatan"
-kutipan doa pembuka surat Layla; Layla Majnun, Nizam-

No comments:
Post a Comment