Selamat siang pembaca.
Hayo tebak gambar buram apa yang ada di atas paragraf ini.
Yap, gambar screen-shoot. Benar sekali! Lebih tepatnya adalah gambar screen-shoot tugas terakhir perkuliahan!
Aaahh rasanya selesai ujian presentasi dan buat makalah di kelas nanosains dan nanoteknologi menjadikan kuliah penutup sebagai kuliah terindah yang pernah saya ikuti. Bayangpun! Kuliah terindah selama nyaris 6 tahun mengalami masa perkuliahan!
Proses belajarnya yang enak, dan terlebih lagi ((yang juga tumbenan)), saya bisa totalitas dalam perkuliahan!
Dimulai dari kesan pertama perkuliahan yang begitu membuka pandangan, wawasan, dan aplikatif. Dosen pengampu: pak Ahmad Nurrudin memang cerdas banget. Membuat saya merasa rugi kalau ketinggalan satu pertemuan dari beliau. Selain itu, membuat saya merasa rugi kalau tidak mempersiapkan diri dengan membaca diktat dan menambah informasi bahasan sebelum kelas dimulai. Berasa harus lari sprint 100 meter! Wahaaa, yang barusan hiperbolik aja.
Oleh sebab itu, sebelum kelas dimulai, pasti saya ngeprint diktat beliau yang mudah sekali diakses. Kemudian di kelas, saya merekam suara. Sepulang kuliah, saya pasti ngantuk. Sumpah, hari kelas beliau adalah kuliah estafet yang selalu nguapin cairan di otak saya. Berasa mendidih gitu. Hahaha. Tapi saya tiap malam sebelum tidur ((kira-kira sesudah baca updatean webtoon)) suka putar rekaman kuliah kok. Ga penting didenger seksama atau malah suara nina bono. Cuma karena Abraham menyarankan begitu, jadi saya ikuti saja sarannya bulat-bulat.
Tugas kuliah beliau sebenarnya susah-susah-gampang. Kalau susah ya wajarlah, karena pak Ahmad sudah mentransfer banyak ilmu dengan sangat baik dan menawan perhatian ((sejauh ini, charming beliau begitu berwibawa)). Gampang karena semuanya tergantung dari mahasiswa mau memasukan hingga yang kompleks atau tidak.
Kebetulan, teman kelompok saya adalah mahasiswa s3. Semacam ga bisa main-main gitu. Satu orang seumuran mas, namanya Bang Razak, dari cerita Dessy beliau dosen muda di universitas lampung ((apa bengkulu yah? Apa bukan keduanya??)). Satu lagi seumuran saya namanya Dessyana O. Margareta, tahun kemarin saya satu kuliah di kelas karakterisasi material, ketika itu Dessy masih mahasiswa s2 kemudian dapat beasiswa semacam fast-track. Bang Razak sudah tingkat 4, jadi sudah sibuk disertasi, penelitian, ngintilin professor. Dessy dari nim kelihatannya tingkat 2, dan lagi stress banget sama proposal disertasi. Hiks, hiks kasihan dia. Setiap kali ketemu, kantung matanya selalu tambah kereng. Diantara kami bertiga, Dessy itu giat banget sampai gampang panik. Karena merasa mendapatkan kebaikan dari mereka berdua, saya berusaha mengejar ilmu mereka ((jelas dong mengejar, mereka berdua lebih berwawasan dibanding saya)). Yang bisa saya lakukan ketika itu hanya mencerna kasus dari Pak Ahmad, dan mencari paper yang apik.
Materi kuliah juga multidisiplin banget. Dari fenomena gelombang, hingga tahu sedikit tentang DNA. Sempat bersyukur saya sempat tertarik banyak tentang DNA dan memiliki jurnal Papa Dhany. Menolong sekali. Terus tugas final yang kami ambil itu mengenai quantum dot(QDs). What!? Makhluk apa itu?? 😲. Kira kira tahun lalu waktu di kelas pak Bambang, saya membatin begitu. Di s1? BAH, saya termasuk pemalas di dunia s1; cuma aja kuliah bu Faridah di kelas elektronika tentang semikonduktor sangat berkesan ((salah satu yang dapat nilai A di ambilan kelas pertama)). Hahaha. Baru diberi pengantar mengenai QDs di kuliah pak Ahmad. Pak Ahmad banyak menjawab beberapa rasa penasaran saya secara tidak langsung.
Pas hari ujian presentasi, kampret lah itu. Saya gugup bukan main. Berkali-kali saya muntah kering gitu. Biasanya kan Dessy yang panik, pas hari ujian presentasi, Dessy yang paling santai. Bukan main lah kemampuan mahasiswa s3 ((ngebuat saya makin ga mau ngelanjutin sekolah ke jenjang lebih tinggi)). Kemampuan presentasi mereka itu lhooooooo... Bagaikan menghipnotis satu kelas. Bang Razak apa lagi, bukan main kemampuan komunikasinya. Saya sampai ternganga di balik layar. Singkat cerita, bagian presentasi, saya paling ecek-ecek lah dalam komunikasi. 😫😫. Kalau nilai presentasi kelompok jelek, itu pasti karena saya keliatannya.
Sebagai penutupan kelas, pak Ahmad memberikan banyak wejangan. Banyak. Banyak sekali. Tapi malas saya tulis di tagar ini, karena ga jadi sederhana tulisan ini. Perpointnha saja bisa dikatakan: (1) perbanyak membaca, (2) biasakan berdiskusi, (3) buka jaringan di luar. Aaaah, bijak sekali beliau. Selama 1,5 tahun di sini, cuma beliau yang bisa menutup kuliah dengan mengesankan. Di akhir kuliah ((yang bener bener terakhir di kisah perkuliahan saya)), saya menemukan dosen dan juga sosok guru yang layak dijadikan panutan.
Ah, lagi dan lagi saya bertemu sosok yang bagus di akhir kisah. Ck, terimakasih pak Ahmad. Terimakasih Dessy dan Bang Razak. Semoga segala kemudahan dan kekuatan kehidupan menghujani kalian.
Banyak manusia yang tidak sempurna di dunia ini. Tetapi ketidaksempurnaan membuat manusia tidak sempurna berkumpul untuk saling menyempurnakan. Asalkan didasari satu landasan dan tujuan yang sama. Ikhlas dan melakukan yang terbaik dalam menuju tujuan, saya rasa itu adalah makna dari kerjasama dalam sebuah kelompok.
Okay. Sekian tulisan kali ini. Salam Quantum Dots (apalah penutup ini). 😓😪


No comments:
Post a Comment