Betapa banyak mimpi buruk telah saya bangun. Awalnya, mimpi itu hanya berupa mimpi. Mimpi yang merupakan impian. Impian yang saya kejar. Pengejaran yang berakhir kegagalan. Akhirnya, Kegagalan yang menambah rentetan mimpi buruk.
Setelah sekian banyak harapan dan cita-cita. Tidak ada satupun yang terwujud. Saya tidak tahu apa kebenaran dari kegagalan yang menjadi kesalahan. Kemampuan kah? Kesempatan kah? Keberuntungan kah? Sungguh, saya tidak tahu. Saya hanya tahu kalau sebagian diri saya merasakan frustasi, dan sebagian lagi merasakan bebal.
Kebebalan yang jika dirunut dari masa kelulusan SMA. Bermula dari usaha beasiswa monbu, nilai kurang 0,1 point, dan pupus. Dari sana saya belajar bahwa aturan tetap aturan. Itu mimpi buruk saya pertama. Berlanjut hingga Rusia, sampai akhirnya saya memiliki mimpi yang lebih detil. Pernah sekali saya tuliskan di salah satu laman di blog ini tentang mimpi saya yang pupus. Mimpi-mimpi yang bahkan sudah saya tidak ingin mengejarnya. Mimpi buruk.
Kemudian, saya pun meramalkan akan ada 2 mimpi besar saya yang pupus. Manchester, dan nuclear agency. Miris bukan? Ini adalah masa-masa seharusnya saya berada di gerbang impian dan cita-cita. Tapi malah mimpi buruk seperti orang tua renta yang saya dapatkan. Seakan takdir mengatakan bahwa bermimpi itu merupakan dosa, najis, dan hina. Cih, seperti wanita jaman jahilliyah saja.

No comments:
Post a Comment