A thousand question #37

"Sejauh apa sebuah simbolik itu dianggap sebuah kebenaran?"

Selamat sore kepada para pembaca dan saya yang sesang melihat masa lalu.

Tulisan kali ini sebenarnya ingin sekali saya arahkan mengenai simbolik dalam mimpi. Mimpi selumrahnya adalah sebuah bunga tidur. Bunga tidur diartikan dari zaman ke zaman sebagai isyarat. Para manusia istimewa, banyak yang diubrak-abrik akal dan raga otak mereka dengan mimpi. Atau sebenarnya, bisa saja dikatakan sebagai sebuah paradoks. Apakah pengubrak-abrikan akal dan raga otak diinisiasi oleh stimulus internal yang dikenal sebagai mimpi? Apakah pengubrak-abrikan akal dan raga otak ditandai oleh adanya mimpi? Apakah hasil proses pengubrak-abrikan akal dan raga otak adalah mimpi? Ataukah mimpi hanya mimpi bunga tidur tanpa arti apapun?

Bagi orang-orang seperti setengah dari saya menganggap bunga tidur hanya bunga tidur. Bagi orang-orang seperti seperempat dari saya menbanggap bunga tidur sebuah harapan simbolik. Bagi orang-orang di lain bagian saya berusaha keras meneliti kebenaran tentang tidur.

Masyarakat pemercaya mimpi sebagai mimpi biasa sering berbaur dengan masyarakat pemercaya mimpi sebagai simbol. Jadi, kualitas mimpi sebuah kebenaran yang harus dikuak sebab mimpi mengandung kebenaran tersirat sebesar kuantitas para pemercaya mimpi biasa. Dari zaman ke zaman, mimpi dijadikan sebuah simbolik kerohanian dan perkembangan raga otak.

Sudah disepakati sebelumnya, bahwa apapun yang berserakan di atas bumi merupakan petunjuk menuju kebenaran esensial. Bagi para pencari kebenaran, tidak ada jalan untuk mundur jika sudah memulai. Kemunduran peran para pencari kebenaran berarti sebuah kebohongan, keingkaran, dan sesat fikir. Mentransformasi petunjuk yang berserakan di atas bumi menjadi sebuah simbolik; maka mengartikan bahwa sesungguhnya kita berada di sekeliling simbolik kebenaran.

Rasa lapar, rasa kantuk, rasa emosi, cahaya, warna, gravitasi, pergerakan, percepatan, padat, cair, gas, plasma, suara, aroma,  fotosintesis, simbiosis  dan lain hal yang mudah dikenali tetapi sulit dijabarkan oleh sebuah deret deskripsi kata, bukankah itu sebuah simbolik primer? Tidak ada alasan untuk meremehkan simbolik primer. Begitu pula simbolik berupa mimpi.

Berangkat dari sebuah simbolik primer, tidak mudah menjadikan sebuah prionir kebenaran. Effort, work, force, gain pasti harus ada. Itu sebabnya, tidak ada kata mundur (menyerah) bagi para pencari kebenaran esensial. Biarkan para manipulator bergelimangan kebahagiaan dan kesejahteraan atas jejak para pencari kebenaran esensial; juaranya tetap para pencari kebenaran esensial. Tetap rendah hati dan berhati-hati atas jalan kebenaran tanpa ujung menuju singularitas.

No comments:

Post a Comment