Beberapa manusia di dunia mungkin memiliki kelebihan. Seperti pernah berada di dalaam dimensi paralel yang lebih tinggi dari normalnya (bisa disebutkan dimensi tiga atau langit ketiga). Sehingga manusia diberi kesempatan "mencicipi" kemungkinan masa depan yang paralel sesuai tingkatan indra.
Saya pernah menuliskan kata-kata begini di cerita time revelation: "manusia bisa diberitakan kejadian masa depan, kesan yang didapat paling 'ah, bualan'. Padahal berita masa depan bisa dijadikan alasan, tapi tidak mudah jika dibicarakan ke banyak khalayak alasan tersebut. Penyebab mudahnya adalah batasan".
Ya, batasan. Batasan dalam berbagai bidang. Seperti: saya telat menghadiri pertemuan, kalau pertemuan main biasa, saya bisa jabarkan banyak alasan; tetapi kalau pertemuan penting, saya memilih menanggung akibat dan resiko dengan diam dan hanya berkata "maaf atas keterlambatan saya". Batasan dalam hal ini karena saya menghormati acara dan pemilik acara; dunia profesional bukan dunia yang membutuhkan simpatik berlebih, maka jangan mengundang simpati lebih datang. Mungkin pakai AS boleh lah. Tapi batasan yang saya miliki selalu hancur dengan pertanyaan yang terlontar. Jika pemilik acara bersikeras bertanya "alasan", maka saya menjawab. Jujur? Jelas harus jujur. Sepahit apapun alasannya, dan penanya ((kalau waras)) harus menerima alasan pahit tersebut. . Take the risk or leave the cause.
Kejadian terdekat adalah ketika saya menaikan nada suara ketika berbicara kepada paman saya. Hal tersebut menyakiti hati paman saya; itupun disampaikan oleh ibu. Saya meminta maaf karena sudah meninggikan suara. Hanya itu batasan ucapan maaf saya. Saya tidak melontarkan alasan apapun., ataupun buntut maaf jenis lain. Bagi saya, Ada beberapa jenis maaf yang tidak pantas dimintai maaf. Itu bukan keangkuhan tetapi perlindungan jati diri sensiri. Ibu tetap menegur saya karena itu (bagi ibu, saya harus maaf dalam segala hal dikejadian tersebut), dan memarahi saya karena tidak menyampaikan alasan. Dengan tegas, saya menolak. Selesai begitu saja? Jelas tidak, ibu tidak terbiasa dengan penolakan, tetapi saya membawa jati diri dan kekukuhan. "Sukma ga punya kewajiban atau jalur benar untuk meminta maaf atas usaha sukma menambal kegagalan peran paklik-tik (nama paman saya). Lagipula paklik-tik ga ingin menanyakan alasan atau pertanyaan. buat apa kalimat panjang untuk manusia yang sedang menyumpal telinga"
Juga sama kejadiannya jika ada manusia ((atau bahkan saya sendiri)) yang memberitakan masa depan saya. Sampai sekarang saya hanya bilang: "ah bualan. Bagaimana bisa? Terus kenapa kalau nanti saya begitu? Kalau saya tahu pun, memang saya boleh berleha-leha sekarang? Saya tahu itu pun, apa gunanya kalau saya tidak punya kemampuan, kesempatan, juga keberuntungan?"

No comments:
Post a Comment