A thousand question #47


"Benarkah kecenderungan manusia hanyalah mendengar, melihat, meraba, mencium, melidah?" 

Selamat siang. Tulisan ini ditulis setelah saya memotret diri saya seperti gambar di atas. Di tengah rasa menunggu, bosan, dan jengkel (karena aliran listrik hot plate terus dicabut). 

Hampir 3 bulan saya melakukan penelitian di Batan. Yep lingkungan baru lagi! Keluh kesah lagi? Nope. Lama kelamaan saya terbiasa. Kuncinya: terbiasa, lovely, senyum, jangan mengajak orang lebih dekat ke dalam kehidupan pribadi, berbaur seperlunya, menunduk ketika di luar jangkauan, dan sopan. 

Ada sebuah pengamatan dari fakta pasti yang selama ini saya lewatkan. Fakta tersebut adalah mayoritas manusia hanya berkutat dalam indra. 

Okey, saya tidak mengutip ucapan pak Haryono mengenai "banyak manusia hanya melihat, tidak membaca. Yang membaca, tidak memahami", atau ucapan papa Dhany "ayok dik, berusaha dengan kepemahaman hingga esensi hikmah tercapai". Ada kutipan bagus di dalam buku terjemahan dan tafsir Al-Hikam yang baru kubaca seperempatnya "manusia terlalu bangga dengan keinderaan, mereka melupakan esesnsi dari kemaknaan"

Okey. Bagi seorang pengamat, pada awal menemukan fenomena mereka melihat-mendelik-menganalisis-memahami. Begitu juga peneliti, dimulai dari fokus masalah-membaca literatur-menganalisa literatur-menyimpulkan. Bagi seorang ahli gastronomy, mereka merasakan bumbu-menganalisis padua, takaran, campuran, senyawa biokimia-eksekusi-voilaaa! Makanan!! Sama halnya dengan composer, pemahat, dan para ahli lain. Segala hal menuju satu: menganalisa-memahami, hingga akhirnya mengekstrak pemahaman baru. Di sela-sela proses panjang pastilah mencapai karya. 

Singkatnya, ya manusia bangga atas keinderaan mereka. Mengagungkan keagungan indra dalam bungkus nama dalil logika. Hahaha itu membuat saya tertawa keras. Kemudian para penyembah logika tersebut menyebut manusia lain, yang mampu membaca emosi orang, yang mampu meneruskan kalimat orang terputus, yang mampu meneruskan persamaan matematis tidak terselesaikan, yang mampu mengungkap hal baru setelah mengumpulkan banyak data berbagai bidang, sebagai manussia illogical, phsycopath, sociopath, pseudo-science, tolol, idiot, klenik, indra keenam, dukun, sesat dan lain sebagainya. Oh, di saat beginilah saya setuju dengan larangan bersikap arogant. Dalam pandangan saya, justru orang-orang seperti itulah yang terbutakan oleh indra. Belum mampu melampaui keindraan hingga menyerap esensi kemaknaan. Yah, kalau Sherlock holmes bilang: "you see! You just don't observe"

Hanya saja saya pun hidup dalam naungan celotehan bapak yang sangat salafi. Bapak sendiri selalu bilang "kamu jangan mencoba melogikakan agama dan Allah", "Al-quran jangan ditafsirkan, dosa kamu nanti", dan jenis ucapan lainnya yang sangat sarat drngan ancanman. Tidak cocok? Ya begitulah. Saya menemukan sendiri bagaimana memaknai esensi ketuhanan. Dan sungguh, singularitas sesungguhnya adalah Tuhan, dan saya sulit mencapainya karena pada akhirnya sulit ditangkap dengan indra. Dalam hal ini, saya benar-benar manusia yang banyak sekali batasan (hijab). Kembali ke bapak, setiap ucapan bapak adalah doktrin bagi saya; maka saya menganggap bapak seakan majikan saya, dan doktrin adalah aturan. Saya melanggar aturan, asalkan tidak ketahuan saya tidak tertudih melanggar. Padahal sebenarnya, ya ga bisa begitu juga. Hanya saja ada pertentangan di dalam saya. Bagi saya bagaimana saya bisa menenangkan permukaan saya dan mampu menularkan ketenangan ke luar diri saya kalau saya bahkan tidak mampu berdamai dengan ketenangan di dalam diri saya. Hal tersebut lah yang mendorong membangun berbagai jembatan nurani, akal, hati. Yang kalau secara istiadat, ya saya melanggar. 

Itulah mengapa saya memulai prmahaman karakter jahat. Baiklah, pada akhirnya saya menganggap bahwa jahat adalah relatif. Jika, manusia hingga pada titik tertentu tidak mampu berbuat totalitas baik, akan lebih mudah jika berbuat jahat. Orang jahat dalam ranah ini merupakan orang jahat dalam aksi. Seperti: "meledakan tanah kosong", "meluluhlantahkan bangunan tua tidak layak huni dan kosong", "meracau jaringan sistem yang terlihat oke tetapi rapuh", "meneror manusia munafik", "memiskinkan manusia yang tidak punya tujuan", "membangun robot yang bisa menjadi pisau bermata dua: melindungi dan membunuh". Ah, if you know what I mean. Jahat dalam aksi tetapi sesungguhnya mereka tidak sampai mengambil nyawa, menebang pohon, melukai betina dan anak, tidak berbohong, dan yang terpenting tidak munafik. 

Kecenderungan manusia memandang satu sisi sesungguhnya dalam pandangan saya adalah tindakan sombong, dan tolol yang sesungguhnya. Hanya saja, saya pun berada dalam lingkungan yang mayoritas seperti itu. Mentransformasi diri saya dalam batas norma tertentu yang hanya mampu saya nikmati. Analoginya: lingkungan saya  adalah batu; saya pun batu, saya adalah batu terlihat dari luar tetapi saya dalam diri saya adalah batuan keras dan jauh lebih berharga karena mencoba banyak kandungan mineral batuan lain yang sama tetapi berbeda dari batuan lain ataupun dari tampilan luar saya.
Ya, semacam itu lah. 

Tetapi balik lagi, saya hanya menikmati itu di dalam diri saya sendiri. Tulisan inipun sesungguhnya tidak layak dipublikasikan.

No comments:

Post a Comment