A WHORE
Umpatan selalu tidak bagus keluar melalui mulut wanita. Ungkapan tersebut diucapkan Ibu ketika umur saya 18 tahun, hingga saat itu saya kehilangan kemampuan berbicara bebas.
Lebih baik tidak usah memakai bahasa jawa (sunda) kalau kalimatmu kasar. Ungkapan tersebut diucapkan Ibu dan Tante-tante ketika umur saya 8 tahun, hingga saat itu saya tidak lagi tertarik dengan bahasa, kecuali bahasa nasional dan internasional.
Simpan tanganmu dari orang yang memandang rendah dirimu, jangan nodai dirimu sebagai perempuan dengan berkelahi. Ungkapan tersebut diucapkan Ibu dan Bapak ketika umur saya 13 tahun, hingga saat itu saya mengundurkan diri dari TO Taekwondo untuk perlombaan, bahkan berhenti total dari Taekwondo.
Kehidupan memang selalu menumbuhkan dan mematikan sesuatu. Tidak peduli itu adalah sebuah kebaikan atau keburukan. Setiap entitas di dunia selalu mengandung dua kelompok: kebaikan, dan keburukan.
Selamat datang di dunia 25, Saya.
Babak tahun tersulit ternyata. Tidak semudah menghabiskan waktu 5 tahun di dunia penuh kebebasan, ekspresi, dan jelajah. Tapi bodoh jika saya meminta kembali dunia 5 tahun tersebut. Dunia akan terus berubah, berputar, cepat dan semakin cepat; karena itu bodoh jika saya meminta kembali kondisi yang sudah terlalui. Dunia mulai memasuki ranah transcendence, dan bagaimana bisa saya berpangku-tangan memohon masa lalu yang sudah dilalui. Bodoh.
Tidak ada yang bilang kehidupan itu mudah, tetapi tidak juga berkata itu selalu sulit. Mereka bilang mudah, pastilah sedang berada dalam ketidak-pekaan atau kurungan. Hal sama juga pada yang mengatakan selalu sulit. Justru ada kesalahan dalam hidup mereka.
Sekitar sehari setelah hari ke 25 tahun saya: 24 Mei. Saya melakukan kegiatan dan menunaikan tanggung jawab. Di dalam kegiatan tersebut, saya mengalami kecelakaan. Motor saya slip karena harus mendadak di saat saya baru saja menggas. Salah saya? Ya, salah saya karena saya memiliki motor yang bertenaga 'bandel' dan sedang memiliki kampas rem hampir aus dan ban luar yang tidak mencengkram aspal basah dengan baik. Saya melompat turun ketika motor saya terseret. Namun, kejadian lebih menarik terjadi setelah saya mendirikan motor, menetralkan gigi, dan menyalakan mesin: subjek (pria) yang membuat saya melakukan pengereman mendadak menyeringai dan berkata 'makanya neng, kalo ga bisa ngendarain motor ga usah. hati-hati' ditambah mas-mas yang suka nongkrong ga jelas di keramaian berteriak, seakan baru saja ada tontonan seru dari kecelakaan saya.
Saya yang sedaritadi menolak menatap wajah pria sejak saya jatuh, jadi 'tertarik' menatap. ah, saya tahu, saya melakukan kesalahan: saya berusahan keras menolak melihat objek di saat emosi membuncah, karena memorinya bisa bertahan bertahun-tahun bersama sensasi dendam.
Kala itu, saya memundurkan motor saya. Menghadang motor. Aksi saya ini membuat macet jalan sih, karena jelas-jelas saya menghadang arus kendaraan secara melintang. Mulut saya terkatup rapat saat itu. Saya sempet berkata begini ke pria: 'apaan? tadi lu ngomong apaan?' sambil senyum-senyum. Keliataannya sih senyuman saya agak menyebalkan. Kan, default wajah saya emang jutek dan senga. Dari detik itu, saya melihat detil dan mengingat secara detil perubahan ekspresi pria. cih, wajah kayak anjing ketakutan: merasa salah, tidak mengakui salah, merasa benar, tidak mau mengakui benar, dan terusik harga dirinya. Roma wajah yang sama dengan orang yang saya puas usik nuraninya karena memfitnah saya: Rahmad Suyudi. Dengan gelagapan, frasa kata keliru, dan artikulasi 'ngegerendeng' Pria melancarkan kalimat yang menyudutkan saya.
Ya, saya salah dalam berbagai kondisi. Hanya saja saya bukan wanita kalem, lemah hati, dan banyak omong. Saya diam ketika sudah berada di puncak emosi (apapun emosi: marah, bahagia, sedih, mumet). Saat pria melancarkan frasa-frasa tuduhan, saya melihat dalam-dalam mata. Tahu apa yang terjadi? saya mampu masuk ke dalam dunia pikiran pria. Indigo things. Perawat? dia bekerja di rumah sakit atau klinik. Sisi lainnya: Penjahat, sama seperti peneror tukang servis pompa bernama Ujang.
Sekejap saja, hati saya panas karena ingat dengan segala emosi yang saya simpan karena tindakan Ujang. Masih dengan menatap mata pria, tangan kiri saya terkepal dan melambung. Berharap menghajar wajah penjahatnya. Tapi apa daya, dia memakai helm full-face, ck ah. Kalau saja tidak ada helm tersebut, kayaknya hidungnya sudah bengkok. ahahaha, tapi saya ga benar-benar sejahat itu kok, justru karena dia pakai helm, makanya saya tonjok. Semoga saja kacanya tidak sampai retak.
Sekilas saya lihat wajah terkaget-kagetnya. Saat ingin melambungkan tonjokan kedua, saya ingat tujuan saya yang masih banyak dan merasa akan tidak ada manfaat tinju kedua ini. Saya menarik tangan saya, lagipula wajahnya sudah ketakutan begitu. Saya memantapkan duduk, melotot ke pria.
Tangan pria melambung serampangan ke udara, kemudian dia menampar saya dengan tangan kanan. Kena helm sih, tapi helm saya bukan helm full-face seperti milik pria. Tamparan pertama membuat saya ingin membalas tamparannya.
Jangan menutup mata, katup rahangmu, bernafas, kepal dan kuatkan kuda-kuda, tegapkan tengkuk.
Saya sudah menangkis tangan kanan pria di tamparan (nyaris) kedua dengan tangan kiri saya. Saya mungkin keliatan melotot. Bapak Ojek pangkalan sudah berteriak, dan tukang nongkrong yang meneriaki saya juga sudah berteriak; beberapa langsung berlari mendekati kami.
Mungkin mata saya tidak sengaja melotot saat itu; alih-alih menolak menutup mata. Saya melihat wajah 'harga diri yang terusik' si pria. Melihat ekspresi tersebut, saya langsung menunduk, dan tamparan kedua langsung mendarat lebih keras.
Tunggu sampai reda.
Kalimat-kalimat tersebut berbisik di akal saya. Mungkin itu alter ego.
Setelahnya, bapak-bapak ojek pangkalan, bapak pertigaan, dan tukang-tukang nongkrong yang ambil alih. Ada suara berkata 'awewe ieu' yang saya anggap membela saya, ada pula suara 'awewe yang salah' yang berhenti ketika saya lihat wajahnya lekat-lekat. Pria mulai mengeluh (suaranya mulai bergetar, lebih lama lagi bisa-bisa sesunggukan kayaknya) dan membela diri. Bapak-bapak ojek pangkalan dan bapak pertigaan menyuruh saya pergi saja. Ya, saya pergi saja. Sebelumnya sempat melirik pria dan bergumam 'penjahat banci'. entah apa reaksinya, saya tidak peduli dan saya tidak takut. Tidak tahu, kenapa saya bisa tidak takut saat itu, menimbang saya selalu cemas berlebihan jika berurusan dengan 'pertanggungjawaban ilmu'.
Sekitar sejam berlalu setelah kejadian, saya baru mengabari Ibu. Ketika bercerita kembali kepada Ibu, barulah saya menangis. Bingung dengan tangisan saya ini. Ibu berkata: 'kamu salah nduk dengan menonjok orang itu. wanita tidak boleh mengotori tangan untuk sampah kayak orang itu' ah, ucapan itu lagi. Bukan ucapan itu yang ingin saya terima sesungguhnya, Ibu. Tapi mungkin memang peran orang tua seperti itu. Padahal kala itu, saya berharap respon keprihatinan, ketakutan kondisi saya, perhatian, kepedulian, dan pujian. Alhasil, malah saya menangis. Menangis karena saya mengendalikan sisa-sisa kemarahan saya, terlebih menangis karena menyadari 'lagi-lagi saya harus sendirian menjalani ini semua'
Sempat saya berfikir akan menghubungi Abraham. untuk apa? empati? simpati? menimbang segala hal, akhirnya saya mengurungkan niatan saya. Saya semakin menangis, berusaha bersembunyi dari Mbah kala itu. Saya yang menciptakan kesendirian ini, maka saya sedang menelan salah satu jenis pil pahit kesendirian ini. Sialnya, menangis itu ternyata semakin membuat 'nyut-nyut' di pipi bekas tamparan pria makin terasa.
Tanggal 25, 27, 29 Mei berlalu. Sama buruknya. Kenapa? karena banyak rekan saya menghabiskan kehidupan 25 tahunnya tidak sendiri. Bahkan terbilang mewah. Sedangkan saya sendiri telah kehilangan bunga dan ucapan tahunan dari A, Orangtua dan mas juga tidak ingat sama sekali. Iri? ya, saya telah mengenal pil pahit bernama iri selama setahun kemarin. Miris bukan? ketika saya sedang proses menetapkan 'sendiri' saya tidak mengenal pil iri, setelah sukses 'sendiri' saya mengenal pil iri. ah, tidak usah dijabarkan bagaimana sensasinya. Itu menyebalkan, lebih baik diam saja, dan tidak usah diingat bagaimana sensasi dan detil rasa.
Pertanyaan 'sedang sibuk apa?', 'sampai mana tesis?', 'lho tesismu belum selesai toh?', 'mau ngapain abis ini?' ternyata terasa nyelekit. yaa, kalau dipikir-pikir sih wajar sebenernya pertanyaan itu. Toh, pertanyaan itu kebanyakan keluar dari orang-orang yang jarang melihat aktivitas saya langsung. Mereka ga melihat pergerakan dan usaha saya. Toh, orang-orang yang sering ngeliat saya di kampus bolak-balik setiap hari, malah ga pernah bertanya apapun. Berarti kan terbukti pemikiran saya: 'mereka yang mulutnya jahat itu berarti ga dekat sama saya, hati saya terlalu berharga untuk peduli sama sosok si mulut jahat' Jadi, jaga jarak yuk, dan jawab saja sekenanya.
The Whore lainnya adalah menanggapi ungkapan 'memutar-balikan fakta'. Siapa yang ga mau 'ini', malah ngelakuin 'ini' ke orang yang dibilang 'aku ga mau 'ini''. Nah kan, rumit. Makanya kalau belum siap konsisten sama ucapan, mending latihannya sama orang terdekat dulu jangan sembarang orang. Ujung-ujungnya: 'mereka yang mulutnya jahat itu berarti ga dekat sama saya, hati saya terlalu berharga untuk peduli sama sosok si mulut jahat' Jadi, jaga jarak yuk, dan tanggapin seperlunya aja. Karena sejujurnya, saya pun masih begitu di satu ucapan ke seseorang. Dalam hal apa? ra.ha.si.a
"Tuhan mengharubirumu dari satu rasa ke yang lain, dan mengajarmu hal-hal yang berlawanan. Agar kau memiliki dua sayap untuk terbang"
Pernahkah saya merutuki kehidupan? Pernah. Karena saya bertanya-tanya untuk apa cobaan dan ujian tanpa henti. Karena saya mengenal rasa iri. Karena semakin hari saya merasakan ada perlawanan rasa takut (setelah sukses mengimani bahwa saya takut dengan Allah, dan fallacy). Karena saya masih memiliki rasa cemas berlebihan dan belum bisa berdamai.
Sampai akhirya kemarin lusa, tanggal 2 bulan Ramadhan, saya menemukan bacaan keren di Gramedia. salah satu kutipan terjemahan Rumi. Ya, tidak ada yang tidak berguna dari karya kreasi Tuhan. Tepat.

No comments:
Post a Comment