Tepat jam 1 pagi di tanggal 13, syawal 13, bulan purnama pertama.
Banyak keinginan muncul di sepanjang bulan juli ini. Keinginan mau memulai bisnis nyata lah, secepatnya naik ke tahap penelitian selanjutnya lah, mendapatkan awal karir di organisasi internasional lah, merombak interior rumah lah, makan bakso lah, makan mie ayam lah, makan cordon bleu nya steak ranjang lah, makan pizza lah. Halah, ga penting banget yg ada awalan itu.
Di balik segala keinginan itu, ada keinginan yang hilang, yang kerap kali muncul dulu: pergi menjelajah. Sepertinya 2 tahun menekuni kehidupan domestik rumah telah memadamkan hasrat berpergian. Tidak sekalipun saya giat menanggapi rencana ataupun ajakan perjalanan. Relatif, jawaban hanya diam dan senyuman. Bukan sekedar tidak mau dibilang omdo, tetapi hasrat itu benar-benar hilang. Bahkan hanya untuk menemui Abraham di bandara pun sudah tidak menggairahkan. Abraham tidak berkomentar apapun tentang penolakan saya yang selalu dimulai: "akankah kamu baik-baik saja jika aku tidak hadir di bandara?". Mungkin saja Abraham sedang menangkap bahwa saya serius mengakhiri (lagi dan lagi) hubungan kami. Oh Abra, sesungguhnya iya tetapi bukan itu dalam hal ini. Saya pun belum ada kesempatan menjelaskan ke Abraham, meskipun Abraham sudah sempat ke rumah Sabtu kemarin dengan dalih mengecek ekspresi. Ah sudahlah.
Tidak usah berduga-duga, akhir pekan kemarin memang adalah masa chaos fikiran saya. Chaos fikiran dalam kamus saya ditandai dengan kesulitan tidur, kesulitan bangun pagi, frekuensi migrain berlebih, pegal-pegal, dan terparah adalah tipes. Mungkin 2 minggu setelah periode, berefek kerunyaman fikiran. Bisa jadi pula, Tuhan selalu menguji kehidupan saya dengan hal yang sama dalam periode dekat. Karena saya terus gagal di tiap periodenya, jadi ujiannya sama terus. Hahaha, menyebalkan memang.
Hingga akhirnya terdapat Antiklimaks, yaitu malam ini. Padahal sudah berkali-kali pula saya selalu terselamatkan kesadaran saya oleh yang namanya "Dialog" dalam Sholat. Berkali-kali saya lalai. Di saat Surya Agni bekerja untuk bumi, saya selalu terbisiki (oleh pikiran saya tentunya) "bersujudlah tiap kali mengingat Tuhan", "ayo suk, sujud suk, sujud", tapi tetap saja saya bebal. Kebebalan tersebut membuat saya ingat akan hasrat balas dendam menghajar dan menyiksa beberapa pria yang mengganggu ketenangan hidup saya masa lalu, ingat rasa kesal kepada ros, ingat rasa iri kepada kehidupan beberapa kerabat wanita saya, dan terakhir (yg paling menyesakan) adalah mengembangkan kerinduan saya kepada Agni abadi saya. Sesat memang tuh yang namanya emosi, ckckckck. Antiklimaks berlangsung tepat sebelum saya menulis laman ini, tepatnya setelah "berdialog dalam sholat".
Ada banyak dugaan terbentuk untuk menghibur saya sendiri. Salah satunya: "mungkin Tuhan bukan lagi memberikan ujian kehidupan sekedar 'pernah mengalami', sekarang Tuhan sedang memberikan ujian kehidupan untuk menempa makna dari kualitas kehidupan". Hasrat yang hilang bisa jadi sebenarnya bibit kebaikan kemudian hari. Ah hidup, terlalu banyak yang layak disyukuri. Jika setiap detiknya kehidupan layak disyukuri, apakah wajib bagi manusia terus bersujud? Jika sujud adalh perlambangan usaha ibadah ke Tuhan terjadi tiap detiknya, bagaimana dengan usaha ke manusia? Perlukah kehidupan merujuk ke luar batas normal kemanusiaan? Ahh, tampak sekali bahwa landasan kehidupan saya masih dangkal.
Tuhan, saya rasa saya membutuhkan lebih banyak dongeng mulia.
Eh, Tuhan, tidak ketinggalan pula: saya butuh seorang Guru dan panutan. Tidak enak ternyata berada diombang-ambing setelah ketidakhadiran Papa Dhany. Hm, kalau bisa sekalian paket lengkap seorang imam.
Tuh kan, bulan ini banyak maunya.
Sekalian juga, sosok Surya Agni saya cepat dipertemukan, didekatkan, dan dispontanitaskan.
Sssst, sudah ah. Hep.


No comments:
Post a Comment