A Thousand Question #48

"Bagaimana tindakan seharusnya jika terjebak?"

Buatlah pertanyaan, dan bertanya! 

Bersambung dengan tulisan Daily life sebelumnya. Dengan jujur, saya masih bertanya-tanya apakah keberpihakan saya sudah benar? 

Pada akhir cerita, pesta demokrasi 411 yang saya puja tersebut berakhir dengan anarki. Tepat setelah pukul 18.00 wib, setelah sholat magrib, selepas pertemuan berlangsung. Kecewa? Ya. Ikut terbawa emosi? Tentu. 

Ditambah publikasi berita semerawut di umpan rumah media sosial. Provokatif? Yups. Sangat. Yang sudah berestimasi negatif dari awal, sempat terdiam selama pesta demokrasi 411 berjalan samtun, bersuara. Tentu dengan pendapat menyakitkan bagi pendukung pesta demokrasi 411. Di lain pihak, pendukung pesta demokrasi 411 memposting fakta kebenaran lain yang tidak tersoroti. 

Sedih dan kekecewaan pin menyelimuti. Bagaimana tidak? Saya sudah berekspektasi kebaikan atas pesta demokrasi 411 seperti yang sudah saya jabarkan sebelumnya, tetapi banyak kenalan saya (bahkan notabene nya: "saya amat menghormati pemikirannya") bahkan kami pun seiman, justru ikut menyebarkan fakta yang memperlihatkan keburukan saja, tidak melihat fakta kebaikan sama sekali!! 

Ketukan pertama muncul ketika pasangan salah seorang kenalan saya memposting dukungan tibdakan Presiden yang melakukan kunjungan kerja. What!? Are you lost your mind? Alasan logika nya tepat: "lebih baik kerja melakukan hal yang bisa ditunai di masa depan". Ketukan kedua datang dari pernyataan sang pasangan, yaitu Saju. Berkata dalam ungkapan: "marah sih Al-Quran dinistakan begitu, tetapi kemarahan kan bisikan setan. Justru kalau ikut marah dan melakukan kerusakan berarti kemenangan setan." Bagaimana pun juga saya tertampar dalam konteks bagus. 

Apakah saya marah? 
Ya, saya sedih, dan kecewa. Saya sedang terbelenggu emosi. Pikiran saya berkabut. 

Sudah saatnya menundukan emosi dengan logika. Mencari kebenaran. Bagaimana? Diantara bertebaran informasi, yang saya lihat adalah adu domba. Itu saja. Siapa? Apa pertanyaan pembuka? Apa yang awal kesalahan? 
Merunut kronologi peristiwa, kesalahan tujuan dimulai setelah masa melebihi waktu peraturan. 
Bagi banyak pelaku akademis mungkin sering merasakan kelimbungan seperti ini. Terjebak dengan ketidakpahaman tetapi bingung kalimat ugkapan. Membuat pertanyaan saja tidak mampu, apalagi bertanya pada ahli tepat. Padahal ahli yang dimaksud adalah kerabat sendiri! 

Dalam kasus saya jabarkan sekarang, saya memiliki Ibu. Intel ibu di lingkungan keagamaan memang sedang solid akhir-akhir ini. Bertepatan kepergian saya akhir pekan ini, saya bertanya "apa yang terjadi setelah malam datang di 4 November, bu?" Dengan entengnya ibu menjawab "orang-orang yang punya perut panas beraksi" saya hanya tertawa dengan ungkapan ibu "tapi di sana kan ada ulama dan habib juga", "ya kan, ulama dan habib juga ada yang perutnya panas. Demo yang masih benar ya saat siang aja. Yang masih lurus sama tujuan. Kan kamu lihat sendiri ada ulama yang ga menghargai arti kehidupan manusia (maksudnya ibu, ada salah satu habib yang berhasrat membawa kepala tokoh penista kitab suci). Yang kayak begitu (maksud ibu, ulama panas) justru harus ditangkap. Tujuan demo kemarin kan jelas memohon kejelasan dan keadilan hukum buat Ahok. Bukan sayembara pembunuhan" 

Yaps, begitulah. Memisahkan objek demi objek agar menyenter fakta-fakta. 

Pesta demokrasi 411 tidak salah karena tujuan adalah menuntut keadilan dan tindakan hukum bagi tokoh penista kitab suci. Pemantik emosi dan perpecahan lah yang harus ditindak tegas. Yang menginginkan pembunuhan juga sama hina dengan para pemantik emosi dan perpecahan. Yang menuduh pesta demokrasi 411 sebagai taktik pilkada (sempat diungkapkan oleh pasangan pilkada penista kitab suci) juga termasuk bagian hasutan. 

Hingga titik ini, saya berhasil menundukan keinginan mencampur adukan fakta realitas dengan emosi. Okey keduanya sama sama memiliki nilai fakta, tetapi memisahkan realitas dan emosi bukan hal mudah tetapi juga tidak sulit jika pikiran bersih. 

Kemanfaatan dalam bertanya pada person lain, terutama yang ahli, yaitu penyelesaian -setidaknya- kabut pikiran. Melihat sisi lebih luas. Ide dan pembacaan sudut lain. Menyenangkan bukan? 

Salam pesta demokrasi 411. 

No comments:

Post a Comment