24'th on 23'rd

"Apa yang disiapkan di 24 mu?"

Jika sebelum umur 23 adalah tahun penuh ambisi, di tahun 23 saya berjuang menekuk tunduk segala ambisi.

Dari tahun ke tahun selama 6 tahun, saya selalu mendapatkan pesan berupa ucapan selamat. Tidak hanya ucapan, biasanya, beserta ucapan tersebut disertai pula sebuah sajak dan kuntum-kuntum bunga penuh makna. Tidak pada kesempatan kali ini, tertulis sebuah pertanyaan: "apa yang disiapkan di 24 mu ini?"

Pengirim mungkin mati secara jasad dan nama, tetapi sebuah keyakinan yang mengatakan dia hidup abadi. Entah siapa yang menghidupi keabadiannya. Dia memiliki yang dipercayai, jelas yang dipercayainya telah melakukan kerja yang baik agar tidak membuat saya sendiri. Seperti apa yang tertulis di sajak kedua tahun 20 saya.

Tidak ada yang spesial yang saya siapkan di 24. Tidak seperti 23, bagaikan titik balik. 'Berlutut bersujud di muka atas nama kebenaran' salah satu isi pesan di 22. Tidak pernah mengira, saya akan menjadikannya. 'Bertopeng atas tanah, berwujud atas peubah sinar mentari' salah satu isi pesan di 23. Salah satu bait yang masih saya raba hingga loncatan 24.

Hanya satu di 24: 'menulis tiap hari'.
Setidaknya masih memiliki satu resolusi di 24.
Sisanya? Saya memiliki banyak hutang terhadap pathline yang saya buat di 19, 20, 21, 22, dan 23. Pathline tetap berjalan, maka 24 ini waktu produktif, waktu bersikap telah datang.

Mungkin di sepanjang 23 mei kemarin merupakan perwujudan dari sisi saya sebenarnya. Terbangun karena pesan di mimpi (tidak lagi dapat mengabaikan perjalanan mimpi), bergerak di pagi karena kebutuhan rohani (kewajiban ibadah bukan lagi sebuah kewajiban tetapi sudah kebutuhan), berhidup karena memiliki tugas sebagai warga negara (berkomitmen terhadap aturan, tidak berharap mencela ketika sanggup menjalankan), fatigue and dizzy (tubuh yang melemah karena menentang kebutuhan berolahraga), melakukan pertemuan dengan Abraham Claflin di bandara (memenuhi dan menghargai usaha kebaikan orang, juga berjuang memudahkan orang berbuat baik), dan menyelesaikan tanggung jawab pendidikan (menuruti target pathline hidup). Setidaknya saya tahu apa yang saya perjuangkan di 24 nanti.

Akhirnya, saya berani mengeluarkan nama Abraham Claflin dalam tulisan. Dia bukan sosok semu seperti yang orang duga. Dia nyata. Kami saling bercerita. Kami berdiskusi. Dia yang terbaik setelah saya menjerumuskan diri dalam kesunyian di 21. Kami berbeda kepercayaan. Dia rabbi yahudi orthodox di manchester. Kami berkali-kali menyerah, berkali-kali pula kami memaksa diri bertemu jauh dari Bandung, Jogja, Manchester. Kami satu kepercayaan: kami tidak berbahagia dengan hubungan yang terjadi. Kami berselingkuh dengan golongan kami masing-masing, tetapi sesungguhnya kami saling membutuhkan. Jika, golongan saya menawarkan berbagai materi, teori, ucapan, pengalaman, dan dogma; Abraham memberikan sikap lurus, 3 pilihan spesifik, keberanian, juga ketenangan dan keterangan yang nyata. Jika, golongan Abraham menawarkan berbagai fakta, logika, algoritma, ekuitas, dan perdebatan; menurut Abraham saya memberikan vitamin hati yang kurang dari golongannya. Setidaknya 24 saya sudah bersuara untuk mengakhirkan utopia Abraham Claflin.

"Tidak perlu risaukan pasangan hidup. Pasanganmu yang tak terkalahkan akan berlutut untuk ikut serta mempertanggungjawabkan kesempurnaan mu yang hasil dari kesabaranmu, bersama Bapak-bapakmu, dan Guntur"

Bersikap dan bersabarlah, 24.

No comments:

Post a Comment