Daily Life #2


Halo kembali. 

Sekitar 3 minggu lalu, ada kejadian bahwa saya merusak sendal Mbah. 
Ah, lebih baik dimulai cerita dari kondisi Mbah. 

Mbah dan sendalnya itu sulit banget dipisahkan (apalah lebay banget kalimatnya). Sebelum saya datang ke bandung, Mbah sudah punya sendal karet berwarna biru. Bukan sendal bagus dan mahal sih saya yakin. Mungkin kisaran harga 20ribuan yang biasa dijual di pasar kaget di desa. Tapi ya namanya gen keluarga, bukan harga dan merk yang terpatri di kepala kami melainkan kenyamanan dan keterbiasaan. Bener loh, sendal lama Mbah selalu dipakai kemana-mana kecuali ke tempat tidur. Rese sih, tapi yasudahlah, saya mencoba memahami berbagai keterbatasan masa tua. Hahaha. 
Kenyamanan sendal tersebut membuat Mbah terus memakainya sampai sol depan dan belakangnya bolong. Seriusan bolong, ga lebay ini! Yang kanan beneran bolong, yang kiri jadi tipis gitu. 
Eh, di suatu momen, akhirnya saya secara tidak sengaja merobek punggung sendal. Entahlah sekuat apa tenaga saya ketika kejadian tersebut terjadi. 
Mungkin kalau Mbah masih memiliki kalimat, Mbah akan marah ke saya saat itu. Beberapa hari setelahnya (saya lupa berapa hari), saya ngomong akan menggantikan sendal Mbah kalau saya ada rezeki tambahan. Suer, itu asal ngomong. Karena kalau dihitung-hitung, saya tuh harus secepatnya cari kerja biar tabungan saya keisi lagi. Eh, tapi niatan baik selalu punya pintu rezeki tersendiri. Akhir bulan ada pemasukan tambahan. 

Awalnya, saya mau tuh cari mixer yang bisa ngalisin roti. Jadi, uangnya dipakai buat mixer. Pas cari mixer, malah kecantol ngeliat sepatu karet. Berhubung musim hujan, suka kasihan sama si sepatu polo yang kulitnya udah mbleber kemana-mana. Saat sedang lihat-lihat. Keinget kaki Mbah. 

Menimbang-nimbang kontur kaki, cara jalan, kegunaan dan keselamatan kaki Mbah, jadilah saya menggambar sketsa kebutuhan sendal Mbah. Sayangnya, lembar sketsanya saya jadiin pembungkus popok bekas. Eits, tapi sebelum saya jadikan pembungkus popok bekas, sempet saya jadikan bahan obrolan sama Abraham di tiap hari Minggu. 

Reaksi Abraham sih malah ngakak. Saking jelek dan ga berbentuknya sketsa saya mungkin, atau karena ga dapet info mixer yang bisa ngalisin roti. Ah entahlah, pikiran pria memang sulit diterka. Setelah ejek-mengejek, diskusi abal-abal, Abraham bilang mengenai sendal crocs. 
Bukannya saya kudet atau apalah. Tapi ini kesekian kalinya saya selalu buta mengenai merk. Gen saya itu bukan gen yang aware sama nama. Kalau bagus, enak, suka ya take it or forget it. Gitu aja sih jiwa belanja saya. 
Ups, balik ke crocs. 
Jadi, Abraham bercerita tentang sendal rumah yang nyaris mirip dengan skets saya. Dia ngasih kata kunci berupa merk dan seri model. Alhasil buka si googel, melihat website resmi, google image. Ah, seri lama keliatannya. Seharusnya ada yang murahnya kalau gitu. 
Ternyata, nyari yang harganya 20ribuan susah bukan main. Bahkan ga dapet. Hahaha. Lagipula, setelah mengorek ingatan, rasanya di Lippo ada outlet crocs. Lantas saya hubungilah Herta, monta tolong gitu. 
Terus Herta malah kasih screen-shoot tokopedia. Fine, kenapa ga kepikiran yah? Ujung cerita, sekitar hari senin kemarin saya pesan dan bayar, hari ini barangnya sampai! 

Bukan karena barangnya ada sih yang bikin saya terkesan. Ketika paket jne datang, Mbah kebetulan lagi kongkow gitu di teras (najis amat diksi saya. Efek malam ini). Saya terima, terus saya buka di samping Mbah. Perlahan-lahan saya jelaskan tentang sendal dan janji saya. Terpatri gurat senyuman bahagia kecil. Guratan senyuman itu melebar ketika saya membatu memakaikan ke kaki Mbah. 
Ah, saya mendapat kalimat dari dahi Mbah: "hadiah dari cucu". 
Uuuuuuhhhhh 😚😚😚😚😚😚😚😚. Saya paham sensasi ini. Sama rasanya seperti dapat hadiah dari Zulaeha. Membahagiakan. 
Puncaknya adalah ketika saya bertanya: "nyaman ga Mbah sendal barunya?" Dan Mbah mulai menggerakan bibirnya (reaksi kecil ini saja sudah membuat saya bahagia), dan menjawab "nyaaa.man"
Oh my GOD. Puji Tuhan Pemilik Semesta Alam. Ada tambahan satu kata baru dari Mbah!! 

Bagi Mbah mungkin kebahagiaan berasal dari hal kecil berupa perhatian yang disampaikan dalam bentuk sendal karet. 
Bagi saya kebahagiaan pada momen tersebut berupa kemajuan yang disalurkan melalui satu kata "nyaman". 

Pada akhirnya, Mbah kembali tidak terpisahkan dengan sendal karet barunya. Bahkan kalau bukan karena saya yang memaksa, mbah akan memakai sendal tersebut saat tidur di atas kasur. 

Sekian tulisan sederhana kali ini. Mbah dan sendal karet baru. 

No comments:

Post a Comment